Posted by rampak naong - -



Setelah buku saya Rahasia Perempuan Madura: Esai-Esai Remeh Seputar Kebudayaan Madura terbit bulan Februari lalu, sudah 5 kali saya diundang bedah buku. Tapi baru dalam bedah buku yang ke lima kalinya (31/3),  saya memperoleh energy baru. Pinjem bahasa gaul anak muda, pokoknya beda banget deh…

Apa bedanya? Dalam bedah buku ini saya bertemu langsung sama pemilik masa depan Madura. Saya membedah buku dihadapan anak-anak SMA/MA . yang mengadakan OSIS SMA Pesantren Al-In’am Gapura. Pesertanya mengundang siswa SMA/MA se kabupaten Sumenep. Meski yang hadir sekitar 40 orang, lebih sedikit dari yang diundang, tetapi saya tetap senang. Sekali lagi, saya bertemu dengan pemilik masa depan Madura.

Cuma ada sesuatu yang mengkhawatirkan dan sebenarnya ini dialami oleh etnis dan kebudayaan manapun. Ternyata para remaja banyak yang tidak mengenal lagi budayanya. Daya pukau globalisasi yang salah satunya ditandai makin menguatnya pola pikir, gaya hidup, dan selera “budaya colonial” menjadikan anak muda dan remaja abai terhadap kedahsyatan budaya sendiri. makin parah lagi karena media sosialisasi kebudayaan seperti keluarga, lembaga pendidikan, dll. tak memberi tempat lagi pada kebudayaan.

Apakah kebudayaan Madura tak memiliki daya tarik di kalangan anak muda? Tidak. Dalam bedah buku ini saya menyaksikan mereka bersemangat mendiskusikan kebudayaan Madura. Ketika kesempatan dialog dibuka, banyak diantara peserta yang mengajukan pertanyaan. Mulai tanya tentang alasan memberi judul buku, cara bagaimana budaya Madura bisa tetap survive, bagaimana agar tak terpengaruh kebudayaan global yang merusak, tentang stereotipe kekerasan, hingga pengakuan bahwa mereka baru tahu budaya Madura setelah membaca buku saya.

Saya mencoba menjelaskan terutama tentang stereotipe kekerasan. Saya bilang, stereotipe itu–jika mengacu terhadap penjelasan Hubb de Jonge (2011)—sudah dibangun oleh Belanda ketika menjajah dulu. Saya menaruh kecurigaan, stereotipe itu memang sengaja dibuat untuk memecah belah etnis Madura dengan etnis lain.  Itulah memang maksud kajian etnologi yang dilakukan bersamaan dengan pendudukan Belanda terhadap nusantara.

Saya mengharap Anda semua menulis (-ulang) kebudayaan Madura. Tak boleh kita serahkan sepenuhnya pada orang bule atau orang yang berpikir kayak bule ketika mengkaji Madura. kalau bukan kita, kalau bukan Anda, siapa lagi?,” saya mencoba membakar semangat mereka.

Selain saya, hadir Drs. Nurhadi, M.Si, budayawan dan seorang dosen sebuah perguruan tinggi di Sumenep sebagai pembanding. Pak Nur –demikian saya memanggilnya—adalah orang jawa yang sudah lama mukim di Madura karena istrinya memang orang Madura.   

Pak Nur memberi kesaksian selama 35 tahun –sejak bujang hingga menikah dengan perempuan Madura—tak pernah menemukan masalah seperti yang disangkakan selama ini oleh orang luar. Ia diterima dan bisa bebas berinteraksi tanpa ada ketakutan. Lalu dimana stereotipe kekerasan yang  dilekatkan kepada orang Madura?

Penerimaan terhadap Pak Nur saya pikir, bukan kebetulan. Bukan pula kasuistik. Dalam budaya Madura oreng laen bisa daddhi taretan (orang lain bisa jadi saudara). Sebaliknya taretan bisa daddhi oreng laen (saudara jika perangainya buruk bisa menjadi orang lain). Jadi orang Madura dilihat dalam kebudayaannya sangat menghargai orang lain, termasuk orang yang berlatar belakang etnis, ras, dan agama yang berbeda sekalipun.

