Posted by rampak naong - - 0 komentar



Ke Giliyang di bulan Agustus terasa berbeda. Ombaknya sangat besar. "Asapo' angin abantal omba' (berselimut angin, berbantal ombak), begitu ungkapan orang Madura. Setiap kali melihat ombak setinggi gunung menggulung perahu, setiap itu pula perasaan ciut muncul. "Biar selamat, yang banyak baca shalawat", kata Haji Basit, 67 th, tetangga saya yang juga ikut rombongan. Watak manusia seperti saya, baru ingat Tuhan jika marabahaya menghadang.

Kami rombongan Kompolan Tera' Bulan datang kedua kalinya ke pulau  yang sekarang dikenal sebagai tujuan wisata karena kualitas oksigennya yang bagus. Bersama KH Muhammad Shalahuddin yang akrab dikenal kyai Mamak, Kompolan Tera' Bulan diundang secara khusus oleh Kyai Irsono dan istri yang mau berangkat haji bulan ini. Ya, ini adalah selametan calon haji.

Berangkat jam 17.00 dari pelabuhan Dungkek dan tiba di Giliyang 40 menit kemudian. Karena lumayan besar perjalanan terasa lama bagi saya. Tiba di pelabuhan, 20 motor sudah siap menjemput rombongan. Kali ini rombongan memang sedikit, karena ada sekitar 10 orang yang terpaksa ditinggal berhubung terlambat datang ke pelabuhan dungkek pada saat perahu sudah harus berangkat.

Tiba di rumah kyai Irsono, kami langsung shalat maghrib. Sehabis shalat kami berbaur dengan ratusan para undangan yang akan menyaksikan kyai Irsono pamit mau berangkat ke tanah suci. Diawali dengan sambutan kyai Irsono, sekaligus beliau mohon maaf kepada hadirin, mohon doa, dan pamit, kemudian acara dilanjutkan dengan uraian hikmah haji oleh kyai Mamak, dan dilanjutkan dengan tahlil yang dipimpin ketua Kompolan, Tirmidzi. Habis tahlilan, acara dilanjutkan dengan bincang-bincang santai seputar haji yang diselang-seling dengan shalawat diiringi hadrah al banjari.

Kyai mamak mengurai secara dalam soal haji ini. Tetapi yang paling saya ingat, diantara ibadah lain, ibadah haji merupakan ibadah yang paling diingini oleh muslim, sejak tua hingga anak-anak. Termasuk orang yang sudah naik haji pun masih ingin ke Mekkah lagi. Bahkan keinginannya lebih kuat ketimbang orang yang belum. Tetapi kyai Mamak mengingatkan, kewajiban berhaji hanya sekali. Seperti kebiasaan Kompolan Tera' Bulan, setelah pemantik diskusi selesai dilanjutkan dengan tanya jawab. Ada tiga orang yang mengajukan pertanyaan menarik, salah satunya tentang haji dan solidaritas sosial. Jam 22.30 bubar, setelah sebelumnya ditutup dengan membaca shalawat dengan berdiri (qiyam) yang dipimpin Ustadz Tirmidzi.

Selesai acara, bersama kyai Mamak, Tirmidzi, Arif dan Taufik (Mahasiswa UGM yang ikut rombongan), Umam dan Sairi (pegiat agraria) bersama warga bergerak menuju spot oksigen. Di sana kami berbincang dengan warga, termasuk Kades Bancamara, Bapak Alwi, tentang masa depan Giliyang yang sekarang sudah jadi destinasi wisata oksigen.

Diskusinya menarik termasuk pemikiran kyai Mamak yang mendesak warga di situ untuk merumuskan pariwisata berbasisi warga. Warga harus jadi tuan rumah,  bukan tamu di pulaunya sendiri. Maka sejak transportasi, catering, homestay, dan cenderamata serta produk lokal lainnya warga lah yang menyediakan dan mengurusinya. Di pulau itu juga harus dijunjung nilai-nilai dan kearifannya, no alcohol, no bikini, dan "no-no" lainnya untuk menjaga keberlanjutan pulau baik secara ekonomi maupun budaya.

Hampir jam 24.00 kami kembali ke kediaman kyai Irsono, tidur semalam di situ, sambil bermimpi tentang Giliyang yang sudah jadi etalase bagi pemodal dan orang-orang kota. Semoga Giliyang ke depan tidak justru mengasingkan warganya sendiri.

Terimakasih kepada warga Giliyang, kapan-kapan semoga kami bisa kembali lagi.

Pulau Garam l 11 Agustus 2017

[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar





Setiap kali kaki beranjak ke pulau ini, saya selalu disuguhi perubahan yang begitu cepat. Saya tak harus menunggu 1 tahun untuk menyaksikannya, cukup 1 hari saja di pulau ini  selalu ada yang baru.

Pulau ini memang bukan pulau biasa yang selalu digambarkan sebagai terisolir. Tidak. Di samping karena jaraknya yang sangat dekat dengan daratan, hanya 5 menit nyeberang, sejak 15 tahun terakhir pulau ini telah menjadikan Jakarta sebagai halaman depannya.

Secara ekonomi, warga pulau di sini telah menyaingi daerah-daerah lain di kabupaten saya. Indikatornya begitu mudah dilihat. Rumah-rumah mentereng dengan beragam arsitektur terkini berdiri tegak di pinggir jalan maupun di pedalaman menggantikan rumah-rumah sederhana. Mobil-mobil dengan beragam merk berseleweran di pulau yang untuk berkeliling saja hanya butuh 1,5 jam. Beberapa terdapat mobil mewah (untuk ukuran di kampung) seperti fortuner dan pajero sport. Bahkan sekelas Avanza diledek sebagai mobil tehnisi PLN. Motor anak muda seperti ninja dengan mudah juga bisa ditemui di pulau ini.

Tetapi ibarat hubungan tidak sebanding, Jakarta telah menjadi kiblat yang selalu menjadi rujukan warga pulau di sini,  terutama soal gaya hidup. Jakarta adalah kota satelit yang dicoba dikloning di pinggiran. Intensitas interaksi penduduk di sini dengan penduduk jakarta telah menyulap pulau ini sebagai "jakarta" pinggiran. Sejak cara berpakaian, arsitektur rumah, mobil, cara pandang, makan, termasuk juga kemacetan (di pelabuhan) adalah penanda kejakartaan yang dengan mudah ditemui di sini. Persaingan hidup terutama antara perantau barangkali juga hasil kloning persaingan hidup di Jakarta.

Bagaimana intensitas yang demikian intim  itu bisa dibuktikan? Inilah datanya. Sebuah desa saja di sini sudah "melepas" 2.000-an penduduknya ke Jakarta. Ini belum dari desa lain, karena pulau ini memiliki 8 desa. Bisa dibayangkan bagaimana limbah Jakarta begitu besarnya mengalir ke pulau ini, karena setiap hari orang yang pergi dan pulang dari Jakarta bisa ditemui dengan mudahnya. Bukankah mereka ke Jakarta tidak sekedar pulang bawa uang, tetapi lengkap dengan pandangan hidup orang Jakarta dengan segenap hedonismenya?

Rata-rata mereka bekerja di sektor informal, sebagai pemilik warung klontongan. Ada juga yang menjaga warung yang milik orang lain. Mereka cerdas. Dalam hitungan bulan, bisa 2,3,4,6  bulan hingga setahun mereka pulang untuk kemudian diganti sama saudara, tetangga, atau orang lain. Begitu seterusnya sehingga mereka bisa hilir-mudik secara bergantian, pulang dari dan pergi ke jakarta. Kalau jenuh di Jakarta, hitungan bulan mereka bisa bersantai di kampung.

Di Jakarta mereka bekerja keras. Warung-warung milik orang Madura banyak yang buka 24 jam. Karena yang jaga warung minimal 2 orang, kebanyakan suami istri, mereka bekerja paruh waktu secara bergantian, siang istri, malam suami. Guyonan orang Madura, gimana gak banyak hasilnya jika di kampung mereka kerja, 1 hari di Jakarta jadi --untuk menyebut 24 jam-- 2 hari?

