Tampilkan postingan dengan label cultural-studies. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cultural-studies. Tampilkan semua postingan
Posted by rampak naong - - 4 komentar

foto: nu.or.id
Sebagai pulau yang dekat dengan Jawa, wajar jika Madura menjadi wilayah sasaran dakwah Wali Songo. Tentu ini by design. Dengan demikian teks-teks, terutama teks keagamaan,  yang jadi sumber pengetahuan orang Madura merupakan jaringan teks yang bertebaran di wilayah lain di Nusantara ini. Inilah pula yang membentuk pandangan keaswajahan  dan imagi kebangsaan orang Madura.

Teks ini disampaikan dengan strategi dakwah yang arif. Jalur kebudayaan ditempuh terutama untuk menghindari benturan antara pesan agama dan kebudayaan lokal. Agama dihadirkan tidak dalam hubungan vis a vis dengan budaya, malah menggunakan instrumen budaya itu sendiri yang isinya diroh-i nilai-nilai Islam. Atau mengkreasi model sendiri sesuai dengan karakteristik dan potensi daerah yang menjadi sasaran dakwah.

Salah satu contoh yang bisa disebut di sini adalah model dakwah yang dilakukan Syekh Ahmad Baidlawi atau dikenal sebagai Syekh Katandur, cicit dari Sunan Kudus, yang hidup sekitar akhir abad 15 atau awal abad 16. Beliau sambil berdakwah juga mengenalkan ilmu bertani (nandur). Makanya beliau lebih dikenal sebagai Pangeran Katandur. Maqbarahnya yang keramat dan banyak dikunjungi peziarah berada desa Bangkal (desa bangkal dulu masuk desa Parsanga, kemudian dipecah) Sumenep, sebuah desa yang berdekatan dengan desa Paberrasan, desa yang dulu dikenal wilayah penghasil beras,  dan desa Kebunan yang dulu dikenal karena pertanian kebunnya yang subur.

Strategi dakwah yang dilakukan Pangeran Katandur menurut saya sangat kreatif. Pesan keagamaan Islam diterima, orang Madura juga memiliki keterampilan mendayagunakan lingkungan alamnya, dan yang lebih penting bagaimana dakwah mampu mengharmonikan antara hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan sekaligus alam.

Asal-usul desa Parsanga ada hubungannya dengan instruksi pangeran Katandur yang menyuruh pengikutnya menanam bibit pohon kelapa di sembilan sumur di daerah itu. "Parsanga" adalah akronim "parse sasanga'" (bibit pohon kelapa berjumlah 9) yang satu persatu ditanam dekat sumur yang juga berjumlah sembilan. Lepas dari misteri angka 9 (Wali songo, bintang sembilan), apa yang dilakukan Pangeran Katandur adalah dakwah yang membangun harmoni hubungan manusia dan Tuhan sekaligus alam lingkungannya. Sumur bisa dimaknai begitu strtegisnya air. Bandingkan dengan saat ini sumber-sumber air diprivatisasi untuk kemudian dijual ke khalayak.

Jadi makna agama dihadirkan dalam ketulusannya menjaga ruang hidup, lingkungan, dan alam sebagai siasat untuk menopang keberagamaan masyarakat sendiri. Strategi ini menarik digali lebih dalam untuk dikontekstualisasikam dengan kondisi saat ini  ketika Madura menjadi sasaran korporasi dan para pemodal yang dengan semena-mena merampas ruang hidup dan mengalihfungsikan lahan.

Kearifan dakwah lainnya yang bisa disebut di sini, dakwah yang dilakukan Sunan Paddusan pada abad 17. Ulama ini sangat penting perannya  sehingga diulas cukup panjang oleh Ahmad Baso dalam Pesantren Studies 2b. Menurut Baso, Sunan Paddusan penulis cerita Jaka Karawet (Baso, 2012).

Wilayah dakwah Sunan Paddusan di samping Jawa juga Madura (Sumenep). Di Madura Sunan Paddusan berdakwah di desa paddusan (sekarang Pamolo'an, sebuah desa di lingkungan kota). Saya meyakini wilayahnya pasti melampaui desa, tapi desa Paddusan semacam base camp yang menjadi pusat dakwah sang Sunan.

Menurut cerita, apabila santri telah melakukan rukun Islam ia dimandikan dengan air yang dicampuri aneka ragam bunga. Memandikan itu disebut "edudus", kampung warga disebut paddusan, dan Guru yang mengajarkan agama itu disebut Sunan Paddusan (Abdurrahman, 1988).

Sekali lagi bisa dilihat di sini media yang digunakan sebagai simbol penguasaan seseorang terhadap rukun Islam adalah air disertai aneka ragam bunga. Bandingkan juga dengan thema "Thaharah" dalam kitab fiqh yang berhubungan dangan air. Satu hal yang ingin saya ungkap, keberagamaan membutuhkan keselarasan yang padu; Tuhan, manusia, dan alam.

Kalau mau disebut masih banyak para wali dan ulama di Madura yang dalam dakwahnya menggunakan strategi kebudayaan, senafas dengan model yang digunakan oleh para wali dan ulama di belahan lain di nusantara ini. Inilah kearifan dakwah yang pada akhirnya melahirkan kearifan dalam beragama, sebagainana nanti akan saya jelaskan.

Kearifan adalah sikap yang tahu kapan harus santun, kapan bersikap keras, tegas, dan tanpa kompromi. Terhadap kolonialisme atau kerajaan bonekanya yang menjadi musuh agama dan rakyat Nusantara, orang Madura tegas dan keras. Contohnya Tronojoyo, santri Sunan Giri dan Kyai Kajoran, tanpa kompromi dan kooperarif dengan Amangkurat dan Amangkurat II, raja Mataram yang dibantu VOC.

Termasuk juga ketika Perang Diponogoro 1825-1830, santri dan orang Madura terlibat penuh. Bahkan sebelum perang, Pangeran Diponogoro melakukan konsolidasi dan merapikan barisan  dengan berkunjung ke banyak pesantren di Jawa, termasuk ke Madura tepatnya ke Pesantren Banyuanyar Pamekasan pada tahun 1787 (Zainul Milal, 2016).

Dalam buku Pesantren Studies 4a (2013), Baso melukiskan, perang Diponogoro yang sangat heroik itu tak lepas dari peran tentara pangeran Diponogoro dari Madura. Sayang sekali, peran tentara asal Madura dalam perang Diponogoro tenggelam. Justru yang diketahui banyak orang soal Barisan, korp tentara yang menjadi centeng Belanda, dan sengaja dibentuk belanda sebagai barter terhadap penguasa Madura yang mengininkan pemerintah kerajannya dikelola secara swapraja.

Nah, melihat ilustrasi di atas kearifan juga bermakna tegas dan keras terhadap musuh, VOC dan kemudian terhadap penjajah Belanda. Bukan seperti sekarang, kelompok keras di Madura justru menjadikan sebangsa sebagai "musuh". Sementara kelompok moderat asyik dengan kearifan dalam makna santun melulu sehingga dua-duanya kurang peduli terhadap kolonialisme dalam wajah baru yang saat ini menggurita di Madura melalui keruk habis SDA dan penguasaan lahan yang tak terkendali.

Meski begitu saya melihat, kelompok keras lebih sulit diajak peduli untuk keras terhadap neo-kolonialisme kecuali dibngkus sentimen agama. Sementara kelompok moderat lebih mungkin mengambil sikap tegas dan keras terhadap neokolonialisme jika mampu menggeser makna kearifan ke posisi sebagaimana Pangeran Trunojoyo dan Diponogoro melakukannya. Wallahu A'lam.

Matorsakalangkong







[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar

Kertascoretanku.wordpress.com

Di tengah sesaknya garam yang mengasini imagi kemaduran, adakah tempat untuk secangkir kopi di Madura?

Jangan keliru. Meski Madura bukan penghasil kopi, tapi kopi telah menghitami tradisi madura. Selama berabad-abad, kopi telah menyambungkan jiwa dan raga orang Madura. Mewujud  dalam ruang yang sangat sederhana: di langgar, mushalla, atau di meja-meja di beranda dimana sanak saudara dan tamu diterima oleh hitam pekatnya secangkir kopi.

Di acara resmi seperti pernikahan sekali pun minumannya juga kopi. Tentu perisitiwa ini bisa disaksikan di desa, lokus yang setia merawat tradisi Madura. Di kota karena kehidupannya serba instan suguhan minuman sudah diganti minuman kemasan. Bukan sekedar urusan agama,  dalam urusan minuman pun orang kota ternyata tak kalah puritannya.

Jika ada kopi siapapun  tentu malas untuk segera pergi. Secangkir kopi akan membuka ruang-ruang obrolan dan wacana datang silih-berganti. Dan penikmat kopi akan menghadirkan informasi hangat sehangat kopi. Soal-soal berat dan ringan diperbincangkan dalam bahasa pinggiran, bahasa keseharian rakyat.

Jangan kaget, jika misalnya kebijakan pejabat publik  digugat. Orang-orang yang selama ini berada di pinggiran, balik menjadi subyek. Seandainya  pejabat publik hadir, obrolan orang pinggiran akan menampar, menyayat, dan menguliti kebijakannya. Ternyata orang pinggiran pinter menggoreng isu, membolak-balik, bahkan membiarkan gosong. Semua itu, salah satunya karena kopi yang mengikat banyak orang setia bercengkerama dan berbagi gagasan.

Sebagai pulau penghasil tembakau, rokok menjadi teman setia kopi. Tetapi rokok seolah tak memiliki makna apa pun, tanpa kopi. Sebuah pantun begitu populer di Madura, "bhede songkok bhede kalambhi, bhede rokok bhede kobhi" (ada songkok ada kalambhi (baju), ada rokok ada kopi). Sering ketika dalam pertemuan muncul goyunan satir terhadap tuan rumah, "bhede songko' keng tadha' kalambhina" (sayang ada rokok cuma tak ada kopinya), maka buru-buru tuan rumah meracikkannya kopi.

Begitu menyatunya kopi dalam tradisi orang Madura, kopi bahkan merasuk menjadi etika pergaulan terutama dalam menerima tamu. Pembicaraan penting tak akan dimulai sebelum kopi disuguhkan oleh tuan rumah. "Laon gallu ja' molae parembhaganna, ngantos kobhi gallu" (sebentar, jangan mulai pembicaraan kita, nunggu kopi dulu), begitu ucap si tuan rumah. Karena bagi orang Madura sebelum meminum kopi "dunnya ta' terrang " (dunia gelap gulita), jadi dunia pikiran pun tidak terang.

