Posted by rampak naong - -

adaptasi dari kompasiana
Kecerdasan otak (IQ) bukan segalanya. IQ diyakini hanya menyumbang 20% bagi kesuksesan seseorang. Kecerdasan emosi (EQ) dan lebih-lebih kecerdasan spiritual (SQ) adalah dasar yang paling kokoh untuk menjadi landasan kesuksesan. Hal ini bukan omong kosong. Pengalaman hidup tetangga saya –rumahnya hanya berjarak 50 meter di sebelah barat rumah saya—menjadi bukti bahwa EQ dan SQ adalah kunci kesuksesannya.

Namanya bapak Shiddiqi. Usianya 42 tahun. Hidup bersama seorang istri dan 3 anak. 1 perempuan (saat ini baru semester 1 di perguruan tinggi pesantren besar di jawa timur), 2 lagi laki-laki (anak kedua baru kelas 2 MI dan sekelas dengan anak saya dan yang bungsu baru berumur 1,5 tahun). Istrinya seorang guru TK yang saat ini nyambi kuliah di perguruan tinggi swasta di Sumenep.

Bapak Shiddiqi hanya lulusan MA di sebuah pesantren kecil di desa saya. Pendidikannya seluruhnya di madrasah sejak MI, MTs, dan MA. Waktu sekolah dulu, ia kakak kelas saya. Di sekolah ia tidak termasuk anak pinter. Di MI saja ia 3 tahun tidak naik kelas. Terus di MTs 1 tahun tidak naik kelas. Jadi, pengalaman pendidikannya terhitung 4 kali ia tidak naik kelas. Soal rangking, jangan di tanya. Ia tidak pernah masuk 10 besar. Bahkan ia di urutan buncit dari 30 siswa di kelasnya.

Tapi saat ini, bapak shiddiqi termasuk orang yang sukses dalam usahanya. Ia termasuk 3 orang terbesar sebagai distributor buku di kabupaten Sumenep yang penghasilan bersihnya sekitar 36 juta setahun. Jadi rata-rata penghasilannya sekitar 3 juta/bulan. Belum termasuk bonos sekitar 10 persen dari total penjualan yang ia terima dari perusahaan. Hidup di sebuah desa kecil dengan pendapatan seperti itu, sudah jauh lebih dari cukup. Malah terhitung sebagai orang kaya baru (OKB). Belum termasuk dari usaha lainnya, seperti beberapa bidang sawah yang menjadi lahan pertanian.

Awal Mula Menjadi Distributor

Tahun 2003 ia diajak sahabatnya menjadi sales sebuah perusahaan buku (kebanyakan buku LKS). Selama 2  tahun ia bekerja sama sahabatnya itu. Setiap hari ia naik motor menjajakan buku dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Selama itu pula ia hanya mampu menjual buku sekitar 1.500-2.000 eks. Soal hasil ia bilang tidak ada. Paling banter impas. Karena laba bersih yang ia terima dari penjualan buku hanya Rp. 300/eks. Jika 2.000 eks berarti ia hanya memperoleh 600 ribu/semester.

Tetapi, menurut bapak Shiddiqi, meski ia tidak memperoleh keuntungan secara meteri, ia telah memiliki pengalaman dalam membuka pasar, bergaul dengan banyak orang, memperluas jaringan dan pertemanan sesuatu yang ia yakini akan menjadi modal kesuksesannya suatu saat nanti.

Tepat tahun 2005 sahabat yang mengajaknya ternyata tidak amanah. Sahabatnya di black blist sama atasannya karena tidak jujur. Dan oleh atasan bapak shiddiqi diminta untuk mengganti. Jadilah bapak shiddiqi sebagai orang kedua dari sebelumnya sebagai orang ketiga dalam mata rantai distribusi buku. Berkat ketekuannya, hingga tahun 2008, bapak shiddiqi mampu menjual 30 ribu eks. Jadi penghasilan bapak shiddiqi ikut naik, 30 ribu x 300 = 9.000.000/semester. Setahun ia memperoleh laba bersih sekitar 18 juta.
2009 Mulai Mandiri

Tahun 2009, ketika distributor buku dimana ia bekerja mulai kurang sehat, ia banting setir. Ia coba menjadi distributor secara mandiri. Ia pun mendatangi  4 penerbit buku di Solo sambil membawa sertifikat tanah sebagai jaminan. Berkat usahanya yang tidak kenal lelah ia pun dipercaya sebagai distributor buku oleh perusahaan. Bahkan, karena kejujurannya, sertikfikat tanah yang ia titip di perusahaan sebagai jaminan, dikembalikan sendiri oleh perusahaan. Saat ini bapak shiddiqi bekerjasama dengan penerbit buka atas dasar kepercayaan.