Jika secara ekonomi ditandai oleh perkembangan yang cukup signifikan, secara sosial-budaya justru sebaliknya. Relasi sosial dibangun makin transaksional. Salah satu yang bisa menjadi contoh, bagaimana tradisi seperti "ghebay" (gawe) makin profan dan materialistik. Pengaruh perantauan Jakarta luar biasa sejak makin meriahnya gawe, besarnya perolehan amplop, beras, gula, dsb (di Madura disebut tompangan) yang di pulau ini perolehannya bisa sampai 700 juta hingga 1 miliyar. Hutang yang mungkin tidak terbayar hingga empat generasi.

Hal lain, di pulau ini anak-,anak  besar tanpa kasih sayang yang cukup dari orang tua. Karena merantau, anak-anak seusia TK dan SD harus tinggal dengan kakek-neneknya. Secara materi mereka terpenuhi, misalnya motor dan andorid keren, tapi barang itu tak bisa mengganti kasih sayang orang tua.

Satu lagi, perubahan masyarakat pulau ini terhadap pendidikan. Pendidikan tidak lagi dianggap penting. Sejak lulus SMP/MTs atau SMA/MA mereka sudah memilih merantau karena secara materi lebih menjanjikan. Beda dengan sekolah, mereka beranggapan di samping sekolah menghabiskan banyak biaya, setelah lulus paling juga menganggur.

Saya masih berharap, kondisi seperti saat ini lebih sebagai masa transisi, suatu proses yang biasanya dilalui oleh masyarakat yang sedang mengalami perubahan. Suatu saat, dimungkinkan di pulau ini, Pulau Poteran, mengalami perkembangan sognifikan dalam ekonomi, tapi secara sosial-budaya juga kuat.

Tentu ini butuh kepeloporan, baik yang tinggal di pulau maupun perantauan. Semangat filantropi perlu dibangun bagi perantauan untuk membangun warga pulau yang masih belum beruntung, termasuk mengembangkan lahan dan kekayaan bahari yang saat ini banyak yang terbengkai. Akar pulau ini di samping tani juga nelayan. Semoga.

Matorsakalangkong

Pulau Garam l 1 September 2017






[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar

Saya ketika mengisi kegiatan taman baca

Lapa Taman sebuah desa di pojok timur  kabupaten sumenep, diapit oleh desa lapa daya di sebelah timurnya dan lombang sebelah baratnya. Desa ini masuk kecamatan Dungkek, sebuah kecamatan daratan yang posisinya paling timur di kebupaten Sumenep.  Di kecamatan Dungkek terdapat pelabuhan yang menghubungkan dengan pulau-pulau di sebelah timurnya, seperti Giliyang, Sepudi, Raas, dan beberapa pulau lainnya. Menurut kabar pelabuhan ini sedang dijajaki untuk dijadikan pelabuhan internasional.

Posisi Desa Lapa Taman sebelah utara kecamatan Dungkek. Dari kota Sumenep kira-kira 1 jam naik kendaraan bermotor. Desa ini dekat dengan Lombang, desa wisata yang dikenal dengan pantai dan cemara udangnya. Lapa Taman tepatnya sebelah timur desa Lombang atau sebelah barat desa Lapa Dhaje. Desa ini memiliki luas Wilayah ÷= 6. 345 M2 dengan jummlah Penduduk, 2. 211 (data 2015). Sementara mayoritas mata Pencaharian rata rata Petani, Nelayan, dan pedagang.

Desa Lapa Taman sebagaimana saya singgung di awal tulisan, sekarang dijepit dua desa tetangganya, Lombang dan Lapa Dhaje, yang hektaran tanahnya sudah diambil alih investor. Di atas tanah itu setahunan ini sudah dibangun tambak udang. Tentu berdirinya tambak udang berpengaruh kepada warga desa lapa taman, terutama limbahnya.

Tentu yang membahagiakan, meski tanah dua desa tetangganya berhasil "diacak acak" investor, warga Desa Lapa Taman justru menolak investor dan memilih menjaga kehormatan dan kedaulatan tanahnya. Jika ada sebagian tanah yang lepas ke tangan investor, itu milik orang luar desa Lapa Taman yang tanahnya ada di desa Lapa Taman. Kalau warga Lapa Taman sendiri berkomitmen tidak mau tergiur dan melepas tanahnya kepada para investor. Warga desa itu memiliki kesadaran luar biasa bahwa tanah yang mereka tinggali untuk anak cucu, bukan untuk orang asing yang nanti akan menindasnya. Ini kesadaran sejati dari pembangunan yang berkelanjutan.

Dalam video dokumenter yang diinisiasi oleh pegiat agraria di Sumenep, keapala Desa Lapa Taman, Aburaera, menjelaskan pengalaman warga yang dialami pada masa lalu telah menjadi guru yang sangat berharga. Kesesadaran warga menjaga kedaulatan tanah karena dahulu mereka punya pengalaman, tanah mereka dikuasai oleh pemodal desa lain yang mengolah garam di desa Lapa Taman. Menurutnya, ketika itu untuk menjadi buruh saja orang Lapa Taman harus menyogok kepada pemilik lahan. Bayangkan, sekedar mau jadi baruh saja harus nyogok. Warga Lapa Taman justru diturunkan derajat kemanusiannya di tanah kelahiran mereka sendiri. Apalagi jika tanah mereka "dijarah" investor luar, tentu mereka akan makin sengsara.

Pengalaman pahit yang mereka gumuli akibat alat produksi mereka yang berupa tanah dikuasai orang lain mendorong mereka membeli kembali tanah mereka yang dulu terjual. Semua tanah yang dikuasai orang luar mereka beli kembali.  Kedaulatan tanah akhirnya dibawah kontrol warga kembali. Dan mereka kembali berdaulat di daerahnya sendiri.

Inilah pengalaman yang mereka ingat. Pengalaman yang tak mau mereka alami kembali. Makanya, di desa Lapa Taman tanah-tanah terlindungi dan terjaga hingga sekarang, suatu kenyataan yang sangat kontras dengan desa Lapa Dhaje dan Desa Lombang, dua desa yang mengapitnya, dimana tanah-tanah di dua desa sudah ludes diambil alih investor yang saat ini dialihfungsikan sebagai tambak udang.

Ketika saya dan beberapa kawan pegiat agraria berkunjung ke desa ini, kami ngobrol dengan anak muda dan aparat desa. Suara mereka sama, menjaga kedaulatan tanah. Tanah-tanah mereka masih subur. Di atasnya tumbuh pohon kelapa yang menyumbang bagi kehidupan mereka sehari-hari. Desa ini memang dikenal sebagai pemasok kelapa, termasuk kelapa "kopyor" yang harganya bisa 25-30 ribu perbutir.

Di desa ini juga ada (sisa) tanah perdikan. Jika mengacu pada tradisi Jawa, tanah perdikan adalah tanah pemberian raja kepada tokoh agama untuk melangsungkan pendidikan agama. Tanah perdikan ini dahulu tidak dibebani pajak oleh raja. Tanah ini sekarang dikelola oleh keluarga juru kunci para raja. Kuat dugaan,  Lapa Taman dahulu tempat para santri belajar agama.

Tak jauh dari desa itu, ada asta gurang-garing (syekh mahfudz) yang masih keturunan pangeran katandur (Syekh Baidhowi)  dan masih seketurunan dengan pangeran Paddusan, dimana semuanya masih keturunan Sunan Kudus. Letaknya yang tidak jauh dari laut yang menghubungkan jawa-madura-kalimantan menjadikan desa ini dahulu banyak dikunjungi para perantau yang suku da rasnya berbeda-beda, dan jejaknya bisa dilihat sekarang, yaitu banyaknya makam-makam tua yang jumlahnya barangkali melebihi jumlah penduduknya.

Saya senang, beberapa anak muda dan warga di desa ini juga terlibat dalam gerakan kedaulatan tanah yang saat ini gencar disuarakan anak anak muda di Sumenep. Saat ini mereka sedang menghadapi masalah. Di Desa ini ada bangunan penampung limbah milik perusahaan tambak udang yang dibangun di desa sebelahnya, Lombang.  Aparat desa dan warga desa ini protes. Di samping mengganggu warga, bangunan ini tidak memiliki IMB, ketika membangun juga tidak pernah koordinasi dengan pemerintahan desa, juga tidak mendapat persetujuan warga. Saat ini mereka tengah mempersiapkan langkah-langkah untuk menyelesaikan masalah yang bikin geram warga ini.