Problem etik kembali muncul jika tuan rumah tak mampu menyuguhkan kopi kepada tamunya. Tuan rumah akan merasa bersalah, karena kopi telah menjadi minuman resmi bagi para tamu. Maka tuan rumah buru-buru akan bilang, "maaf bhedena gun aeng" (maaf yang ada cuma "air"). Meski teh yang disuguhkan, orang Madura tetap akan bilang "air". Hal itu sejenis pemakluman bahwa yang disuguhkan bukan kopi.

Di desa-desa yang disuguhkan bukan kopi instan. Orang Madura menyangrai sendiri biji kopi kemudian menumbuknya sendiri. Biji kopi itu tidak selalu dibeli, kadang merupakan kiriman atau oleh-oleh dari sanak famili yang tinggal di Jember, Banyuwangi, Bondowoso, dan Situbondo. Oleh-oleh itu tidak hanya kopi, tapi lengkap dengan gulanya. Di sini kopi ternyata mampu mendekatkan ikatan kekeluargaan antara orang Madura "negeri" yang tinggal di pulau Madura dan Madura "swasta" yang tinggal di luar Madura. Kopi ternyata mampu merekat daerah tapal kuda, di samping juga rekatan kultural sebagai sesama etnis Madura.

Di sinilah permohonan maaf orang Madura  untuk secangkir kopi menemukan maknanya, melampaui kopi itu sendiri. Dalam kopi ada citra penghormatan, keakraban, dan gelora untuk sekedar saling bercengkerama, mendialogkan kekonyolan hidup, termasuk menertawakan diri sendiri. Di titik ini, kopi terkadang menampilkan dua wajah kita, lebih manis atau juga lebih pahit dari hidup itu sendiri.

Matorsakalangkong
Pulau Garam l 29 Juni 2016
[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 3 komentar

beritajatim.com

Pertengahan bulan Desember 2014, Pemda Sumenep menutup paksa 5 tempat hiburan malam atau biasa disebut dugem. Alasannya, 5 tempat dugem itu menyalahi izin, dari tempat makan berubah menjadi tempat hiburan malam. Dalam tulisan ini saya tidak akan menyoroti masalah ini dari sudut hukum, tapi  dari sudut pandang kebudayaan Madura.

Sebagai warga tentu saya senang sekali dengan ditutupnya tempat hiburan malam.  Penutupan itu impian banyak orang, setidaknya orang yang saya temui. Bagi saya, hiburan malam yang merupakan produk kebudayaan modern dan lokus bertemunya hedonisne dan kebebasan “tanpa ampun”, jelas tidak menemukan pijakannya dalam kebudayaan Madura. Saat saya diwawancarai media lokal sebelum penutupan itu, dengan tegas saya mengatakan, “tempat hiburan malam tidak sesuai dengan kebudayaan Madura”.

Bagi urbanis–utamanya kaum muda—yang westernized tempat hiburan malam atau dugem dianggap tempat yang “gaul”. Gaul bisa bermakna “tidak jadul” alias tidak kuno, kolot, atau kampungan. Gaul mungkin juga bermakna bahwa dugem adalah tempat anak muda bersosialisasi atau lebih tepatnya berkumpul. 

Meski dalam kebudayaan Madura dikenal istilah “apolkompol”, tetapi maknanya tentu jauh berbeda dengan dugem. “Apolkompol” dalam tradisi Madura memiliki filosofi yang luar biasa dengan kedalaman makna yang hebat.

“Apolkompol” selalu diibaratkan dengan beras yang dalam masyarakat tradisional dulu bermula dari gabah yang ditumbuk. Beras menjadi putih ketika ditumbuk, bukan karena putih sendiri tetapi karena “bergesekan” dengan yang lainnya. Inilah hakekat “apolkompol”. Jadi dalam kebudayaan Madura, bergaul, berkumpul, atau bersosialisasi dengan orang lain dimaksudkan untuk saling “memutihkan diri”; menjadi manusia yang baik dan beradab.

Sebagai wujud dari “apolkompol” ini lahirlah “kompolan” yang biasanya menunjuk pada “komunitas” yang memiliki kegiatan yang relatif permanen dan umumnya bersifat keagamaan. Maka muncul nama-nama kompolan seperti kompolan sarwa (tahlilan), diba’ (barzanji), yasinan, darusan, dsb. Kompolan ini menjadi oase bagi masyarakat Madura dalam membangun hubungan dengan Sang Pencipta di satu sisi, dan sesama di sisi lain.

Secara sosiologis, kompolan memiliki fungsi kohesivitas sosial yang secara terus menerus mengupayakan kebersamaan, imagi, angan-angan, dan mimpi membangun kehidupan yang santun dan beradab dengan saling mengasihi antar sesama dalam ridla Allah.

Jelaslah, apolkompol bukan sosialisasi yang “material-hedonistik” dengan tawaran ketentraman semu dalam dentingan bir dan godaan erotik suara perempuan penggoda. Apolkompol dalam kebudayaan Madura menjangkarkan hakikat kemanusiaan dalam relasinya dengan Pencipta dan sesama sekaligus.

Itulah kenapa falsafah Madura dengan indah melukiskan perlunya sikap kehatian-hatian dalam bergaul, “mon ba’na akanca maleng, noro’ maleng (kalau kamu berteman dengan maling, maka bisa jadi maling). Ada lagi,  “mon ba’na akanca reng ajual mennyak, ba’na melo roomma, tape mon akanca reng ajual acan, ba’na melo bauna” (jika kamu berteman dengan penjual minyak wangi, kamu kebagian harumnya. Sebaliknya jika berteman dengan penjual terasi, kamu kebagian baunya).

Apakah orang Madura menolak dunia hiburan? Tentu tidak. Dalam tradisi orang Madura, ada “tetenggun” (tontonan). “Tetenggun” biasanya dilangsungkan di lapangan dan acaranya bersifat umum dan massal. “Tetenggun” bisa dalam bentuk lodruk, samrah, gambus, film keliling, atau tontonan drama seperti Albadar Mahajaya yang pernah ngetop di Sumenep pada era 80-an.

Soal “tetenggun” tentu ada yang kontroversial. Misalnya, lodruk adalah jenis “tetenggun” yang  kurang diapresiasi di komunitas santri. Saya tidak ingin berdebat tentang itu. Yang ingin saya catat di sini, pertama,  “tetenggun” itu berlangsung di ruang publik dan karena itu bersifat terbuka. Sifatnya yang terbuka memungkinkan antar-penonton melakukan kontrol untuk tidak mengotori “tetenggun” itu dengan tindakan-tindakan yang justru mengurangi maknanya. Apalagi penonton “tetenggun” ini datang bersama keluarga dan tetangga dan di tempat “tetenggun” itu membentuk kerumunan atas dasar kekeluargaan dan ketetanggan.  Kedua, konten “tetenggun” itu biasanya sangat edukatif karena berdasar atas cerita-cerita kenabian atau Raja-raja yang menjalankan  kekuasannya dengan bijak dan adil. 

Lalu, dugem? Bagi saya, ia adalah barang impor, yang dibawa ke Madura dengan tujuan murni kapitalisasi hiburan serta mewadahi segelintir  orang yang lupa akar. Ia menawarkan kebebasan “tanpa ampun” (dibalut HAM sekalipun), hedon, dan menampilkan simbol-simbol kega(lau/ul)-an yang tidak akan ditemukan akarnya dalam tradisi dan kebudayaan Madura. Dengan tegas saya ingin mengatakan bahwa, dugem tak akan banyak menyumbang bagi peradaban kemaduraan. Atas dasar inilah saya mengapresiasi kerja pemda Sumenep yang menutup tempat dugem itu [tulisan ini dimuat di Koran Madura, 29|12|2014]







   
[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 2 komentar

adatipraktis.blogspot.com

Kancing. Apa istimewanya dengan benda ini? Entar dulu. Boleh Anda tak mengindahkan benda ini. Karena posisinya sebagai pelengkap dalam peradaban pakaian seringkali perannya tak terlihat. Jarang dipikirkan. Apalagi didiskusikan.

Meski saat ini bentuk kancing makin kreatif, toh kancing tetaplah kancing. Ia sekedar menjadi pemanis, misalnya dalam baju. Dalam peradaban mode, sesuai bentuknya yang kecil –meski ada juga yang besar—ia pun lebur dalam gemerlap pakaian. Ternyata, dalam hidup ini, memang nalar kita cenderung meminggirkan yang kecil.

Tapi coba sekali-kali lihat fungsinya. Kancing ibarat pintu rumah, berfungsi sebagai penutup dan pembuka pakaian. Bayangkan, kalau peradaban kita tak menemukan kancing. Kita akan mati kegerahan. Atau kita akan sulit memakai atau melepas baju.

Apalagi jika kancing diletakkan dalam dimensi etis atau budaya, persoalannya menjadi tidak sederhana. Dalam budaya Madura, kancing sudah masuk ke wilayah etika. Seseorang –umumnya anak muda—yang membiarkan kancing di bawah kerah terbuka, dan membiarkan dada bidangnya [apalagi kerempeng] terlihat, dianggap tak memenuhi kaidah kesopanan. Dengan segera orang tua atau guru akan bilang, “pobu kancengnga nak” [kancingkan bajumu nak].

Kenapa harus dikancingkan? Membiarkan kancing di bawah kerah terbuka dalam pandangan budaya Madura dianggap sebagai simbol kesombongan. Nah lu!. Dada ternyata problematik bukan? Tetapi kalau kita membaca budaya timur, orang sombong seringkali dilukiskan sebagai orang yang selalu menepuk dada.  Alasan ini mungkin yang menjadikan budaya Madura menganggap penting kancing agar sempurna menutup dada. 

Saya jadi ingat kisah masa lalu. Ketika saya sekolah di MTs, saya pernah keranjingan membuka kancing di bawah kerah agar dada saya kelihatan. Pada hal apa indahnya, wong saya kurus kerempeng. Maklum ketika itu trend-nya buka kancing di bawah kerah, nah saya jadi korbannya.

Melihat saya tidak memasang kancing, guru saya dengan bijak menyentil saya. “Lihat tuh Dardiri, tahu kenapa dia tidak memasang kancing? Dia berharap, ilmu yang saya ajarkan masuk melalui dadanya,” kata guru saya. Sontak teman sekelas tertawa riuh. Saya juga mesem, meski dengan rasa malu yang sangat. Sejak itu saya kapok membiarkan kancing di bawah kerah terbuka.   

Itulah kancing. Maknanya dalam budaya tertentu bukan sekedar pengait pakaian. Maknanya sudah masuk ke wilayah etika. Sebagai sebuah benda, kancing tentu belum bermakna apa-apa. Tetapi ketika Anda mendengar kalimat seorang suami kepada istrinya, “ayo, buka kancingmu”, maka kancing melampaui maknanya sebagai sebuah benda.