Menjadi distributor secara langsung menjadikan usaha bapak shiddiqi terus berkembang. Saat ini bapak shiddiqi mampu menyuplai buku hingga 60 ribu eks ke 100 lebih sekolah/madrasah. Tidak saja di kabupaten Sumenep, tetapi juga ke kabupaten lain. Bahkan meluas hingga kabupaten di pulau jawa. Dalam setiap eksnya, bapak shiddiqi memperoleh laba bersih 300 rupiah. Jadi 300x60 ribu = 18 juta/semester. Satu tahun berarti ia menerima 36 juta, belum termasuk bonus sebesar 10 persen dari perusahaan.

Kunci Sukses Menurut Bapak Shiddiqi

Ketika saya tanya apa rahasia sukses usahanya. Menurutnya ada beberapa hal untuk sukses :
  1. Tekun dan istiqamah. Ketekunan dan istiqamah mensyaratkan kesabaran, pantang menyerah, dan tidak kenal putus asa. Menurutnya, usaha harus focus dan tidak bercabang-cabang. Dan itu harus terus dilakukan secara istiqamah, meski pada awalnya harus merugi atau impas.
  2. Jujur dan amanah. Kepada relasi, menurutnya ia tidak pernah ingkar. Ia selalu menepati janji. Sekali tindakan kita curang, menurut bapak shiddiqi, orang lain tidak akan percaya.
  3. Menjaga kepuasan pelanggan. Menurutnya, salah satu usahanya berkembang tidak lepas dari usaha dia untuk menjaga kepuasan pelanggan. Jika ia berjanji besok buku akan dikirim, maka besok ia akan mengirimnya. Jika pelanggan memesan buku yang kebetulan stoknya habis, bapak shiddiqi akan menelpon kepada penerbit/distributor lain untuk mengusahakan buku ada. 
  4. Selalu mau belajar dari orang lain. Menurut bapak shiddiqi, kesuksesannya usahanya tidak lepas dari teman-teman dan pelangganya yang selalu dimintai saran dan sumbangan pemikiran.
  5. Menganggap pelanggan bukan sekedar pasar, tetapi manusia. Maka bapak shiddiqi bukan hanya komunikasi ketika ada kepentingan bisnis. Tetapi ia terus menjalin komunikasi di luar kepentingan bisnis seperti berkunjung ke rumahnya, menjenguknya ketika sakit, ngobrol akrab di luar bisnis, dan membantu ketika pelanggan ada kesulitan. Sebagai tetangganya, saya tahu sendiri, bapak shiddiqi memang seorang yang memiliki jiwa social yang tinggi
  6. Terus memperluas jaringan baru sambil merawat jaringan yang lama.
  7. Berdo’a. Ini mutlak dilakukan. Bapak shiddiqi percaya, do’a memiliki kekuatan luar biasa. Ia pernah menceritakan, satu sekolah membatalkan pemesanan buku paket yang totalnya sekitar 30 juta, karena menemukan distributor lain yang fee-nya lebih besar. Ia pun menerima kenyataan ini dengan do’a, memohon kepada Allah semoga diberi jalan lain. Beberapa hari kemudian do’anya dijawab Allah. Ia tiba-tiba ditelpon oleh sekolah itu lagi bahwa pemesanan jadi. Inilah rahasia dan kekuatan do’a.
Penutup, Kesaksian Tetangga

Dalam pandangan saya, sebagai tetangganya,  bapak Shiddiqi di samping tekun, sabar, dan religious,  juga dikenal suka membantu sesama. Tentang ketekunannya, saya memang mengetahuinya sejak ia kecil. Ia memang seorang pekerja keras dan selalu mengabdikan diri bagi kepentingan orang lain sejak ia menjadi santri . Ia pun mengakui, kemandirian dan  ketekunannya saat ini, dibentuk oleh pendidikan yang ia terima di pesantrennya dulu. Inilah mungkin kecerdasan emosi dan spiritual yang mengantarkan kesuksesannya.

Semoga bermanfaat.