Lepas dari masalah yang sedang dihadapi, semoga desa ini tetap damai dan mampu menahan gempuran investor yang terus mengintai tanah-tanah mereka.

Secara tulus, hormat saya buat semua warga Desa Lapa Taman. Merdeka!!!

Pulau Garam I 17 Agustus 2017
[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 1 komentar



Setiap kali berjumpa dengan kyai ini, saya terus terang malu. Sebagai seorang yang setengah muda, saya bukanlah apa-apa. Bayangkan, di usianya yang sudah 75 tahunan beliau masih rajin mengaji kepada kyai yang semua usianya di bawah beliau. Setahu saya, beliau mengaji kepada 3 kyai, ada yang setiap minggu, ada yang setiap bulan.

Setiap mengaji beliau naik motor (maaf) butut, merk Honda grand keluaran tahun 90-an. Jarak tempuh tempat mengaji dari rumah beliau bisa 7 hingga 10 km. Beliau naik motor sendiri. Perawakannya yang kecil dibalut jaket sederhana sekedar untuk menahan angin. Semangat mengaji persis santri kelana tempo dulu, menjadikan beliau segar dan sehat.

Ya, itulah KH. Moh Ma'ruf. Saat ini menjabat Rais Syuriah MWC NU Gapura. Beberapa kali beliau mohon ijin untuk mundur dan memberikan kesempatan kepada yang muda, tapi tak ada satu pun yang mau menggatikannya, selama beliau masih ada. Semoga beliau dipanjangkan umur yang barokah dan diberi kekuatan mengemban tugas ke-NU-an.

Secara pribadi saya mengenal beliau sejak masih MI. Beliau adalah guru saya waktu MI dan MTs. Saya masih ingat, beliau dulu termasuk guru idola. Salah satu yang membekas bagi muridnya, adalah kesabarannya. Beliau tak pernah marah. Siapapun yang memandang wajahnya akan teduh. Karena beliau memang suka senyum. Senyum ketulusan, senyum keikhlasan. Suatu senyum yang memancar dari akhlakul karimah yang menjadi hiasan perilakunya. Apalagi wajah beliau sangat tampan, dengan deretan gigi putih mengkilat yang sangat enak dilihat.

Kepada muridnya beliau selalu menggunakan bahasa madura yang halus. Tak suka bicara jika tidak perlu. Tak pernah mengeluarkan bahasa yang kasar atau menyinggung. Apalagi membully seperti kebanyakan ustadz-ustadz dadakan seperti saat ini. Tak pernah. Jika beliau bersalaman dengan anak muda sekalipun, beliau membungkukkan badan dengan sangat hormatnya.

Keteladanan tu juga yang  beliau praktekkan di lingkungan MWC NU Gapura. Semua pengurus ta'dzim kepada beliau, karena beliau sangat istiqamah mengemban tugas ke-NU-an. Jika ada rapat selalu hadir tepat waktu. Bankan tak jarang, setiap kali rapat beliau membawa snack sendiri untuk diberikan kepada pengurus NU yang hadir di rapat.

Beliau tidak sekedar istiqamah menghadiri rapat-rapat dan pertemuan NU, tapi juga istiqamah mengawal NU yang tantangannya saat ini begitu terasa hingga level kecamatan. Dalam sambutan ketika Harlah NU yang dihadiri pengurus ranting beliau dengan gagah mengajak agar merawat NU sebagai warisan para ulama. Kira-kira mafhum mukhalafahnya, tak perlu mengikuti ormas lain.

Beliau juga sangat perhatian terhadap persoalan agraria yang kebetulan di kecamatan kami tanah sudah banyak yang terjual kepada investor. "VOC dulu datang awalnya mau berdagang. Lama-lama menjajah. Sekarang investor datang untuk menanam investasi, lama-lama tradisi kita dihabisi. Jaga dan jangan biarkan tanah sejengkalpun dijual", dawuh beliau dengan lantang.

Satu hal yang berkesan bagi saya, di balik kelembutannya beliau sangat kuat memegang prinsip. Ketika beliau mengikuti pendidikan di NU, meski usia sudah sepuh, beliau dengan semangat mengikuti pendidikan selama 3 hari 3 malam, dan tak pernah pulang ke rumah beliau. Saya tercengang ketika acara penutupan yang dilakukan outdoor jam 1.30 dinihari dalam suasana hujan deras beliau tidak mau menerima tawaran payung dari panitia. Beliau hujan-hujanan hingga hampir subuh sebagai penanda kegiatan pendidikan selesai. Sungguh kami yang muda malu.

Beliau bulan ini mau berangkat ke Tanah Suci Mekkah, "mengantar" istrinya yang belum haji. Mohon doa, semoga beliau sehat sekeluarga, memperoleh haji mabrur, dan pulang dengan selamat ke tanah air. Kami warga nahdliyin di Gapura masih membutuhkan bimbingan, doa, uswah, dan semangat tak kenal lelah mengurus NU dan warganya.

Pulau Garam l 2 Agustus 2017

[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar


Saya sering mendengar sebutan "sok paling NU", sok paling Aswaja, sok paling NKRI" yang dialamatkan kepada nahdliyin yang mencoba mendudukkan NU pada khittahnya. Stigma sok ini ingin mendelegitimasi nahdliyin yang mencoba menjadi NU total. Dengan kata lain, stigma sok ini nyasar pada totalitas berNU yang justru dijungkirkanbalikkan maknanya oleh outsider sebagai sikap sombong. Luar biasa stigma ini. Dimainkan untuk membungkam.

Sok berarti mau menang sendiri, merasa paling benar, tak mau mengakui kebenaran lain di luar dirinya. Itu kira-kira pesan yang dikirim outsider atau 1/2 outsider kepada warga nahdliyin yang total berNU. Saya tak sempat buka kamus untuk mengetahui makna sok, cuma yang saya tangkap kira-kira begitu maksudnya.

Dengar stigma ini saya jadi mau tertawa. Bagaimana mungkin nahdliyin dibilang sok hanya karena garang membela NU yang dicatut, dipojokkan, dilecehkan, dsb, sesuai kehendak outsider? Bagaimana mungkin dianggap sok ketika nahdliyin mengajukan wacana tanding atas NU yang diplintir namanya, organisasinya, dan pengurusnya untuk kepentingan outsider?

Tentu jika mau jujur pasti akan jawab tidak. Ibarat seorang pemilik rumah yang garang kepada orang yang meloncati pagarnya, kemudian peloncat pagar menyebut pemilik rumah sok? Begitu? Ya, tidak dung. Ini menyangkut haybah organisasi.

Sekali lagi ini bukan soal sok atau tidak. Ini adalah soal NU yang begitu mudahnya dipreteli, diserang, dan dipojokkan. Jika warga nahdliyin sangat berapi-rapi membelanya ya wajar dong. Karena ini bagian dari ikhtiar berNU sebagaimana dawuh kyai Hasyim Asy'ari, "masuklah ke dalam NU dengan penuh cinta dan kasih.........lahir bathin, bi arwaahin wa ajsaadin".

Kedua, sok paling Aswaja. Setahu saya, orang nu beraswaja tidak sampai mengatakan di luar nu bukan aswaja. Silahkan klaim aswaja itu. Tetapi satu yang perlu diketahui, bahwa sejak dulu NU lah yang memiliki brand itu di saat ormas lain tidak menggunakannya.

Baru belakangan kelompok lain menjadikan Aswaja jadi brandnya, misalnya seperti Laskar Ahlussunnah Waljamaahnya Ja'far thalib umar yang dulu ikut memperkeruh kerusuhan poso. Makanya kemudian NU menambahkan "annahdliyah" di belakang aswaja untuk membedakan dengan aswaja yang lain. Jadi tak ada dalam pandangan bahwa aswaja hanya milik NU, cuma Aswaja di luar NU tidak sama dengan Aswaja annahdliyah. Kecuali bagi kelompok-kelompok yang secara doktrin memang tidak sesuai dengan ciri Aswaja, ya NU tegas. Tetapi tegasnya NU tidak sampai mengkafirkan.