Pesan saya kepada anak muda, “dik, kancingkan bajumu!”.
[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar

www.aceshowbiz.com

Lepas dari pro-kontra terhadap penyelenggaraan Miss World di negeri kita, saya justru tertarik menyoal tirani kecantikan yang tersembunyi di balik penyelenggaraan Miss World. Suatu hasrat terselubung yang berkehendak melakukan universalisasi makna cantik dari suatu entitas kebudayaan yang mengklaim paling “adi luhung” (baca: kultur barat).

Suka atau tidak, Miss World adalah produk kultur barat. Makna kecantikan yang dihasilkan pasti juga digali dari rahim kulturnya. Sosok perempuan yang tinggi, ramping, dan sexy maknanya tidak stabil. Tentu saja kita tidak bisa dengan semena-mena mencari maknanya dalam kamus dan seketika kita memperoleh makna yang terang benderang. Makna tinggi, ramping, dan sexy dalam Miss World sudah diracik dengan selera, rasa, dan adonan kultur barat tadi.

Dengan ditopang kekuatan media, racikan itu disebar ke seluruh penjuru dunia. Miss World yang tadinya bersifat lokal dengan lokusnya kultur barat, akhirnya menjalar dan hendak diuniversalkan. Ya kira-kira semacam globalisasi kecantikan. Dan berhasil. Para perempuan dan laki-laki di penjuru lain dengan kultur yang lain pula, termangu-termangu dan diaduk-aduk makna kulturalnya tentang kecantikan. Akhirnya pelan-pelan makna kultural tentang cantik pun berubah. Sekarang tidak lagi mengacu pada selera kulturnya sendiri, tetapi merujuk pada makna cantik yang diuniversalkan Miss World.

Saya pernah membaca bagaimana makna cantik di India berubah. Dulu perempuan rada gempal dan gemuk di India dianggap cantik, tetapi ketika universalisasi kecantikan ala Miss Word yang tinggi dan ramping bergema di sana, perempuan tadi tak lagi dianggap cantik.

Kasus ini menguatkan tesis bahwa cantik bukan alami (by nature) tetapi sebenarnya dikonstruk (by design). Konstruksi makna cantik pada akhirnya bukan masalah sepele, karena dalam konstruksi itu ada tirani. Makna kecantikan di seluruh penjuru dunia diarahkan pada satu titik, tunggal, dan universal. Ya, Mengacu pada Miss World sebagai produk kultur barat. Di luar itu, tidak cantik.

Dalam perebutan makna cantik nampaknya Miss World berhasil. Bukan semata karena ditopang keperkasaan media, tetapi yang utama ada kapital di sana. Ia telah menjelma menjadi bisnis hiburan yang menjual mimpi bagi jutaan –bahkan mungkin miliaran—perempuan dan laki-laki di dunia.

Sebagai sebuah hiburan yang menjual mimi –saya sebut tirani— tentu juga melahirkan nestapa. Tak terhitung barangkali jumlah perempuan yang tidak bahagia karena kecantikannya tak semakna dengan makna cantik ala Miss World. Tak terhitung pandangan budaya di luar kultur barat yang sempoyangan bahkan redup akibat tirani kecantikan ini. sebagai sebuah tiran, Miss World benar-benar menghibur dan perkasa.

Matorsakalangkong

Pulau Garam | 4 September 2013
[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 19 komentar

google

Perempuan Madura tidak […] terlalu anggun dan berwibawa.
struktur tulangnya kelewat kasar untuk itu [dan] raut mukanya terlalu bebal.
 Gadis ciliknya jauh lebih halus, namun segera kasar begitu mereka tumbuh dewasa
(J.S Brandts Buys, 1926/dikutip dari buku Hubb de Jonge, 2011).

Dulu, ketika saya kuliah di Jakarta, sering ditodong seputar pertanyaan tentang mitos seks perempuan Madura.  “ Benar gak sih, perempuan Madura kalau bikin kopi bukan sendoknya yang mengaduk, tapi cangkirnya?”

Tak cukup itu, seorang kawan saya asal jawa mengeluarkan anekdot. Ada seoran perempuan Madura lagi menjual jamu tradisional di trotoar. Sial, dagangannya disita oleh Satpol PP. Karena kesal, Satpol PP membuangnya ke dalam sumur. Seketika sumur berubah wujud, rata seperti layaknya sebelum digali. 

Benar saya tidak sekali ditanya atau mendengar anekdot seperti di atas. Pertanyaan dan anekdot yang  sangat hiperbolik. Sarat makna. Ketika mendengarnya saya hanya mesem saja. Sebagai orang Madura, sumpah di tanah leluhur saya tak pernah saya temukan jawabannya. Tak pernah orang menggunjingkannya.

Tiba-tiba mitos kadung melekat. Saya sendiri tidak tahu akar histrorisnya. Mitos memang berbeda dengan pengetahuan. Tetapi daya pukaunya tak kalah dengan pengetahuan. Kadang-kadang dalam prakteknya, sering tumpah tindih. Pengetahuan banyak juga yang memetamorfose layaknya mitos. Peduli amat, biarkan mitos bicara.

Sebuah Kesaksian
Perempuan Madura bagi saya tak ubahnya perempuan lain. Jika berbeda mungkin pada kulitnya yang coklat atau hitam. Untuk menghaluskan bahasa agar santun, muncul kemudian istilah “hitam manis”. Meski dalam bahasa Madura itilah “hitam manis” tidak dikenal. Yang ada adalah “ celleng sedda’ ”. Maknanya kira-kira “hitam yang pas takaran asinnya”. Sedda’ dalam bahasa Madura biasanya menunjuk pada makanan yang keasinan garamnya pas.

Soal cantik, tentu cantik. Tetapi, bukankah cantik merupakan hasil konstruksi ketimbang alami? Bukankah cantik juga dipengaruhi cita rasa kultural? Meski saat ini makna cantik hampir seragam, tetapi suara lain tetap penting dibunyikan. Biarkan cantik didefinisikan sesuai selera kulural. Cantik menurut orang Madura tidak harus sama dengan cantik dalam persepsi orang Jawa, Sunda, Batak, Bugis, Minang, dan seterusnya. Apalagi dengan cantik menurut parameter miss universe. Atau pendapat orang Londo seperti yang saya nukil di awal tulisan ini.

Madura dengan segenap cita rasa kulturalnya punya referensi sendiri tentang perempuan cantik. Perempuan cantik itu seperti ini, potre koneng potre Madura, pajalanna neter kolenang palembayya meltas manjalin, matana morka’, alessa daun membha, bibirra jerruk salone (potre koneng (nama istri raja) putri Madura, cara berjalan sungguh gemulai, segemulai kayu rotan, matanya lentik, alis seperti daun membha(1), bibirnya seperti seiris jeruk ...)

Pitutur di atas mungkin mengalami pergeseran makna sekarang. Gempuran mitos industry kecantikan tak mungkin dibendung. Konstruksi baru tentang makna cantik muncul. Tak terkecuali pada perempuan Madura, termasuk laki-laki yang mendefinisikannya.

Tetapi toh hingga detik ini pitutur di atas tidak begitu saja tenggelam. Kadang-kadang timbul. Meski kadang-kadang tenggelam. Apa maknanya? Cita rasa cultural yang bersifat local tentang perempuan cantik tidak sepenuhnya hilang.

Pitutur adalah konsep ideal. Saya sendiri juga tidak bisa melacak jejak historisnya, pitutur itu definisi siapa? Perempuan sendiri yang mendefinisikan, atau laki-laki Madura? Bagi saya itu tidak terlalu penting. Meski aktivis gender sering bilang, definisi tentang tubuh perempuan selalu patriarkhis.

Hanya saja, dalam realitasnya saya menyaksikan perempuan Madura sangat praktis. Soal pakaian sering apa adanya. Bahkan bagi sebagian orang luar kadang dibilang “norak” hanya karena pilihan warna yang “ngejreng”. Seringkali yang paling kentara di lengan, gelantungan emas bertengger. Tentu ini khusus perempuan Madura yang the have.

Perempuan biasa dan perempuan desa? Sangat sederhana. Seringkali hanya menggunakan bedak biasa sekedar penanda bahwa ia perempuan. Pakaiannya juga sederhana yang penting menutupi aurat. Kadang bawahnya cukup menggunakan sarung. Ia pandai melekatkan sarung itu di pinggang, agar tidak melorot. Singkatnya, perempuan Madura itu bukan pesolek.

Yang menarik bagi saya justru inner beauty-nya. Perempuan Madura –lebih-lebih yang bersuami—ajeg menjaga diri.  Zinah bagi perempuan Madura adalah pantangan yang menghunjam dalam bawah sadarnya, sebagai perbuatan nista. Baik karena alasan agama maupun cultural, yaitu menyangkut harga diri. Harga diri bagi orang Madura adalah pertahanan diri (self defense) yang terakhir.

Yang lain, perempuan Madura itu pekerja keras. Bahkan dalam hal tertentu daya tahan survival-nya lebih kuat ketimbang laki-laki. Saya pribadi menyaksikan ibu saya, meski ia hanya seorang ibu rumah tangga, nampak sangat perkasa. Ia berada di dapur sejak habis subuh hingga waktu dluhur.

Perempuan Madura meski tidak pandai bersolek, tapi punya kemampuan merawat kesehatan tubuh secara alami. Turun-temurun mereka dididik cara perawatan tubuh dengan menggunakan ramuan herbal yang dibuat sendiri. Meski mungkin sangat sederhana dengan meminum rebusan kunyit dan daun “pacar” (daun yang biasanya untuk memerahkan kuku).

Mungkin karena ramuan tradisional inilah mitos-mitos tumbuh menyangkut perempuan Madura di luar Madura. Meski dalam kesaksian saya mitos itu bisa benar, bisa salah.

Perempuan Madura –sama seperti perempuan lain—saat ini tengah bertarung memperebutkan identitiasnya. Banjir industry kecantikan dengan miss universe sebagai ‘pusatnya’ lamat-lamat terdengar degupnya di tanah leluhurnya. Cuma yang penting, kekuatan yang memancar dari dalam sebagai perempuan Madura yang menjaga diri, pekerja keras, sederhana, setia, dan religious dengan sekuat tenaga harus dipertahankan. Soal mitos, biarlah ia tetap menyelubungi rahasianya.
[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar

kaskus
Jam 06.40 WIB menit tiba di kantor saya langsung mengambil Harian Kompas. Di halaman depan terpampang foto seorang anggota Badan Kehormatan DPR sedang mencoba kursi baru beli yang masih terbungkus plastic. Bukan sembarang kursi. Satu kursi harganya 24 juta. Maklum buatan jerman. Jika digunakan untuk membayar seorang buruh yang digaji 1 juta/bulan,  satu kursi setara dengan gaji buruh untuk dua tahun.
 