Pak Nur satu persepsi dengan saya, sepertinya ada usaha sistematis –sejak zaman Belanda bahkan hingga kini—untuk menyuburkan stereotipe bahwa orang Madura penyuka kekerasan. Itu nampak dalam kajian-kajian yang dilakukan peneliti bule atau peneliti “dalam” yang merujuk pada cara pikir bule.

Stereotipe itu perlu diluruskan. Saya mendorong anak muda Madura menulis (-ulang) kebudayaannya. Tak boleh kita membiarkan kebudayaan Madura hanya diracik oleh orang luar. Tak kalah penting, ketika berinteraksi dengan orang luar jawablah stereotipe itu dengan andhap ashor, rendah hati dan santun.

Kalau bukan orang Madura, siapa lagi? itulah makna penting bedah buku saya dengan anak muda, pemilik masa depan Madura. Kenikmatan yang menurut saya, tiada tara.

Matorsakalangkong
Pulau garam | 2 April 2013

8 Responses so far.

M. Faizi mengatakan...

Saya kagum pada semangat kerja Mas Dardiri. Semoga yang begini ini bisa tertular ke tempat-tempat yang mulai menjauh dari leluri leluhur...

rampak naong mengatakan...

gak ada lagi yang bisa saya tularkan keh..kadang saya gerah, madura sudah mulai berisik. apalagi di luar, stereotip kekerasannya gak pernah susut.

salam keh

Asy'ari Khatib mengatakan...

Kiai Dardiri. Kita tak patut pesimis. Mari bergandeng tangan untuk mengenalkan nilai-nilai luhur budaya Madura pada anak-anak muda kita. Insya Allah gerakan ini akan disambut serius oleh segenap orangtua, yang dalam banyak kesempatan saya dengar mengeluhkan memudarnya simbol kebudayaan kita dalam perilaku anak-anak mereka. Begitu pula dengan anak muda kita sendiri, mereka akan 'welcome' untuk mengikis keterasingan mereka dari lokus nilai dari mana sejatinya mereka hidup dan dibesarkan.

rampak naong mengatakan...

terimakasih kak asy'ari atas supportnya. saya makin bersemangat melakukan kegiatan-kegiatan untuk menguatkan nilai kemaduraan kepada anak-anak muda. saya optimis jika bergndengan tangan dan ini menjadi sebuah gerakan, Insya Allah ada ajalan terang. terimakasih kak

salam

ahdi popos mengatakan...

buku yang luar biasa. Kalo bicara soal budaya madura, anak mada madura sekarang lebih suka memakai budaya luar, budaya madura tidak lagi mereka sukai karena bagi mereka kalo memakai budaya madura (gengsi), untuk menelorkan lagi budaya madura pada pada anak muda madura ya seperi ya bapak lakukan dan juga harus ada contoh langsung dari para petua dan eksen (langsung terapagi e lapangan, red), mari pak kawal anak madura agar tidak menjahui budaya sendiri.

rampak naong mengatakan...

makasih mas ahdi, ini tugas mas ahdi juga lho. soal gengsi tak perlu lah. ngapain kita harus "mengekor", kalau bisa jadi "kepala". kearifan lokal Madura itu hebat lho. ayo bersama-sama kita bergerak, kita harus jadi fa'il (istilah pesantrennya) bukan maf'ul. salam. terimakasih sudah berkunjung

Partner Anda mengatakan...

Mas Ari, saya sangat terkesan dan bangga ada orang Madura seperti anda yang berani menuangkan dalam tulisan keadaan sebenar2nya dari orang Madura. saya pun juga sedang proses menulis tentang nilai budaya madura khususnya dalam perkawinan. mohon bantuannya untuk meluangkan waktunya jika saya menemukan kesulitan untuk memahami nilai budaya Madura, bisa melalui email. oh ya dimana saya bisa mendapatkan buku karya mas Ari, apakah di gramedia atau lainnya? terimakasih
salam

rampak naong mengatakan...

engan senang hati mbak selagi saya bisa. terimakasih atas apresiasinya. soal buku saya bisa dipesan ke penerbitnya langsung di surabaya, ini nomernya : ahmad shidiq 081938398773. cukup pesan via SMS. jika mau kontak saya bisa via email : babaari@gmail.com