Soal penambahan annahdliyah di belakang aswaja itu akan dipahami jika ditempatkan dalam konteks historis dan sosial-budaya masyarakat Indonesia, dimana Islam menemukan pijakannya yang khas. Salah satunya misalnya tentang penerimaan terhadap pancasila dan keputusan bahwa NKRI final. Atau tentang trilogi ukhuwah; ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariah. Ini yang membedakan aswaja annahdliyah dengan aswaja lainnya, termasuk di negara lain sekalipun.

Jadi, tak ada monopoli tafsir aswaja di sini. Silahkan tafsiri sendiri atau klaim aswaja itu. Cuma ya dimaklumi, aswaja kami dibubuhi tambahan "annahdliyah" di belakangnya. Ini bukan dimaksudkan untuk menutup diri atau ekslusif, tetapi untuk menegaskan bahwa aswaja yang sudah demikian cair maknanya perlu dikentalkan lagi oleh kami dengan kata "annahdliyah", setidaknya kental buat kami tentunya.

Yang terakhir soal "sok paling NKRI". Jawaban atas ledekan ini juga butuh panjang. Tetapi kalau dipersingkat, NU,  meski tak tercatat dalam sejarah resmi yang diajarkan di bangku-bangku sekolah, memberikan saham yang besar bagi tegaknya bangsa ini. Sejak dulu, NU selalu pasang badan dalam mempertahankan bangsa ini. Mulai masa kolonialisme, era transisi kemerdekaan, era Pak Karno, era Orde Baru Pak Harto (meski dipinggirkan), hingga era reformasi bahkan hingga sekarang. Kalau kita baca perjalanan NU, suaranya sama : bangsa ini terlalu mahal untuk dirobohkan.

Jika NU selalu berada di depan ketika bangsa ini sedang menghadapi masalah kebangsaan, tentu harus dilihat dari sejarahnya, ya NU memang begitu. Bagi NU, bangsa ini adalah tenunan indah dimana Islam bisa bersenyawa dengan peradaban Nusantara. Maka lahirlan Pancasila yang membingkai keanekaragaman yang indah. Ini tidak sekali jadi, tapi tenunannya membentang sejak Islam hadir ke Nusantara sejak abad ke 7 dan menemukan puncaknya pada abad 13/14 di tangan para wali songo. Makanya para wali songo dan para ulama setelahnya dijadikan sanad keilmuan, perjuangan, dan harakahnya oleh NU. Di atas sanad inilah NU berjejak, termasuk kegarangannya membela bangsa ini.

Betul bahwa bangsa ini sudah sedemikian akut masalahnya. Di samping banyak gerakan keagamaan yang tak ramah budaya bermunculan, kekayaan bangsa terkeruk habis oleh sistem kapitalisme sebagai anak kandung kolonialisme. Harapan kita, NU ke depan juga wajib garang dan pasang badan terhadap sistem dan ideologi yang rakus dan mencekik rakyat kecil ini. Dengan demikian, "NKRI harga mati" akan makin bergairah dan menyegarkan. Semoga.

Pulau Garam I 19 Juli 2017



[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 2 komentar


Pagi hari (15/7), sekitar jam 05.00 lewat beberapa menit saya memperoleh Telpon dari HA. Pandji Taufik, ketua PCNU. Ketika saya angkat, suara tangis Pak Pandji pecah, "ngatore oneng KH Ahmad Basyir AS ampon adinggal" ( mau ngasih kabar, KH Ahmad Basyir wafat). Hanya itu yang disampaikan Pak Pandji sambil disertai isak tangis yang begitu jelas saya dengar. Sangat emosional.

Tahu bahwa Pak Pandji begitu sangat berduka, saya tak bertanya kapan jenazah mau dishalatkan. Tak baik memaksa orang yang sangat berduka hanya untuk tahu informasi yang dengan mudah bisa saya peroleh dari kawan lain.

Sejenak saya pun diam. Saya pun tak kuasa menahan gejolak emosi yang mengaduk-ngaduk hati dan pikiran saya. Tangis saya pun pecah. Sambil mencari informasi kapan beliau dishalatkan, pikiran dan perasaan akan kehilangan makin menguat. Seperti ada ruang kosong yang tersisa. Sepi.

Mungkin semua yang pernah jadi santri beliau, pernah bertatap muka dan mencium "asta" ( tangan) beliau, atau sekedar pernah melihat wajah beliau yang teduh dari jauh sekalipun,  tentu akan mengalami perasaan kehilangan seperti saya. Apalagi bagi pengurus NU, kehilangan beliau tentu akan terasa lebih besar.

Mengingat beliau, Ingatan saya menuntun saya pada  kiprah beliau di NU. beliau menjadi Rois Syuriah PCNU Sumenep selama 2 periode, meski periode kedua masih tersisa 3 tahun. Sebelum beliau, Rois Syuriah PCNU Sumenep dijabat oleh KH. Ishomuddin AS, saudara beliau.

2010 beliau terpilih sebagai Rois Syuriah PCNU Sumenep yang pertama, sementara HA. Pandji Taufik sebagai Ketua Tanfidziyah. 2015 beliau terpilih lagi secara aklamasi, meski kondisi kesehatan  sudah semakin menurun beliau masih bersedia menerima keinginan peserta konfrensi NU yang tetap mengingkan beliau sebagai Rois Syuriah. Kebetulan kyai yang lain tak ada yang bersedia selama masih asa Kyai Basyir, suatu bukti bahwa kepemimpinan beliau yang penuh kearifan dan "ngemong" diterima oleh semua kyai. Sami'na wa atha'na.

Saya yang kebetulan menjadi bagian dari pengurus tanfidziyah PCNU Sumenep sering satu majelis dengan kyai Basyir, terutama ketika ada rapat gabungan syuriah dan tanfidziyan. Kebetulan rapat gabungan secara rutin diadakan per triwulan, pindah dari rumah pengurus secara bergantian. Bahkan beberapa kali rapat gabungan dilangsungkan di "dhalem" beliau. Demikian pula ke kegiatan Bahsul Masail yang rutin diadakan setiap bulan, pindah dari satu MWC NU ke MWC NU lainnya, beliau sering hadir di tengah kesibukannya mendidik ribuan para santri di pesantrennya.

Saya menjadi saksi begitu istiqamahnya beliau menjalankan amanah sebagai Rois Syuriah PCNU Sumenep. Beliau menjalankan fungsi keseimbangan dan menjadi rujukan ketika NU harus memutuskan berbagai masalah, termasuk situasi terakhir menyangkut kegaduhan politik di tingkat nasional yang riuhnya sampai juga ke Madura.

Dalam berbagai kesempatan taushiyahnya di rapat gabungan Syuriah- Tanfidziyah beliau seringkali menyuarakan kepentingan-kepentingan masyarakat umum misalnya, maraknya pencurian sapi dan masalah keamanan lainnya. Juga taushiyahnya berisi tentang akhlak, termasuk juga akhlak (ber)politik.

Bahkan ketika di Sumenep menghadapi masalah "darurat agraria" beliau meresponnya dengan memberikan taushiyah di hadapan kepala desa se Kabupaten Sumenep di pendopo kabupaten, agar tanah-tanah warga tidak lepas ke tangan investor.

Saya juga menjadi saksi, di tengah kondisi kesehatan beliau yang tidak prima, bahkan terkadang dalam keadaan sakit, beliau masih menghadiri rapat atau Bahsul Masail. Karena faktor itulah beliau biasanya segera pulang setelah memberikan taushiyah kepada pengurus NU.

Mendengar beliau menghadap Allah, saya pun tersentak meski sebelumnya memang beredar berita bahwa beliau dibawa ke rumah sakit di Surabaya. Sebagai kyai sepuh yang tersisa, wafatnya beliau tentu akan berpengaruh bagi keseimbangan kehidupan masyarakat, termasuk NU, karena beliau sebagai "pakona dunnya" (pakunya bumi) selama hidupnya (terutama kiprahnya di NU) benar-benar telah menjalankan fungsi keseimbangan.


Selamat jalan Kyai...
Kami merindukanmu.