Pagi-pagi yang seharusnya menghirup udara sejuk, nafas saya sesak. Bukan marah. Tapi mual. Belum mengajar saya harus menelan bad news. Hanya oleh kursi, sebut saja kursi gila. Kursi yang tidak saja gila dari sisi harga, tapi gila karena wujud dari minus kepekaan dan kemanusiaan.
 
Jika anggota BK DPR nanti duduk di atasnya, hakikatnya ia bukan sekedar duduk di atas sebuah kursi gila dalam makna fisiknya. Ia sebenarnya telah duduk di atas penistaan terhadap kepekaan atas nilai-nilai kepatutan. Malah kursi yang ia duduki disanggah oleh matinya rasa kemanusiaan.
 
Maka saya saat ini harus merevisi makna kursi yang sejak dulu terlanjur ditafsirkan sebagai citra. Sebagai symbol orang yang mabuk kekuasaan. Sebagai wujud kegilaan terhadap kedudukan. Tentu, kursi dalam makna metaforis ini harganya juga mahal. Bahkan lebih mahal dari harga kursi –dalam makna nyata—yang saat ini baru dibeli.
 
Pasalnya, kursi dalam makna ini harus dibarengi sejumlah citra susulan dari orang yang ingin memilikinya.  Jelek dicitrakan baik. Elitis dicitrakan merakyat. Korup dicitrakan bersih. Semua ini seakan absah dilakukan oleh orang yang gila kursi. Kursi dalam makna citra.
 
Tetapi gila kursi dalam arti citra dan makna simboliknya, saat ini tak cukup. Ia harus berjejak. Citra butuh yang nyata. Symbol butuh berjejak. Inilah kegilaan susulan yang saya maksud yang berujung pada kursi gila, setelah gila kursi sukses.  Tak usah dipisahkan secara rigid batas kursi gila dan gila kursi. Dua-duanya telah membentuk kegilaan yang benar-benar  sempurna. Satu tontonan yang merangkum dua kegilaan, kursi gila dan gila kursi, dalam satu lokus, dalam satu citra, juga dalam satu yang nyata.
 
Satu lagi, pengetahuan yang saya dapati dari kasus kursi gila ini. Saya, sebagai guru, semakin kesulitan  menemukan ketauladanan di kalangan elit yang bisa menjadi inspirasi kami –guru dan siswa—di ruang-ruang kelas. Sementara di ruang kelas kadang siswa hilang tanpa pamit, karena harus ikut orang tuanya bekerja ke luar daerah, dan terpaksa berhenti.  
 
Kursi gila dan gila kursi ini benar-benar telah menikam rasa keadilan dan kemanusiaan, bukan sekedar kepatutan.
[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar

aggresscorp.com
Seperti jaring laba-laba, gadget saat ini menebar perangkapnya. Semua orang  disihir seolah gadget itu kebutuhan. Perangkap itu kian menebar dan melebar,hingga akhirnya membangun jejaring yang tak mudah untuk bebas darinya. Betul,  hidup memang kian berwarna. Kian luas meski dalam ruang dan waktu yang kian sempit.   

Di daerah saya, tak terbayang beberapa tahun lalu, seorang yang tengah menyabit rumput di  sawah berbicara melalui ponsel dengan saudaranya yang jauh, atau mungkin yang sedang menjadi TKI di luar negeri. Sudah menjadi pemandangan biasa, petani pergi ke sawah ponselnya  selalu menemani. Meski tanpa sadar, pekerjaan tidak selesai-selesai, karena waktu terus digeser dan ditunda untuk merampungkan sesuatu.

Lain lagi ketika saya shalat jumat di sebuah masjid. Ketika masuk di rakaat kedua, ada ringtone dangdut koplo berbunyi sangat keras menggema dalam ruangan masjid. Para jama’ah seperti berjuang menjadi khusyu’ di tengah dendang music koplo yang rancak. Benar saja, selesai salam, semua jama’ah menoleh ke arah orang yang menjadi sumber masalah music koplo itu berbunyi. Bahkan ketika jama’ah pulang ada yang bilang, “dasar..HP jahannam.”

Peristiwa seperti itu sangat sering saya jumpai. Di kegiatan tahlilan, ketika shalat jenazah, rapat, dan kegiatan lain yang seharusnya senyap, gangguan itu muncul. Mungkin kasus ini dibaca sekedar persoalan etika, tapi bagi saya lebih dari itu. Kayaknya manusia modern selalu ingin tampil berisik, meski di relung bathin sana sebaliknya, merindukan kesenyapan, kesunyian, dan kesederhanaan.

Penting Sekali, Gawat Sekali
Saya sebenarnya bermimpi lepas dari ponsel. Bagi saya ponsel begitu menyiksa. Bahkan saya seperti tidak lagi menjadi makhluk yang otonom. Makhluk yang bebas untuk sekedar merumuskan kesederhanaan dan kesunyian hidup yang saat ini kian mahal. Tergantikan oleh hidup yang bising dan penuh hiruk-pikuk atau hidup yang seolah selalu gawat.

Bayangkan, baru saja bersilaturrahim dengan saudara, dering suara ponsel berbunyi. “Dimana sekarang? Saya sedang meluncur ke rumah ente nih..ada perlu,  penting banget” suara teman terdengar. Tanpa menunggu kopi keluar, saya pun akhirnya pamit sama saudara. Saya cuma membatin, pasti saudara bilang dalam hatinya, “ini mau silaturrahim atau pura-pura saja?”

Perjalanan pulang dari rumah saudara, ponsel terus bergetar tanda panggilan masuk. Saya terpaksa berhenti dan menerimanya, “jangan lupa besok ada rapat, hadir dong soalnya penting banget.” Nah penting lagi. Gawat lagi.

Tetapi seperti inilah yang saya alami. Entah dini hari, pagi, siang, sore, dan malam selalu saja ada orang yang “mengganggu” mulai dari yang punya masalah serius atau sekedar iseng. Semua hampir selalu sama. Penting sekali dan gawat sekali.

Lepas dari Gadget
Tibalah suatu saat, saya benar-benar lepas dari gadget. Saya seperti bebas dan lepas dari hantu. Meski hanya tiga hari saya sangat menikmatinya.

Bermula ketika saya main ke rumah teman yang rumahnya jauh. waktu saya mau pulang saya buru-buru. Akhirnya ponsel saya ketinggalan. Sebenarnya saya ingat ponsel ketinggalan ketika motor saya baru 200 meter dari rumah teman. Tapi waktu itu saya benar-benar malas mau balik.

Karena jauh, saya membiarkan ponsel di rumah teman hingga 3 hari. Betul-betul luar biasa. Jika dishare kira-kira pengalaman 3 hari tanpa ponsel adalah sebagai berikut :

Pertama, saya menikmati kesunyian yang tiada tara. Saat itulah saya menemukan saya. bisa merefleksikan kesendirian saya dalam sunyi. Merenungi makna hidup yang kian bising dan asing. Paling tidak menertawakan diri yang kian ringkih diperbudak gadget.

Kedua, saya menikmati kehangatan bersama keluarga yang sebelumnya tak pernah saya rasa. Saya tak perlu lagi menerima panggilan sambil mengabaikan rengekan anak mau digendong seperti sebelumnya. Saya tak perlu pura-pura mendengar curhat anak, pada hal sibuk mencet-mencet tombol ponsel. Waktu sepenuhnya milik saya dan keluarga, juga untuk para tetangga. Memang putus dengan dunia luar, tapi gantinga kuat di dalam.

Ketiga, saya seperti lepas dari hantu kesibukan yang tidak semuanya perlu dan penting. Saya seperti bebas dari terror “terburu-buru” karena seolah semuanya gawat. Saya kembali menemukan diri, mengatur ritme hidup berjalan sederhana.

Tetapi, ketika lepas 3 hari saya kembali memegang ponsel, saya dimarahi banyak teman. “kok menghilang, kemana aja sih…” waduh..rupanya tanpa ada ponsel, saya ternyata bikin dosa juga sama teman. Inilah repotnya. Bermimpi lepas selamanya, tapi tidak mungkin karena sudah kadung punya.

Maka yang bisa saya lakukan saat ini, saya harus menggunakannya dengan bijak.  Contoh  kecilnya,
  •     saya matikan ketika rapat
  •     saya tinggalkan di kantor ketika mengajar
  •     saya taruh di rumah ketika ada undangan
  •     saya tinggal di rumah ketika jum’atan
  •     saya matikan ringtonenya, hanya getar
  •     saya matikan ketika mau tidur
  •     saya call teman/kawan di jam-jam santai
Itu yang bisa saya lakukan, meski mimpi lepas dari hantu gadget masih menggelegak di dada. Ibarat hantu, gadget, bagi saya, kadang menakutkan.
[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar

Seorang teman saya cerita, “teller di lembaga keuangan mikro itu ramahnya bukan main. Tiap saya melakukan transaksi di sana, ia selalu tersenyum. Tapi ketemu di luar kantor, jangankan menyapa, senyum saja juga tidak.”

Mendengar ceritanya saya tertawa. Meski dalam hati sebenarnya sedih. Maaf bukan membenarkan, jika di kota saya masih maklum.Tapi ini di desa. Dimana senyum begitu mudah dilihat. Bertebaran menghiasi wajah hampir semua orang.

Urusan senyum ternyata makin tidak sederhana. Makin pelik dan rumit. Akhir-akhir ini orang tiba-tiba semakin malas tersenyum. Seolah senyum barang mahal, karena itu dimahalkan juga untuk sembarang diumbar. Akibatnya bisa kita saksikan. Orang-orang seperti berada dalam dunia yang kaku. Kering. Tak bergairah.

Tentu kita bisa lebih jauh mempertanyakan, kenapa senyum makin mahal? Kenapa orang kehilangan gariah untuk tersenyum? Jawabannya saya rasa karena kehidupan kita saat ini telah menyingkirkan yang personal dan emosional. Formalisme yang mencederainya. Wajar jika senyum tidak lagi menebar. Karena basisnya untuk tumbuh sudah dijungkalkan.

Akibatnya manusia modern ringkih dalam kesendirian. Ringkih dalam keterasingan. Orang-orang yang bertemu dalam sebuah lokus, entah di angkot, jalan, pasar, dsb semua menampilkan wajah yang pucat. Kehilangan gairah untuk intim dan berinteraksi. Saling enggan bertegur sapa, baik verbal maupun simbolik.

Sial memang. Setiap orang yang berpapasan sepertinya diposisikan sebagai “the others”. Orang lain. Asing. Atau dalam derajat yang lebih menghawatirkan dianggap sebagai “musuh” dan “pesaing”. Dalam kesadaran dan kondisi bathin seperti ini saya pikir sulit mengharapkan senyum menebar. Karena senyum butuh spirit, keikhlasan berbagi.

Nah dalam kekosongan senyum yang ikhlas dan apa adanya, dengan cerdas kepitalisme justru merebutnya. Tidak dalam rangka menggairahkannya, tetapi malah menjualnya. Maka bisa kita saksikan senyum-senyum tak menggetarkan muncul dimana-mana. Di bank, hotel, atau pusat bisnis senyum terus didaur ulang dan direproduksi lepas dari sesuatu yang bersifat personal dan emosional.  Ya kira-kira, menyusupkan senyum dalam rangka mengakomulasi modal.

Mungkin kita perlu belajar senyum pada anak-anak. Senyum tulus. Karena jauh dari pamrih dan kepentingan.

[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 2 komentar

korong ketupat (dok pribadi)
Jangan mencari ketupat pada tanggal 1 syawal di Madura. Tak mungkin anda akan menemukannya. Ketupat baru muncul di setiap rumah seminggu setelah lebaran. Itu karena di Madura ada tradisi unik namanya tellasan topa’ (lebaran ketupat).  Persis hari ini, 7 hari setelah lebaran idul fitri, masyarakat Madura sedang merayakannya

2-3 hari menjelang tellasan topa’ biasanya  orang Madura sudah menyiapkan “korong” (bungkus ketupat). bahan korong ketupat ini diambil  dari pohon siwalan (pohon gula merah). Korong yang dibuat dari “janur” pohon siwalan terasa lebih gagah ketimbang korong yang diuat dari janur pohon kelapa. Ini dikarenakan “janur” pohon siwalan lebih keras ketimbang janur pohon kelapa. Manfaat lain, ketupat yang dimasak dengan korong pohon siwalan terasa lebih nikmat karena wangi janurnya membekas. Hal ini kurang terasa jika korong yang digunakan mengambil janur pohon kelapa.

Jika dulu, korong ketupat dibuat sendiri. Hampir setiap anggota keluarga di suatu rumah bisa semua membuatnya. Termasuk anak-anak sudah memperoleh keterampilan membuat korong ketupat sejak usia dini. Kecuali saya, tetap saja hingga jadi bapak-bapak tidak bisa membuatnya.

Saat ini era instant. korong ketupat tinggal beli dipasar seperti yang dilakukan istri saya. di pasar menjelang lebaran ketupat sangat banyak pedagang yang menjual korong ketupat. memang terasa ada yang hilang. Jika dulu anggota keluarga  bersama-sama membuat korong ketupat. bahkan juga dengan tetangga. Sungguh terasa akrab.

ketupat siap dimakan (dok pribadi)
Esoknya, kira-kira jam 08.00, saatnya merayakan lebaran ketupat. Di hari itu biasanya para ibu-ibu –minus bapak—kumpul di rumah istri tokoh masyarakat. Mereka membawa ketupat lengkap dengan lauknya. Ada juga yang membawa “soto ketupat”. Di rumah istri tokoh masyarakat, para ibu-ibu makan bersama.

Pulangnya, mereka pasti dibawakan ketupat oleh istri tokoh masyarakat tadi. Ya semacam “tukeran ketupat”.  Lebaran ketupat sepertinya memang lebaran para perempuan. Sementara bapak-bapak cukup makan di rumah.

Makna di balik Lebaran Ketupat
Tellasan topa’ bagi orang Madura memiliki makna mendalam. Tellasan topa’ adalah wujud dari jalinan silaturrahmi yang harus tetap dipelihara sehabis lebaran. Persis seperti koong topa’(bungkus ketupat)  yang terjalin dengan indahnya,  saling menelusup hingga membentuk jalinan yang rapi dan kuat.

Tentang perayaannya yang dilakukan satu minggu setelah idul fitri, hal ini sebagai penanda bahwa “silaturrahmi resmi hari raya” telah usai dan masyarakat bisa kembali melakukan aktivitas sehari-hari. Karena biasanya selama satu mingggu setelah lebaran, orang Madura sementara “menghentikan” aktivitas sehari-harinya, karena waktu satu minggu itu memang disediakan untuk menghormat  saudara, tetangga, sahabat yang hendak bersilaturrahmi.

Tetapi bukan berarti orang yang bersilaturrahmi setelah lebaran ketupat dilarang. Cuma silaturrahminya seperti silaturrahmi di hari biasa, karena “suasana” lebaran sudah hampir habis. Orang yang bersilaturrahmi sehabis lebaran ketupat biasanya dengan sedikit malu-malu akan bilang, “maaf, saya lambat bersilaturrahmi.”  
Bagi orang yang nyawal (puasa sunnah selama 6 hari setelah lebaran), tellasan topa’ adalah lebaran kedua kalinya. Tellasan topa’ dirayakan juga untuk menghormati orang yang puasa sunnah setelah hari raya.

Berkumpul di Tempat Wisata
Sejak era 80-an, ada tradisi baru dalam perayaan tellasan topa’. Masyarakat urban dan anak-anak muda biasanya berkumpul di tempat-tempat wisata. Jika di sumenep, tempat wisata yang ramai dikunjungi adalah pantai lombang dan selopeng. Pengunjung tumpah ruah hingga ribuan orang.

pantai lombang (diunduh dari google)
pantai salopeng (diunduh dari google)
Bagi saya, orang desa, pada waktu tellasan topa’ cukup makan soto ketupat yang antar tetangga memang saling antar. Atau bercengkerama sambil  mengais makna ramadlan yang sudah usai.
[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 5 komentar

dokumen pribadi
Saya sebenarnya sudah lama melihat wajah laki-laki dalam foto ini. Saya sering melihatnya di jalan raya ketika hendak pergi ke kota. Memakai kaos oblong lusuh, bercelana pendek, dan memakai kopiah. Ia biasanya berjalan kaki. Cuma saya tidak tahu namanya, asalnya, dan keistimewaannya. Yang saya tahu, ia dikenal banyak orang sebagai (maaf) ‘orang gila’.
 
Saya mengenal lebih dalam orang ini ketika saya melayat ke kenalan saya yang keluarganya meninggal. Secara santai di sana ketika kami ngobrol tentang makin kuatnya sikap tidak peduli antar sesama, kenalan saya malah menyebut ‘orang gila’ ini memiliki kepedulian luar biasa.
 
Ia, kata teman saya, telah memperbaiki jalan raya sepanjang 500 meter yang rusak dan berlubang di desa longos, kecamatan Gapura, kabupaten Sumenep dengan  tanah sebagai pengganti aspal. Jalan itu memang rusak berat dan sudah cukup lama dibiarkan oleh pemerintah daerah. Berkat kepeduliannya, orang yang berkendaraan mobil/motor sedikit terbantu karena jalan kembali rata. Saya sendiri  ketika naik motor berangkat melayat memang lewat jalan rusak yang sudah ditambali tanah itu
 
Pada hal orang gila ini tidak memiliki kepentingan apapun dengan rusaknya jalan. Toh untuk ke kota yang jaraknya 20 km dari desa longos, tempat tinggalnya, ia berjalan kaki. Karena inilah teman saya mengajukan pertanyaan,  “masa orang waras kalah sama ‘orang gila’?”. Teman saya yang lain nyeletuk, ”nah itulah masalahnya, sekarang yang waras justru gila, dan yang gila sebenarnya waras”. Kami semua tertawa –lebih tepatnya menertawakan diri—karena dibanding orang gila kami belum berbuat apa-apa untuk kepentingan orang banyak.
 
Dari teman itulah saya mengenal lebih dalam orang gila ini. Namanya pak Emmad. Tinggal di desa Longos, kira-kira 4 km kearah timur desa saya. Ia tidak berkeluarga. Umurnya sekitar 55-60-an. Setiap hari pekerjaannya keluyuran dengan jalan kaki. Termasuk ke kota yang jaraknya 20 km dari rumahnya. Kalau ada orang naik motor yang menawarkan diri untuk memboncengnya, ia tidak pernah mau. Termasuk tawaran angkot juga ditolaknya.  Ketika orang berkomunikasi, ia masih bisa meresponnya. Meski ia lebih asyik dengan dunianya sendiri.
 
Satu sifat lain yang terpuji, meski lapar sekalipun, ia  tak pernah meminta-minta sama orang. Kecuali kalau diberi diambilnya. Tetapi yang sering ia biasanya membantu orang tanpa diminta. Misalnya ngangkut-ngangkut barang di pasar. Atau membantu pekerjaan proyek jalan. Tetapi meski ia suka membantu, ia tidak pernah meminta tip. Kalau diberi diterima. Kalau tidak diberi juga tidak marah. 
 
Kita dan Orang Gila 
Apa yang ada di benak kita ketika melihat orang gila? Yang muncul dalam benak kita adalah sosok orang yang kita anggap sampah. Sosok makhluk asing yang tak pantas berada dalam ruang kita, tempat orang-orang waras menghuni. Mereka adalah the others dalam benak dan kesadaran kita. Satu bentuk ekslusi yang sudah kita bangun di alam pikir terhadap orang yang berbeda, karena keberadaan yang berbeda itu kita anggap sebagai ancaman.

Pandangan yang tidak adil terhadap orang  gila itu kemudian mendorong sikap dan tindakan yang tidak manusiawi terhadapnya. Mulai memandang nanar, membiarkan, mengucilkan, hingga memasungnya yang dalam tradisi masyarakat Madura disebut “ebhelakbhek “.  Perlakuan yang tidak manusiawi ini juga dilakukan oleh pemerintah. Di kabupaten saya baru-baru ini para pengemis dan orang gila “ditertibkan” oleh satpol pp karena dianggap mengganggu keindahan kota. 

Malah sejak abad 19 dan terus mengalami perkembangan hingga saat ini, orang gila sudah memasuki ruang-ruang akademik. Psikiatri sebagai disiplin ilmu kejiwaan telah mengambil alih definisi gila. Para ahli disiplin ilmu inilah yang menentukan siapa yang disebut waras dan gila, merekomendasikan masuk rumah sakit jiwa, melakukan control dan terapi hingga seseorang disebut waras kembali. Kuasa pengetahuan ini oleh Foucault dianggap lebih refresif daripada represi fisik sebagaimana terjadi sebelumnya, baca. 

Lesson Learned 
Apa yang ditunjukkan pak Emmad yang saya ceritakan di depan, seakan ingin menegaskan bahwa batas waras-gila sebenarnya sangat tipis. Begitu tipisnya hingga logika waras-gila bisa tumpang tindih, bahkan terbalik. Benar apa yang disampaikan teman saya di atas, saat ini yang waras gila, dan yang gila malah waras.