Pulau Garam l 17 Juli l 2017


[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar




Santri saat ini, apalagi yang sudah jadi masyarakat urban, akrab dengan cafe itu sudah biasa. Masyarakat urban yang sudah kehabisan ruang nyaman untuk sekedar ngobrol akhirnya memilih (salah satunya) cafe untuk bisa sekedar mengaktifkan habitusnya sebagai makhluk sosial. Tak terkecuali santri yang urbanized sudah biasa nongkrong di cafe. Apalagi habitus santri memang suka ngobrol, diskusi, debat dari soal yang paling sepele hingga berat. Jadilah cafe ruang nyaman untuk mendesain  obrolan sesukanya, ngobrol ke sana ke mari.

Di Sumenep, saat ini hadir cafe yang juga jadi tongkrongan para santri. Jika Anda masuk ke KancaKonaKopi Anda akan menemukan banyak orang di dalamnya dengan pakaian kebesaran, sarung dan songkok. Itulah salah satu ciri  santri. Sarung, songkok, kopi capucino, latte, pernak-pernik desain interior dan segala penanda kegaulan hadir melebur di cafe itu, seolah sebagai sebuah proklamasi bahwa para santri siap berkontestasi dalam medan pertarungan kebudayaan yang makin banal ini.

Tetapi bukan sekedar itu, cafe ini juga milik para santri. Tepatnya para alumni pesantren besar di Sumenep yang mulai serius menggarap bisnis dengan model koperasi, satu eksprementasi yang menurut saya sangat menarik. Modal membangun cafe ini diperoleh dengan menjual saham kepada kepada para alumni, harga /saham 50 ribu rupiah hingga kemudian terkumpul modal rarusan juta yang digunakan untuk mendirikan cafe.

Semua pengelola termasuk karyawan cafe ini adalah para santri. Pengelolaannya juga patuh pada logika bisnis dengan SOP yang ketat. Ini berbeda dengan kultur santri yang biasanya longgar, santai, dan apa adanya. Meski saya meyakini, managemen modern yang biasanya impersonal di tangan santri Insya Allah hadir termodifikasi lebih humanis.

Saya menyebutnya cafe ini merupakan perlawanan dari pinggir terhadap sistem ekonomi yang sangat neolib saat ini. Ekonomi atau bisnis yang hanya dikuasai pribadi dilawan dengan kepemilikan komunal. Ekonomi yang  mementingkan persaingan, dilawan dengan model "berbagi". Istilah saya, eksperimentasi bisnis santri ini merupakan satu sistem ekonomi yang dilandasi semangat, "kalau sejahtera, ya sejahtera bersama" atau "kalau kaya, ayo kaya bersama-sama". Menarik bukan?

Satu lagi, cafe di tangan santri bukan sekedar tempat nongkrong yang memanjakan hasrat lahiriah. KancaKonaKopi adalah ruang belajar, tempat bertemunya masa lalu, masa kini, dan masa depan. Tempat bertemunya antara tradisi dan yang kontemporer. Ruang untuk membangun peradaban yang berangkat dari tradisi sendiri, tradisi kesantrian. Maka, tagline yang diusung cafe ini, ", Ngopi, Ngaji, Berbagi".

Kita akan menunggu eksperimentasi cafe ini. Jika berhasil, maka pasti akan memberikan efek domino bagi munculnya bisnis-bisnis lain bagi para santri lain, yang berbisnis tidak atas dasar persaingan, tapi berbagi.

Cuma ya itu, harga kopi bagi saya yang isi kantong pas-pasan masih terlalu mahal. Harapan, nanti ada kopi dan snack yang sesuai dengan kantong para santri, yang kebanyakan memang anak rakyat, rakyat yang meski terhempas di republik ini, tapi tetap tak berniat membangun khilafah.

Selamat buat IAA...Selamat buat KancaKonaKopi dan sang Maestro di belakangnya.

Salam Ta'dzim

Pulau Garam l 30 Juni 2017
[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar



Di awal kepemimpinannya ketika mengganti Anis Baswedan, Bapak Muhadjir Effendy sebagai Menteri Pendidikan yang baru  melontarkan gagasan Fullday School (selanjutnya FDS) yang sempat memantik kontroversi di kalangan masyarakat pendidikan. Di tahun ajaran baru ini FDS akan segera diberlakukan.

Persisnya saya tidak tahu tujuan apakah di balik gagasan ini. Khusnuddzan tetap perlu dikedepankan untuk membacanya, meski sikap kritis juga diperlukan.

Mungkin gagasan FDS dimaksudkan untuk menggembleng para siswa agar waktunya dihabiskan untuk belajar dari pada dihabiskan dengan budaya nongkrong dan keluyuran. Secara substantif tentu ini baik, karena di dalamnya terkandung maksud membangun karakter anak didik misalnya saja karakter tahan banting. Sementara hari sabtu dan minggu diliburkan biar para siswa bisa berkumpul bersama keluarga menyemai interaksi dalam balutan kasih sayang.

Sayangnya, pak menteri pendidikan memunculkan gagasan ini tanpa melihat kultur dan praktik pendidikan di Indonesia yang sangat  beragam. Sehingga ketika diberlakukan secara nasional tanpa pak menteri menyadarinya, ada kelompok masyarakat yang kurang diuntungkan, sebut saja pesantren, madrasah diniyah, dan masyarakat desa.

Lalu, apakah dampak FDS bagi tiga kelompok di atas tersebut? Yang paling sederhana tentu saja gagasan FDS akan menggerus tradisi di masyarakat muslim Indonesia, terutama pedesaan, yang biasa menjadikan waktu sore untuk belajar di madrasah diniyah.

Pada hal tradisi ini sudah mengakar dan dengan mudah bisa ditemukan di masyarakat pedesaan, apalagi di Madura. Tentu sangat sayang, jika tradisi ini hilang begitu saja karena kebijakan menteri pendidikan yang hendak menerapkan FS.

Jika tradisi ini hilang bukan sekedar soal habisnya siswa madrasah diniyah, tetapi juga peradaban terutama yang berhubungan dengan soal agama lambat laun akan punah. Bisa dibayangkan kalau masyarakat sudah kehilangan peradabannya, kebudayaannya, dan tradisinya maka masyarakat sejatinya juga akan kehilangan kehidupannya.

Belum lagi yang paling mengkhawatirkan jika tradisi belajar sore hari di madrasah diniyah dihilangkan, para siswa yang kebetulan tidak belajar di pesantren akan semakin  mudah diracuni model pendidikan keagamaan doktrinal dan instant. Model pendidikan keagamaan yang biasanya dijalankan oleh kelompok keagamaan yang ekstrem yang  abai terhadap kebudayaan nusantara. Dalam jangka panjang dampaknya tentu akan sangat merugikan.

Jika pak menteri mau jujur, FDS tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan pesantren. Di pesantren bukan hanya fullday tapi "all day all night". Jika kita mengenal istilah "pembelajar sepanjang hayat atau seumur hidup" ya pesantren tempatnya.

Nah, daripada mengenalkan FDS, kenapa tidak pesantren saja jadikan rujukan pendidikan di Indonesia? Mungkin pertanyaan kayak gini dianggap aneh. Tapi percayalah, dalam amatan saya pendidikan pesantren tetap yang terbaik di negeri ini. Jika banyak orang --mungkin juga pak menteri-- tidak mengakuinya, itu karena mereka tak kenal pesantren.

Di akhir tulisan saya ingin mengatakan gagasan pak menteri, meminjam ungkapan orang Madura, saya bilang, "Puh", satu ungkapan yang biasa digunakan orang Madura ketika melihat sesuatu yang tak berkenan. Maka gagasan pak menteri bagi "puh day school" bukan "fullday School".

Pulau Garam, 16 romadlan 1438 H

ADZ
[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 7 komentar


Paska aksi 212, FPI sebagai motor aksi menyita perhatian umat Islam di Indonesia. Di media massa, apalagi di media sosial FPI nenjadi trending topik. Setiap hari nyaris tak ada pemberitaan  tanpa FPI. FPI sebagai motor aksi telah memunculkan banyak spekulasi yang mengakibatkan sikap pro-kontra.

Sayup-sayup FPI tiba juga di Madura. Kebetulan organ yang memfasilitasi di Madura sudah siap, yaitu AUMA (Aliansi Ulama Madura), sebuah ormas baru yang yang lumayan keras. Karena itu dengan mudah FPI tinggal dikloning. Setidaknya ini yang terjadi di Sumenep, meski di daerah lain seperti Bangkalan FPI jauh lebih dulu berdiri ketimbang AUMA.

Sebagai ormas baru AUMA, yang 2-3 tahun kemarin didirikan, sepertinya mau mengulang peran Bassra yang ketika pemerintah ORBA kritis kepada penguasa, terutama berkaitan dengan rencana pembangunan jembatan Suramadu, meski saya melihat perannya sangat beda. Di samping fokus isunya berbeda,  AUMA sepertinya memliki jaringan kuat dengan ormas senafas di Jakarta, makanya setali tiga uang dengan FPI, bahkan dalam kasus Sumenep tokoh AUMA terlibat menfasilitasi berdirinya FPI. Ini berbeda dengan Bassra yang fokus pada isu lokal.

Bagi saya kehadiran ormas apapun sah didirikan. Selama dibutuhkan dan bisa memperkuat cita kemerdekaan dan bisa diharapkan menjadi corong Islam rahmatal lil alamin tak jadi masalah. Cuma ketika kehadirannya mengusik NU dan warga Nahdiyin serta visi kebangsaanm maka penting ormas baru ini disikapi. Tulisan ini hanya  hendak merespon usikan terhadap NU tersebut.

Setidaknya dalam usaha merekrut massa, ada tiga isu yang sengaja diwacanakan FPI dalam pertemuan-pertemuan umum yang mengusik NU. Tiga isu ini penting direspon agar tidak menimbulkan kesalahpahaman terutama kepada warga nahdliyin.

Pertama soal isu bahwa petinggi FPI di Madura (setidaknya kasus di  Sumenep ) selalu mengatakan dalam ceramahnya, "saya ini ikut NU-nya kyai Hasyim Asy'ari, NU "se kona" (yang dulu)". Mafhum mukhalafahnya, sama NU sekarang kurang mengakui.

Bagi saya pernyataan seperti itu patut direnungkan. Pertanyaannya, bagaimana mau ikut KH. Hasyim pada hal tidak sezaman? Dari mana kita bisa meyakini bahwa NU kita sama dengan kyai Hasyim? Barangkali bisa dijawab bahwa pengikut FPI berpegangan terhadap kitab peninggalan kyai Hasyim. Tapi kalau pun mengacu kepada kitab kyai Hasyim, bukankah kita tidak bisa sepenuhnya mengatakan bahwa penafsiran atas teks kitab kyai Hasyim  sama dengan kehendak kyai Hasyim?

Dengan kasus beda, hal ini mirip dengan kelompok Islam yang mengatakan ikut Nabi dengan berpegangan kepada Alqur'an dan Hadis sambil nenolak ijma' dan qiyas. Dalam tradisi NU cara beragama seperti ini kurang bisa dipertanggungjawabkan karena tanpa sanad yang jelas.

Sama dengan berNU, kalau mengikuti NUnya kyai Hasyim dengan menolak NU sekarang berarti NUnya kurang bisa dipertanggungjawabkan karena tanpa sanad yang jelas. Pada hal sanad inilah yang menbedakan NU dengan kelompok lain.

Di samping sanad keilmuan, di NU juga dikenal sanad perjuangan. Secara kelembagaan, tentu saja sanad ini tak bisa diperoleh dengan meloncat ke masa kyai Hasyim tetapi bisa kita peroleh melalui sanad yang sudah terlembagakan melalui pesantren sekaligus NU dari masa ke masa hingga sekarang. Jadi, sanad ibarat mata rantai tak bisa digunting, tak bisa diputus.

Saya faham, sikap seperti di atas salah satunya dipicu oleh sikap dislike sebagian tokoh NU terhadap kyai Said Aqil. Kebetulan ada skenario besar yang terus-menerus mengeroyok kyai Said dengan informasi hoax sejak isu liberal, syiah, Ahoker, dsb yang sayangnya tanpa bertabayyun langsung dianggap sebagai kebenaran oleh sebagian warga NU yang nyeberang ke FPI.

Tetapi jika tidak suka ketua umum PBNU tak perlu menyerang NU. Apalagi sampai nyeberang ke organisasi lain. Apalagi lepas suka atau tidak kyai Said terpilih dalam muktamar NU, ini hasil ijma' pengurus NU se Nusantara, Jika beliau dianggap salah sekalipun, ada mekanisme organisasi yang mengatur bagaimana masalah ini bisa diselesaikan. Bukan malah gabung ke organisasi lain sambil terus memojokkan NU apalagi hanya untuk merebut hati warga NU.

Dalam konteks inilah pernyataan bahwa " saya pengikut NUnya kyai Hasyim" tidak ada dasarnya dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Bagaimana mungkin bilang pengikut  NU kyai Hasyim, sementara pada saat bersamaan justru memojokkan jamiyah yang beliau dirikan?

Isu kedua yang sering dinyatakan pendukung FPI adalah, "amar ma'ruf ikut NU, nahy munkarnya ikut FPI". Pernyataan ini seolah hendak menegaskan bahwa NU lembek, tidak tegas dan adem. Sementara FPI sebaliknya;  tegas, lantang, dan berani.

Tapi ijinkan saya menjelaskan bahwa NU dalam menjalankan dakwahnya memiliki jalan dan cara sendiri, dan tentu saja NU tak perlu mengikuti jalan dan cara ormas lain. Jalan dan cara NU ini merupakan hasil dari endapan proses panjang yang sudah ditempuh sejak walisongo. Hasilnya bisa kita rasakan hingga sekarang.

Setidaknya ada tiga ciri dakwah NU. Pertama, tadriji dimana dakwah ditempatkan dalam proses panjang, tidak buru - buru, perlahan dan bertahap. Kedua, taklitut taklif yaitu tidak memberatkan masyarakat atau tidak memaksa. Ketiga, 'adamul haraj yaitu tidak mengancam siapapun. Makanya dakwah wali songo yang menjadi sanad biologis NU selalu menempuh jalur kultural, sehingga dakwahnya berhasil, ibarat menangkap ikan, ikannya ditangkap tanpa mengeruhkan airnya.

Kedua,  amar ma'ruf nahi munkar ibarat 2 sisi mata uang yang tak bisa dipisah. Ketika NU lebih mengedepankan amar ma'ruf sebenarnya include di dalamnya juga ada nahi munkar. Jika secara gradual mengajak orang agar shalat, hakikatnya mengajak orang itu agar tidak meninggalkan shalat. Tentu sesuai langgam dakwah NU, ajakan agar shalat dilakukan dengan lembut sebagaimana prinsip di atas. Dalam konteks ini, fiqhul ahkam dimodifikasi secara cerdas menjadi fiqhuddakwah dan fiqhussiyasi.

Sekali lagi NU memiliki jalan sendiri yang sering disebut "alaa thariqati Nahdlatil  Ulama". Jika tidak sama dengan ormas lain ya wajar. Nah, kalau ada orang NU mencampur aduk strategi dakwah NU dengan ormas lain menurut  saya  tidak tepat.

Isu ketiga yang sering saya dengar  dihembuskan oleh pengikit FPI bahwa, " yang penting aswaja, meski tidak ikut NU". Pernyataan seperti di samping lemah, juga berbahaya.  Persis seperti semboyan anak muda, "spirituality yes religion no" atau "spiritualitas yes, agama no".

Kesalahan pertama menurut saya, pernyataan di atas ibarat seorang salik mau menggapai hakikat dan ma'rifat dengan melampaui syariat. Ia hanya butuh roh tanpa butuh jasad. Tentu dalam konteks Indonesia, apalagi pernyataan ini sengaja dihembuskan di lingkungan warga nahdliyin tentu sangat berbahaya.

Kesalahan kedua, beraswaja dan berNU bagi warga nahdliyyin mutlak diperlukan. Karena aswaja tanpa ada organisasi yang menopangnya akan mudah dihancurkan. Ingat aswaja di timur tengah dengan mudah bisa dipecah belah oleh kelompok lain karena tidak ada wadahnya.