Kegilaaan orang waras saat ini begitu nyata dan bisa kita saksikan dalam keseharian. Dalam keluarga, pasar, jalan raya, sekolah, pemerintahan, parlemen, partai politik, dunia hiburan, media, bahkan ormas keagamaan malah lebih gila. Ya..semacam kegilaan di balik kewarasan. Saling injak, saling serobot, tidak peduli yang lemah, culas, bohong, korup, ngebom, mau menang sendiri, dan entah apa lagi kegilaan kita ini. Kita mungkin perlu belajar dari kewarasan pak Emmad yang oleh orang justru disebut gila.
[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar

google.com
Waktu saya mengikuti acara di sebuah pesantren di kota saya, pengasuh pesantren ketika memberikan sambutan mengatakan, “kalau dulu pemimpin itu bangun, sementara masyarakatnya tidur. Kalau sekarang malah pemimpinnya yang tidur, sementara masyarakatnya mati”.

Wuih..dalam sekali pernyataan kiai ini. Sangat filosofis. Meski menggunakan bahasa simbol, maknanya sebenarnya terang-benderang. Dawuhnya seakan ingin menegaskan bahwa saat ini telah terjadi degradasi nilai kepemimpinan. Seorang pemimpin yang sejatinya harus menjadi khadim al ummah (pelayan masyarakat) asyik dengan mimpinya sendiri. Ya, saat ini pemimpin kita sedang tidur lelap. Silahkan tanya, dalam keadaan “tidur”, bisakah pemimpin melakukan tindakan sadar?

Yang menarik bagi saya ketika kiai menyinggung sikap ketauladanan yang seharusnya dimiliki pemimpin. Lenyapnya sikap keteladanan ini sangat serius, sehingga kiai menggambarkan masyarakat saat ini “mati”. Suatu penggambaran situasi yang sangat tajam, dimana masyarakat sudah tidak lagi mendengar, melihat, dan merasakan kehadiran pemimpin.

Apa yang disampaikan kiai sepuh di atas sebenarnya wujud dari kegelisahan melihat pemimpin saat ini yang tidak berkarakter. Karakter pemimpin yang seharusnya menjadi tauladan dalam laku dan kata digantikan oleh realitas pemimpin yang menjungkirbalikkan maknanya.

Hilangnya karakter kepemimpinan saat ini meluas. Tidak saja terjadi dalam kepemimpinan formal, tetapi mulai melebar pada pemimpin-pemimpin non-formal. Bahkan dalam beberapa kasus membentuk jaringan patron-klien. Inilah ruwetnya. Dampaknya sangat besar. Saat ini muncul ketidakpercayaan (distrust) masyarakat pada pemimpinnya.

Saya mencatat ada beberapa hal yang bisa dijadikan clue bahwa pemimpin saat ini jauh dari karakter pemimpin yang seharusnya, yaitu:
  1. Tidak memiliki visi yang jelas dan jauh ke depan. Ketiadakan visi ini menyebabkan dua hal. Pertama, pemimpin seringkali terjerembab dalam kepentingan jangka pendek, sesaat, dan rutin. Jika dilihat perdebatan dan “pertengkaran” yang dipertontonkan pemimpin juga didorong oleh kepentingan jangka pendek tadi. Bukan perdebatan dan”pertengkaran” membincang visi atau perdebatan ideologi masa depan bangsa ini. Kedua, ketiadaan visi menyebabkan masyarakat yang dipimpinnya berada dalam situasi yang gelap, karena tidak tahu kemana pemimpin akan membawa masa depannya.
  2. Sebagai kelanjutan yang pertama, saat ini pemimpin cenderung berjalan sendiri-sendiri. Tak ada kemauan untuk duduk bersama membangun dialog dalam hubungan yang setara. Antar pemimpin lebih suka saling jegal, menjelekkan, menikam, memfitnah, atau menyerangnya dengan kata-kata kasar yang jauh dari kesantunan. Singkatnya, pemimpin saat ini merasa benar sendiri dan mau menang sendiri.
  3. Jika berpikir “orang lain” paling banter pemimpin saat ini sekedar memikirkan “kelompoknya”. Ibarat geng, kesetiaan terhadap kelompok begitu kuatnya. Dalam kesadaran tertancap satu keyakinan, di luar kelompoknya adalah “ancaman”. Maka tak aneh jika realitas kepemimpinan akhir-akhir ini mempertontonkan drama “saling ancam”. Kasus resuffle kabinet, PSSI, hingga teror bom –untuk menyebut beberapa contoh—menjadi bukti saling serang antar kelompok itu riil. Bahkan sudah melebar hingga ke ranah civil society.
  4. Tidak amanah dan tidak bisa dipercaya. Antara laku dan kata begitu senjangnya. Sehingga masyarakat saat ini cenderung menggunakan logika terbalik merespon ucapan pemimpin. Jika pemimpin bilang, “kebijakan ini untuk kesejahteraan rakyat”, justu dibaca secara terbalik sebagai “kebijakan yang menyejahterakan diri sendiri dan kelompoknya”. Logika terbalik memang berbahaya. Tetapi hal ini muncul sebagai akibat, bukan sebab.
  5. Hubbun dunya atau cinta mati sama dunia. KH Musthafa Bisri –dikenal Gus Mus—dalam kolomnya di salah satu media nasional malah mensinyalir hubbun dunya  sebagai akar masalah bangsa ini. Pemimpin-pemimpin kita mempertontonkan simbol kebendaan hasil dari penjarahan dan korupsi, di saat rakyat berada dalam kubangan kemiskinan yang tak kunjung selesai.
  6. Tidak memiliki ideologi kerakyatan yang jelas. Hal ini bisa ditunjukkan oleh hilangnya kepekaan terhadap permasalahan yang dialami oleh rakyat. Malah saya melihatnya para elit seperti membentuk pergaulan yang ekslusif antar sesama elit dan terkesan “sombong” sama masyarakat yang dipimpinnya.
  7. Tidak memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Kekisruhan yang sepertinya tidak ada henti-hentinya dipertontonkan para elit menjadi bukti betapa para elit gagal menjelaskan secara gamblang setiap tindakan yang diambilnya. Bahkan ucapan pun terkadang menggunakan bahasa yang tidak santun dan menyakitkan.
  8. Silahkan tambahkan sendiri...
Nah..wajar jika rakyat mulai “mati rasa” merespon pemimpinnya saat ini. Karena saat ini bertebaran pemimpin-pemimpin yang tidak memiliki karakter. Atau Pinjam dawuh kiai di atas, pemimpin yang (sedang) tidur. ZzzzzzzzZzzzzzzzzz




[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar

singkongku.blogspot.com
Beberapa hari yang lalu, keponakan saya –yang tempat tinggalnya kira-kira 7 km dari rumah saya—bersilaturrahmi ke rumah. Secara empatik, ia bercerita tentang kgegetiran hidup yang dialami tetangganya. Begitu sulitnya untuk sekedar survive dalam situasi ekonomi yang makin terpuruk seperti saat ini. Sesekali ia menyesali peran negara yang abai terhadap warganya.

Cerita pertama tentang tetangganya yang sudah 5 hari makan singkong rebus. Saya terenyuh. Mendengarnya membuat saya merinding sambil menahan marah karena tidak tahu harus berbuat apa. Kadang saya tidak percaya. Di zaman seperti ini, masih ada rakyat yang makan singkong rebus selama lima hari? Bagi saya ini adalah fakta yang sangat menyedihkan. Menusuk jantung kemanusiaan. Sayang, tusukan menghunjam ke jantung kemanusian tetap saja tak mampu mengalihkan perhatian para elit selain berjibaku berebut “gizi” sambil menginjak hak warga miskin di altar kekuasaannya.

Keponakan saya meneruskan ceritanya. Ketika ponakan saya ketemu sama tetangganya yang makan singkong rebus selama 5 hari, ia bercerita sambil menangis. Masalahnya pencernaan anaknya tak kuat lagi menggiling singkong rebus selama 5 hari. Ia menangis ketika anaknya bilang, “pak...saya pingin nasi”. Saya membayangkan (sekali lagi hanya mampu membayangkan), begitu gaduhnya hati, pikiran, dan perasaan si bapak ketika mendengar permintaan polos dari seorang anak untuk makan nasi? Sementara saya melihat di warung makan, orang-orang banyak yang tidak menghabiskan nasi, hanya karena (mungkin) hawatir dinilai rakus? 

Cerita kedua tak kalah menyentuhnya. Di suatu pagi, ada tetangga keponakan saya yang “menyorongkan” kayu bakar ke tungkunya, pada hal tidak ada sesuatu yang dimasak. Dengan asap yang mengepul, ia hanya ingin memastikan kepada tetangga  di sekitarnya, bahwa ia masih bisa masak. Pada hal sebenarya tidak. Ia hanya ingin tetangga di sekitarnya tidak perlu tahu bahwa ia tidak punya beras untuk dimasak. Ia malu.

Saya hanya mengelus dada, tak tahu apa yang harus dilakukan. Kepada keponakan saya hanya bilang agar diakseskan ke beras raskin pada pemerintahan desa. Dari kasus ini,  saya belajar setidaknya beberapa hal :
  1. Meski dua orang ini miskin tapi mampu menjaga kehormatan. Kehormatan untuk tidak menjadi pengemis atau yang paling buruk menjadi maling. Sungguh kasus ini sangat kontras dengan kehidupan banyak orang –lebih-lebih para elit—yang rakus dan tamak, termasuk dengan mengambil hak orang lain.
  2. Kasus di atas sekali lagi menunjukkan bahwa warga miskin sangat tangguh. Ia memiliki kesabaran luar biasa menghadapi hidup yang makin tidak menentu. Tetapi kesabaran warga miskin tidak bisa dijadikan alasan oleh negara untuk mengabaikannya. Negara berkewajiban memenuhi hak-hak sosial-ekonomi warga miskin.
  3. Database penerima beras raskin begitu kacaunya. Orang yang seharusnya menerima malah tidak memperoleh. Sebaliknya, yang tidak pantas menerima, malah dapat.
  4. Saya percaya banyak kasus serupa di belahan republik ini. Kemiskinan gampang ditemui di mana-mana. Sudah saatnya para elit bahu-membahu berpikir dan untuk menyejahterakan masyarakat –terutama warga miskin—daripada sibuk berjibaku berebut kekuasaan. Mengabaikannya adalah mendhaliminya.
Itulah dua cerita yang membuat saya terenyuh tapi bisu dalam tindakan.

[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar

kompas.com
Madura, di samping dikenal sebagai pulau penghasil garam,  juga dikenal sebagai pemasok tembakau. Tanaman tembakau terkonsentrasi di tiga kabupaten yaitu sampang, pamekasan, dan sumenep. Hanya bangkalan yang tidak memiliki tradisi penanaman tembakau. Kalaupun ada mungkin hanya di daerah perbatasan bangkalan-sampang.

Penanaman tembakau di Madura memiliki sejarah panjang. Kuntowijoyo dalam buku Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris Madura mencatat, penanaman tembakau di Madura dimulai pada tahun 1861. Yang pertama kali memulai adalah tiga usahawan Belanda di kabupaten Pamekasan.

Dalam perkembangannya, tanaman tembakau mengalahkan tebu dan gula siwalayan yang memang lebih dahulu dikenal masyarakat Madura. Sebagai tanaman komersial tembakau sangat menjanjikan. Wajar jika penanaman tembakau mengalami perkembangan pesat hingga meluas ke Sumenep, kabupaten yang berada di ujung timur pulau Madura. Pada tahun 1875 di pamekasan telah dipanen tembakau dari tanah seluas 137 bau, 5 tahun kemudian (1880) naik seluas 279 bau. Di sumenep, tahun 1884 seluas 3.671 bau, dan pada tahun 1905, 8.865 bau.*

Bahkan menurut Kuntowijoyo, setelah perang dunia I tembakau Madura tidak saja diminati oleh pasar lokal tapi bisa menembus pasar Eropa. Sayang, hal ini tidak bisa berlanjut lama, dikarenakan tiap-tiap produsen tidak memiliki standar yang sama dalam menjaga mutu tembakau. Akibatnya pasar internasional menghentikan pasokan tembakau dari Madura.

Meski terputus dengan jaringan pasar internasional, tembakau Madura tetap dibutuhkan pasar lokal. Hal ini bisa dibuktikan dari tahun ke tahun jumlah petani yang menanam tembakau terus meningkat. Hampir semua sawah yang menghampar sejak dari Sampang, Pemekasan, dan Sumenep dipenuhi oleh tanaman tembakau.

Dari sisi penyerapan tenaga kerja, mengutip data Kompas, tembakau dan Industri hasil tembakau menyediakan lapangan kerja (langsung atau tidak) bagi 6,4 juta orang (40 persen dari pulau madura, dan 60persen tersebar di jawa dan nusa tenggara). Meliputi 2,3 juta petani tembakau,1,9 juta petani cengkeh,199.000 pekerja pabrik rokok, sekitar 1,15 juta pedagang eceran dan asongan, 900.000 yang keberja pada sektor lembaga keuangan, percetakan, dan transportasi (Radar Madura, 14/10/2008).

Di daerah pengembangannya, tembakau memberikan sumbangan 60-80 persen dari total petani. Di Madura uang kartal yang disediakan bank Indoensia musim panen di pamekasan dan Sumenep meningkat menjadi 750 milyar sampai 1 triliun perbulan. Bulan-bulan biasa hanya 100 juta (Radar Madura, 14/10/2008).
Laba yang diperoleh oleh perusahaan rokok juga tidak tanggung-tanggung. Gudang Garam dan HM Sampoerna pada semester pertama 2009, misalnya, memperoleh laba Rp 1 trilun lebih. Hal serupa juga didapat pemerintah dari tarif cukai rokok, sebesar Rp 30 triliun per tahun ( baca di sini ).

Pada dekade 80-an dan 90-an bisa disebut sebagai era keemasan tembakau Madura. Tak terhitung banyaknya para petani yang merasakan masa keemasan itu. Meski harus diakui bahwa yang paling beruntung tetap para pengepul, “gudang”**,dan  termasuk negara.

Meski keajegan harga tembakau tidak sama di setiap tahunnya, tetapi jika tahun ini merugi, masih bisa ditutupi di tahun berikutnya. Seperti yang diungkap H Jauzi, tetangga saya, pada tahun 1998 harga tembakau jatuh. Tetapi kerugian pak haji ini masih bisa tertutupi pada tahun 1999.

Di kecamatan saya pada dekade 80 dan 90-an tak terhitung jumlah petani yang bisa naik haji, menyekolahkan anaknya hingga PT, membangun rumah, dan membeli kendaraan bermotor. Ungkapan petani waktu itu, “bertani 3 bulan, cukup untuk hidup setahun”. Ada lagi ungkapan, “jika banyak hutang, bertanilah tembakau”. Wajar jika orang Madura menyebut tembakau sebagai “emas hijau”.

Tembakau Madura mengalami fluktuasi harga sejak tahun 2000. Puncaknya pada tahun 2008-2009. Di tahun ini harga tembakau rajangan di daerah saya jatuh hingga 4 – 6 ribu/kg. Pada hal harga normal  Rp. 15 - 20 ribu/kg. Ilustrasinya kira-kira seperti ini, jika petani menjual tembakau 1 ton dengan harga normal  20.000 dia akan mendapatkan uang sekitar 20 juta. Tetapi jika harga jatuh hingga 4.000, dia hanya akan mendapatkan uang 4 juta. Berarti kerugian petani ini sekitar 16 juta per tonnya. Jika 5 ton, silahkan kalikan saja kerugiannya.  Beginilah kira-kira kerugian petani tembakau sejak tahun 2000.

Sejak tahun 2010 banyak petani tembakau di daerah saya kapok. Mereka beralih menanam padi, jagung, sayur, dan tanaman pangan lainnya. Memang, keuntungan tanaman ini tidak sebesar tanaman tembakau. Pesoalannya buruh tani yang tidak memiliki sawah atau yang hanya menjual tenaganya, pemasukannya kurang akibat makin sedikitnya petani yang menanam tembakau. 

Apalagi saat ini, ketika harga kebutuhan pokok kian melonjak, kelompok rentan ini semakin kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Efek dari tamatnya keemasan “si emas hijau” ini menyebabkan angka urbanisasi tiap tahun di daerah saya terus meningkat. Sesuatu yang tidak saya temua 15 tahun yang lalu.

Belum lagi adanya UUKesehatan  yang mengkatagorikan tembakau sebagai zat  adiktif. Tentu saja UU ini memiliki implikasi serius karena tanaman tembakau akan terus semakin berkurang. Karena itu, menjadi penting pemerintah (terutama pemerintah daerah) mengupayakan tanaman alternatif yang hasilnya setara dengan tanaman tembakau.
Ah...”si emas hijau”, riwayatmu kini.

Catatan :
  • Satuan bahu banyak digunakan untuk areal pertanian ( sawah atau ladang ) dan telah dipakai sejak     zaman hindia-belanda. Menurut Cultuurstelsel, 1 bouw adalah 7096,5 meter persegi (baca di sini )
  • sebutan orang Madura terhadap kantor perwakilan perusahan rokok yang  ada di Madura. semua  perusahan rokok besar seperti Djarum, Gudang Garam, Sampoerna, dsb. Memiliki kantor pewakilan dan gudang penyimpanan tembakau.
[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 2 komentar

google.com
Rampak naong adalah falsafah masyarakat Madura. Lengkapnya falsafah ini  berbunyi, “rampak naong, beringin korong”. Arti bebasnya kira-kira, “rindang dan teduh”. Frase ini memang menunjuk pada pohon yang dulu paling saya benci; BERINGIN. Sebuah pohon dengan akar yang kuat, batang kokoh, teduh dan rindang, meski menurut mitos orang Madura banyak makhluk halusnya. 
Rampak naong makin terkenal karena menjadi nama group musik. Saya sendiri tidak tahu, apa personelnya dari Madura? Terus terang, saya cuma tahu namanya. Sampai sekarang, satu pun saya belum pernah denger lagunya.
Di jakarta juga ada yayasan rampak naong. Sebuah yayasan tempat berhimpunnya masyarakat Madura. Dulu ketika kuliah saya pernah menghadiri acaranya, kalau gak salah halal bihalal. Ketika itu yang jadi MC kocak, Pepeng Si Jari-jari. MC ngetop pada masanya.
Ahirnya rampak naong saya pilih menjadi nama blog saya. Bukan latah. Saya memilih frase ini dengan sadar. Sebagai orang Madura, saya merasakan betul bagaimana orang luar menempatkan saya dalam citra yang penuh prasangka. Satu hal yang saya pikir kontraproduktif dengan konteks keindonesiaan yang plural. Atau dengan gagasan multikultural, yang justru kadang-kadang dicederai oleh orang yang paling getol mengkampanyekannya.
Salah satu prasangka yang melekat betul dalam alam bawah sadar orang luar, Madura = kekerasan. Carok ditunjuk sebagai mekanisme penyelesaian masalah yang menggunakan kekerasan paling sempurna. Ah..lengkap sudah saya menjadi terdakwa. Pada hal asli saya lembut. Selembut (minus kama) sutra. Hi..hi..
Saya juga heran. Jika Anda membaca berita di koran, 1 orang mati akibat carok pasti bulu kuduk Anda berdiri. Yang terbayang dalam benak Anda adalah clurit, senjata yang mirip tanda tanya. Ih.. serem. Tapi jika Anda mendengar 10 orang mati akibat terbunuh senjata pistol, Anda biasa saja. Maksud saya bulu kuduk tidak semerinding merespon celurit. Apa karena pistol senjata modern? Ah jebakan simbol ternyata dahsyat. Pada hal bahaya membunuhnya lebih dahsyat ketimbang celurit yang dianggap senjata tradisional itu. 
Nah, sekarang saya mau mengajukan pembacaan lain. Membunyikan suara yang mungkin dari dulu tak pernah terdengar. Ya..rampak naong. Satu falsafah yang menegaskan bahwa orang madura suka damai. Seteduh pohon beringin. Sedamai semilir angin yang menumpuk di rindangnya.
Sebagai frase yang menunjuk pada pohon beringin (maaf bukan dalam makna politis), pohon ini bisa menjadi tempat bagi siapapun yang ingin berteduh. Siapa saja yang ingin bernaung sambil merasakan semilir angin yang menyejukkan. Sambil asyik berbincang, sesekali bersenda gurau, atau sekedar berembuk dari permasalahan remeh sampai yang serius. Terserah mau duduk bersila atau selonjor, silahkan. Namanya juga di bawah pohon.
Karena rampak naong ini pula, sampai detik ini, tak ada kerusuhan SARA di pulau Madura. Orang China yang beragama Hindu, Budha, Kristen, Katholik atau yang sudah menjadi muslim, ras Arab, India, Pakistan yang beragama Islam hidup berdampingan dengan orang Madura. Damai, sejuk, dan penuh toleran. Kehidupan yang sangat kontras dengan stigma kekerasan yang disandangnya.
[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar

kompas.com
Pikiran iseng saya muncul ketika prestasi timnas ahir-ahir ini memuncahkan kembali semangat nasionalime. Adakah kelompok tertentu di Indonesia yang  tidak terpengaruh dalam hiruk-pikuk nasionalisme ala sepakbola?
Saya yakin ada. Setidaknya jika hal ini dicermati dari ideologinya. Siapakah itu? Pengusung isu khilafah. Entahlah, jika dalam realitas keseharian (anggota) kelompok ini memang suka bola. Jika ini benar, saya yakin pengusung isu khilafah di Indonesia akan mensupport timnas. Masa dukung Malaysia?
Kenapa nasionalisme mereka tidak memuncah? Sekali lagi ini problem ideologi. Pengusung isu khilafah justru berkehendak melelehkan batas-batas nation-state. Mencairkan nasionalisme. Dan meleburnya dalam satu kepemimpinan politik yang mereka sebut, (sistem) khilafah.
Ideologi ini mengandaikan ada kepemimpinan tunggal yang harus menyatukan negara-negara Islam/negara-negara muslim se dunia. Kira-kira setunggal dengan gagasan pan islamisme-nya al-Afghani. Satu bentuk romantisisme sejarah yang hendak menghadirkan khalifah di alam demokrasi kini.
Beralasan jika dalam kampanye ideologi mereka sering menyebut sistem demokrasi yang dipraktekkan banyak negara muslim sebagai kufur. Termasuk demokrasi pancasila – yang oleh masyarakat Indonesia dianggap common flatform yang merekat kemajemukan bangsa Indonesia—bagi  mereka juga sistem yang kufur. Meski mereka sendiri (boleh) tinggal di Indonesia lho.
Bicara ideologi memang ruwet. Tetapi dalam keseharian sering kali ada kesederhanaan. Tidak melulu hitam-putih. Ada humor, lelucon, joke, bahkan terkadang paradok. Itulah satu siasat yang paling manusiawi untuk menumpangtindihkan sesuatu yang ruwet itu. Setidaknya menertawai diri sendiri untuk keluar dari keruwetan hidup, termasuk kehidupan ideologi.
Nah, ideologi kawan-kawan pengusung isu khilafah  justru mendapat  ajakan berdialog santai oleh nasionalisme ala sepakbola. Nasionalisme yang menghibur. Saya menyebutnya sebagai natiotainment –meminjam istilah infotaintment yang sudah ditempatkan dalam bawah alam sadar masyarakat Indonesia.
Jadi, mari kita bersama-sama berdo’a untuk kemenangan timnas pada leg pertama putaran final di Malaysia, besok. Soal nasionalisme yang ruwet-ruwet kita diskusikan lain hari saja. Atau tak perlu didiskusikan karena NKRI sudah final (?).

Salam nasionalisme
 
[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar

Suami-istri. Bertahun-tahun pun hidup bersama membangun keluarga harmoni, pasti ada mesteri. Rahasia. Suatu ruang gelap dimana suami atau istri sulit menembus dan memahami pasangannya.

Wajar jika suami atau istri bilang, “sudah 15 tahun bersama, kok kamu belum ngerti aku sih?”. Jangankan 15 tahun, sampai mati pun kebersamaan suami-istri tidak dijalani melulu dalam dunia yang terang benderang. Ada gelap. Ada mendung.

Itulah berkah. Bayangkan jika suami atau istri mengenal dan memahami seluruhnya, sampai jumlah ubannya diketahui, tak ada lagi mesteri. Jika mesteri hilang, apalagi yang menarik. Sepertinya aura pasangan kita juga lenyap. Keunikan tiarap. Ah..tak ada lagi sesuatu yang bikin kita terkejut. Terpana. Terperangah. Heran. Maka kita hanya bertemu dalam wujud daging. Sebatas jasad. Gimana jika ketemu jasad tanpa roh? Hih..serem.

Konflik? Pasti. Kata orang tua dulu, piring saja lebih dari satu ngumpul bisa bunyi, apalagi manusia. Lengkap dengan pikiran dan perasaannya. Dengan segenap emosi dan kesadarannya. Wajar, jika konflik selalu mengiringi. Sepanjang usia perkawinannya.
Kadang masalahnya sepele. Misalnya, hanya masalah mainan anak yang tercecer satu di lantai. Suami dan istri bisa meresponnya berbeda. Kadang suami galak, istri lembut. Atau sebaliknya, istri galak-suami lembut.

Saya membaca, letak persoalannya bukan pada benda mainan yang sepele itu. Tetapi pada situasi batin suami dan istri yang mungkin waktu itu lagi tidak nyaman. Mainan anak hanya sasaran katarsisisme, meluapkan emosi yang mengendap dan dalam ancaman.
Kadang masalahnya besar. Menyita pikiran dan perasaan. Mengendapkan kesumat dan dendam. Membisikkan amarah dan rasa benci. Pada orang yang kadung berjanji mau sehidup semati.

Semakin gawat, jika masalahnya melebar. Meluas hingga ke keluarga si suami dan ke keluarga si istri. Menyapa dengan garang anak-anak sendiri yang sejatinya dilimpahi kasih sayang. Suasana pun tegang. Seperti Korea Utara dan Korea Selatan. Rumah seperti neraka. Karena kebencian dan amarah telah menjadi kayu bakarnya.

Di sini kesetiaan diuji. Menghargai dan memahami saya rasa adalah kata kuncinya. Komunikasi dan dialog adalah medianya. Kehendak untuk menghargai dan memahami dan kehendak berdialog dan berkomunikasi, adalah wujud dari kedewasaan. Siapapun yang memulai.

kompas.com
Ada tips yang mungkin bermanfaat, ketika keluarga kita dirundung konflik. Tips ini saya timba dari pengalaman orang tua, sahabat, tetangga khususnya yang berhasil mentransformasikan konflik.
  1. Jika Anda konflik dengan pasangannya, usahakan salah satu mengalah. Pergilah sebentar, sekedar menghindar dari pancingan amarah yang berlebih. Berkomunikasi dan berdialog dalam situasi marah, jelas tidak bisa. Boleh anda ke kamar lain, atau sekedar main ke sahabat terdekat.
  2. Jangan pernah menceritakan konflik Anda kepada siapapun. Termasuk kepada orang tua sendiri. Cerita Anda yang pasti subyektif, akan ditanggapi lebih subyektif oleh pendengarnya. Jika masalah meluas, akan menjadi bola liar yang tiba-tiba memantul kembali kepada Anda dan keluarga. Belum lagi orang yang kadang mencari keuntungan dari konflik keluarga Anda. Terkadang justru sahabat Anda sendiri.
  3. Jangan pernah konflik terbuka, bertengkar, apalagi melakukan kekerasan terhadap di hadapan anak-anak Anda. Pertengkaran Anda hanya akan menggoncangkan kesadaran anak-anak Anda. Menghilangkan keseimbangan hidupnya. Merekamnya dalam alam bawah sadar, yang suatu saat ketika dewasa ledakannya bisa lebih dahsyat. Ingat, pola kepengasuhan orang tua kepada anak akan menjadi model pola kepengasuhan ia kepada anaknya nanti.
  4. Jika emosi dan amarah sudah mereda, dialog dan komunikasi harus dilakukan. Dialog sebaiknya tepat pada akar masalah. Hasil dialog jadikan konsensus, biar konflik bisa ditransformasikan. Konsensus akan menjadi kode etik untuk memandu konflik serupa tidak terjadi lagi. Ingat, dialog bisa dilakukan dalam kesetaraan. Bukan menang-kalah. Kuat-lemah.
  5. Kalau mentok, carilah orang yang Anda yakini mampu memfasilitasi masalah Anda dengan obyektif. Bisa tokoh masyarakat, psikolog, atau keluarga Anda yang bisa bersikap netral sama masalah Anda.
  6. Hati-hati terhadap sebagian sahabat, tetangga, teman kantor, atau “bekas-bekasan” yang kadang mengambil keuntungan dari prahara keluarga
  7. Selalu memohon do’a, petunjuk, dan kekuatan sama Yang Maha Kuasa untuk bisa membangun sorga dalam keluarga kita.
[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 3 komentar


google.com

Ini cerita kawan saya sesama orang Madura. Kejadiannya sudah lama. Kira-kira tahun 1997 ketika saya masih kuliah di IAIN (sekarang UIN) Jakarta. Bersama kawan-kawan lintas suku, saya mengontrak rumah secara patungan, sekalian jadi tempat kajian dan diskusi.

Saat itu, seorang kawan dari jawa menyuruh kawan saya dari Madura, yang baru beberapa bulan hijrah ke Jakarta untuk kepentingan kuliah. Kebetulan sore hari kami lagi santai nongkrong di beranda rumah.
“bisa ambilkan bendera NU gak di kamar saya”, kata si jawa sama teman saya.

Teman saya yang masih yunior (maksudnya baru kuliah) mau saja disuruh seniornya (maksudnya kuliahnya gak kelar-kelar). Dengan malas ia beranjak masuk ke kamar si jawa.

Dari dalam kamar si madura teriak, “bendera NU yang biru ini ya?”
Sontak saja kawan-kawan yang lagi nongkrong di beranda rumah tak kuat menahan tawa.

“hu....itu bukan biru, hijau tahu?”, kata seorang teman sambil memegang perutnya yang mulai sakit kebanyakan tertawa.

“Dasar Madura, buta warna”, olok kawan saya yang lain. Saya sambil ketawa kasihan juga melihat kawan baru yang masih polos itu jadi bahan tertawaan lintas suku. Mungkin dia juga gak ngerti, “salah apa saya. Bukankah bendera NU memang biru?”

Saya bilang sama dia, “di Madura memang warnanya biru, tapi kalau di sini warnanya berubah jadi hijau”.

Memang dalam bahasa Madura tidak  ada kosa kata “hijau”. Warna daun di Madura juga disebut “biru”. Terus, warna biru di Madura disebut “bungu” (ungu). Jadi warna langit sama orang Madura ya “bungu”.  Jadi, tak salah jika dibilang orang Madura buta warna.
Bukankah di sekolah dipelajari warna? Betul..tapi bahasa Madura yang menjadi bahasa keseharian lebih kuat menancap ketimbang bahasa Indonesia yang diajarkan di sekolah.

Bahasa sungguh problematik

Inilah kasus bahasa yang sungguh problematik. Tapi  ada pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman lucu teman saya tadi menyangkut bahasa :

  • Tidak mudah mempertemukan dua bahasa yang secara kebudayaan berbeda
  • Terkadang –malah mungkin lebih sering—sulit mencari padanan kata untuk menerjemahkan bahasa ibu ke bahasa kedua.

  • Kalaupun ditemukan padanannya, tapi terkadang tidak pas. Kata padanan bisa “membeku”, bisa “mencair”. Bisa mereduksi makna, bisa meluaskan makna.
  • Soal warna memang bukan soal kesulitan mencari padanan. Masalahnya terletak pada perbedaan dalam menyebutnya.  

  • Pendidikan multikultural juga penting menyingkap bahasa terutama yang bisa mengganggu komunikasi dua orang yang berbeda secara budaya

Matorsakalangkong
[ Read More ]