NU dibangun oleh para kyai dulu dalam rangka "litauhidi shufufil ulama", menyatukan shaf para ulama dalam meneguhkan dan memperjuangkan aswaja sekaligus melawan para penjajah. Maka jika ada pengikut aswaja tidak berNU hakikatnya ia tidak mau merapat dalam barisan ulama. Dan saya meyakini mereka akan mudah menjadi santapan kelompok lain yang bahkan tidak senafas dengan aswaja, misalnya salafi-wahabi atau HTI.

Mari rapatkan lagi barisan pengikut dan pendukung aswaja. Agar kuat masuklah kembali dalam barisan, beraswaja dan berNU. Jika ada yang tidak cocok baiknya tabayyun dan bermusyawarah. Bukan malah menyeberang ke organisasi lain sambil memojokkan NU. Kalau misalnya tetap tidak mau berNU, jangan mengajak warga nahdliyin sambil menyebar berita tidak benar dan atau memprovokasi dengan alasan-alasan yang bisa menimbulkan pertentangan di masyarakat.

Mari, stop menjadi setengah nahdliyyin.

Madura, 14 ramadlan 1438 H

ADZ

[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar

teronggosong.com
Parman tampak sedang membongkar lemari kitabnya. Hampir semua kitab dibuka, lembar demi lembar dipelototinya. Setiap kitab selesai dibuka, ia menarik nafas dalam-dalam. Dari wajahnya muncul gurat kekecewaan. Sudah ratusan kitab dibukanya, yang dicarinya tak juga ketemu.

Di hadapannya tinggal satu kitab lagi, Ta'lim Muta'allim. Satu kitab yang mengajarkan etika bagi pencari ilmu, kitab wajib wabil khusus bagi kaum santri.  Dari kitab inilah ia mengenal bagaimana seharusnya  seorang santri menghormat dan memuliakan guru.

Diraihnya kitab itu. Tiba-tiba air matanya meleleh. Dengan sangat emosional, diciuminya kitab itu sambil berusaha menghadirkan wajah guru di hadapannya. Guru lahir bathin baginya yang tepat setahun lalu wafat. Suasana makin emosional. Tangis pun pecah.

Dibukalah kitab yang sudah mulai lusuh itu. Sekali buka, tepat pada halaman yang terganjal sebuah foto. Dengan suara berbisik ia berkata, "Alhamdulillah, tuntas sudah. Ini yang aku cari".  Rupanya parman selama berjam-jam membongkar lemari kitab dan lembar demi lembar membukanya, hanya untuk mencari foto gurunya. Foto kyainya.

Ia pandangi foto gurunya. Foto itu seakan bercerita. Memutar kembali ingatannya 5 tahun lalu saat ia pamit untuk kembali ke kampung halamannya. Pesan terakhir yang beliau sampaikan sangat singkat, "pulanglah, sampaikan ilmumu secara arif kepada masyarakat di desamu".

Mengingat pesan gurunya, parman kembali menangis. Dengan suara lirih ia berbisik, "maafkan kami guru". Ya, parman merasa bersalah karena bukan-bulan terakhir ini ia justru mencampakkan guru sejatinya. Ia malah terhipnotis sama ajakan kawannya untuk mengidolakan "guru" jauh. Guru yang tak pernah ia bersila untuk mengaji di hadapannya. Kecuali ia tonton di TV atau di video android milik temannya.

Setiap parman mendengar ceramah "guru jauh" seolah ia terkesiap. Takjub. Terpana. Teriakan takbir serta semangat keislaman yang menyala-nyala mampu menggelorakan semangat keberagamaannya. "Ini baru Islam", batinnya.

Karena terpukau, Parman pun berangkat ke kota untuk ikut aksi 433. Ia memaknai aksi sebagai jihad, membela agama. Di lokasi aksi, darah mudanya makin bergelegak. Jutaan peserta aksi yang berkumpul telah memindahkan cara pikir bahkan ideologi, dan menghapus hampir seluruh tradisi keilmuan yang ia peroleh di pesantren. Ia pun sering meniru ucapan sang "guru jauh" itu, Takbirrr.

Selepas ikut aksi, parman makin intens terlibat mendirikan organ dari jauh itu. Bahkan parman rela merogoh kocek sendiri membuat banner dengan foto-foto "Guru Jauh" dan kemudian dipancang depan masjid dekat rumahnya.

Saat semangat jihadnya memuncak, tak disangka ia bertemu teman pondok ketika sama-sama di pesantren dulu. Sahabatnya itu membuka kenangan parman terhadap sosok guru di pesantrennya yang dengan arif mendidik parman. Bahkan sang guru tak jarang memberi parman makan dan uang untuk biaya pendidikannya di pondok, di saat orang tua parman angkat tangan tak mampu mengirim biaya.

Parman terkesiap. Wajah gurunya selalu menghantuinya. Seolah gurunya rindu sama parman, meski hidup di tempat yang berbeda. Sejak itu parman mulai mengambil jarak dengan guru jauhnya. Sebagai gantinya, foto gurunya yang dicarinya selama berjam-jam itu diperbesar ke studio foto dan kemudian dibungkus pigura cantik. Foto itu dipasang di tembok di serambi rumahnya.

Baru selesai memasang foto gurunya, tiba-tiba terdengar suara riuh depan rumahnya. "Keluar....Keluar.....", terdengar suara tak bersahabat. Parman pun keluar rumah. Ia pandangi orang yang datang tak diundang ke rumahnya. Jumlahnya tak lebih 15 orang, hanya 0,2 % dari penduduk desanya. Tapi suara kerasnya seakan mengalahkan suara semua penduduk desa.

 "Siapa yang menurunkan baliho guru kami", tanya seseorang di antara mereka dengan garangnya. "Kami dengar kabar, kamulah yang menurunkan? Bagaimana mungkin?"

"Ya, saya", kata parman. Kemudian ia ambil foto guru yang baru digantungnya. "Saya punya guru sejati, jadi tak perlu kalian usik lagi," dengan bangga memamerkan foto gurunya. "Dan ini ambil banner yang saya turunkan, tapi tolong jangan dipancang di desa ini", kata parman sambil menyerahkan bungkus plastik kresek berisi banner.

Parman malangkah memasuki rumah. Baru saja melangkah, tiba-tiba sebuah benda melayang  mengenai tengkuknya. Parman tersungkur. Pingsan.

Matorsakalangkong
1.04.2017

[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar

ruangkumemajangkarya.wordpress.com


"Tepkotep cellot" (secara harfiah melempar tanah lempung ke tembok) adalah majaz dalam kearifan madura yang biasanya disampaikan orang tua kepada anaknya yang tiada kunjung kembali ketika disuruh membeli rokok, misalnya. Persis seperti "cellot" atau tanah lempung yang dilempar ke tembok akan lengket dan tidak kembali kepada pelemparnya.

Kearifan ini dalam konteks sekarang sepertinya masih relevan meski harus direaktualisasi. Perlu tafsir baru biar segar. Saya rasa majaz tidak hanya berlaku untuk anak sebagaimana orangtua dulu selalu menggunakannya, tapi juga bisa menggambarkan para wakil rakyat yang tidak pernah kembali kepada rakyat yang diwakilinya. Meski para wakil rakyat apakah presiden, gubernur, bupati, wali kota, kepala desa, atau anggota legislatif sejak pusat hingga daerah selalu bilang menjalankan mandat rakyat, tapi mereka tidak benar-benar kembali ke rakyat. Terlalu banyak bagi saya dan Anda untuk menyebut contoh bawa mereka sebenarnya gambaran dari "tepkotep cellot".

Demikian juga cerdik pandai, para mahasiswa, atau orang yang mengaku terdidik banyak yang tidak "kembali" ke akarnya; rakyat, desa, petani, tanah leluhurnya, dsb. Pada hal dulu ketika menimba ilmu mereka dilepas sama orang tuanya, rakyatnya, desanya, petaninya, dan tanah leluhurnya. Setelah "sukses" mereka lelap dalam kenikmatan hidup dan petualangan pemikiran yang sepenuhnya lepas dari "akar". Inilah contoh sempurna dari dari apa yang saya istilahkan "well tepkotep cellot educated".

Yang paling relevan 'tepkotep cellot' ini bisa menggambarkan situasi sekarang dimana banyak orang, pihak, dan  kelompok yang melupakan ibu pertiwi dan the founding fathers negeri ini. Sudah dibilang "hubbul wathan minal iman" (cinta tanah air sebagian dari iman) eh.. mereka gak mau kembali. Malah justru sibuk dengan mainan baru yang bikin lupa sama ibu pertiwinya, membangun ideologi transnasional, liberal maupun radikal.

Dari Madura saya hanya berdo' a semoga bangsa ini tidak menjadi bangsa "tepkotep cellot"

Matorsakalangkong

Pulau Garam l 26 Januari l 2017

[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar



Sekarang Sumenep pantas disebut daerah yang mengalami "darurat agaria". Sudah lebih 500 hektar tanah lepas ke tangan investor. Pemeritah daerah seperti santai menghadapi soal ini, malah terkesan membiarkan atau membela kepentingan investor. Tulisan singkat berikut ini menyoal SUMENEP DARURAT AGRARIA. Agar mudah, tulisan ini ditulis dengan gaya tanya jawab. Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan pelengkap bagi sahabat-sahabat yang terus menyuarakan isu agraria ini. Semoga bermanfaat (adz).

Sejak kapan Sumenep mengalami "Darurat Agraria"?

Sejak 2 tahun terakhir hingga sekarangpun Sumenep mengalami darurat agraria. Tanah tanah searah besar besaran terjual kepada investor luar dan lokal. Nyaris sepanjang pantai sejak kecamatan Bluto, Talango, Gap1ura, Dungkek, Batang-Batang, Batuputih, Dasuk sudah dikuasai investor. Dan di pesisir pantai kecamatan Ambunten dan Pasongsongan terjadi penjarahan pasir yang sudah memberikan nampak sosial , budaya dan lingkungan.

Apa yang terjadi di Sumenep sebenarnya merupakan fase lanjut dari pembangunan Jembatan Suramadu, infrastruktur yang memang dirancang sebagai karpet merah bagi kapitalisme.

Berapa jumlah tanah yang sudah dikuasai oleh investor?

Data hasil investigasi majalah Fajar Instika Annuqayah (2016)  merilis sudah sekitar 500 hektar tanah yang lepas ke tangan investor se kabupaten Sumenep. Sementara dalam perda Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) N0 12 Tahun 2013 menyebutkan bahwa tanah yang disediakan ke pihak investor untuk pembangunan tambak berjumlah 1.723 ha. Ini aneh, sepertinya lepasnya tanah sebenarnya sudah didesain dalam perda. Ada spekulasi, pembuatan perda RTRW sangat mungkin dipengaruhi investor. Melihat massifnya akuisisi tanah oleh investor, bisa saja jumlahnya saat ini yang pindah ke tangan investor lebih dari 500 hektar.

Untuk apa tanah itu diperuntukkan ?

Tanah sepanjang pantai oleh investor dibangun tambak udang. Yang sudah mendapat ijin ada 4 perusahaan, di andulang gapura, lapa daje dungkek, lombang batang-batang, dan kerta timur dasuk. Sementara pembangunan tambak lainnya terus berlangsung meski tidak memperoleh ijin seperti di talango, dan Gar Bato serta Pakandangan di Bloto.

Sebagian lagi untuk pengembangan wisata seperti daerah  Badur dan Batuputih Deje kecamatan Batuputih. Investasi pariwisata diyakini akan membanjiri kabupaten Sumenep karena potensi wisata sumenep memang luar.

Untuk bagian timur kabupaten Sumenep akan dikembangkan pariwisata segi tiga mas dengan pelabuhan Dungkek sebagai akses transportasi baharinya.  Pariwisata segi tiga mas itu meliputi badur dan lombang - giliyang - gili labak. Dan mungkin meluas hingga Pantai Sembilan, kawasan wisata yang baru ditemukan di Pulau Giligenteng, dimana perusahaan migas PT Santos beroperasi.

Ada spekulasi Sumenep merupakan wilayah yang menyimpan potensi migas luar biasa. Baru-baru ini media damai memberitakan ditemukannya ladang migas di kecamatan Pasongsongan dan Manding ketika warga menggali sumur untuk memenuhi kebutuhan airnya. Yang keluar bukan air, malah migas.

Tetapi lepas dari ada tidaknya potensi migas, penguasaan pesisir oleh investor asing atau lokal secara ekonomi politik di masa depan, menurut salah seorang kyai muda, akan sangat menguntungkan. Apalagi jika dihubungkan dengan peta geopolitik dunia dan makin menguatnya kekuatan kapitalisme ekstraktif saat ini.

Pada hal dalam sejarah kolonialisme, lanjut kyai muda, tak pernah pesisir Madura sepenuhnya ditembus oleh penjajah. Pesisir Madura kuat karena dikuasai oleh persekutuan dua suku  pemberani di laut, yaitu suku Madura dan Bugis. Dengan demikian pesisir adalah pertahanan. Rupanya investor entah asing atau lokal menggunakan strategi makan bubur untuk menjarah madura, makan dari pinggir alias kuasai pesisir.

Apa dampaknya bagi warga?

Secara ekonomi penguasaan tanah oleh investor dalam jumlah besar besaran akan mengakibatkan warga kehilangan alat produksinya. Mereka akan terasing di daerahnya. Tidak lagi menjadi subyek tetapi menjadi obyek dari proses produksi yang sepenuhnya dikendalikan investor. Dengan bahasa sederhana, warga akan menjadi kuli di daerahnya sendiri.

Jika bukan kuli, pilihannya warga menjadi pengangguran hingga akhirnya terserap ke dalam pilihan-pilihan pekerjaan yang sepenuhnya memerlukan ilmu dan keterampilan baru. Atau pilihan lain akan memilih merantau. Pendeknya, jika sepenuhnya alat produksi dimiliki oleh investor cepat atau lambat akan terjadi proses pemiskinan warga.

Sebagai dampaknya, kesenjangan ekonomi tak terhindarkan. Kesenjangan antara si kaya yang menguasai sumber-sumber ekonomi (termasuk tanah) dengan umumnya para warga akan terus melebar. Saat ini saja, 1 persen orang terkaya menguasai 49,3 persen aset nasional (kompas, januari 2017).

Secara sosial, kehadiran industri akan mengakibatkan relasi sosial sebagaimana biasa terjadi dalam masyarakat pedesaan akan mengalami perubahan. Kehidupan yang guyub, intim dan penuh gotong-royong akan tergantikan oleh kehidupan yang impersonal, individuaslitik dan transaksional. Kehadiran industri akan menghabisi nilai-nilai keguyuban masyarakat pedesaan secara total. Terasa sudah, konflik antar warga sudah mulai muncul mengiringi pro kontra kehadiran investor.

Secara budaya, hilangnya tanah yang diiringi oleh industri akan meminggirkan tradisi-tradisi yang selama ini menjadi benteng sekaligus strategi cerdas melawan kapitalisme global oleh masyarakat pedesaan di Madura. Kalau pun tradisi itu ada dalam masyarakat industri maka tradisi sekedar diawetkan dan dijinakkan untuk kepentingan industri atau kapitalisme.

Secara keagamaan juga akan memberikan  pengaruh karena industri akan memerangkap manusia ke dalam jebakan rasionalis-positivis yang sepenuhnya menghamba pada nilai-nilai dangkal yang bersifat material. Spiritualitas dengan demikian akan ditampik.

Sementara dampak yang sekarang dihadapi warga sudah mulai terasa. Di lokasi industri tambak, para warga sudah tidak leluasa pergi ke manapun mereka suka. Karena akses jalan sebagian sudah ditutup oleh tembok luas pertambakan. Misalnya di desa Andulang Kecamatan Gapura dan Lapa Daya Kecamatan Dungkek, masyarakat nelayan sudah harus memutar untuk pergi ke laut, karena akses terdekat ke laut sudah terhalang tembok area tambak. Belum lagi limbah yang bau dan kotor yang dibuang ke laut akan menyebabkan ikan mati atau pergi. Dan tentu saja hal ini mengganggu mata pencaharian para nelayan.

Bagaimana Modus Pelepasan Tanah?

Jual-beli tanah tidak seperti jual-beli ikan di pasar tradisonal. Kesepakatan di pasar tradisonal dilakukan secara suka rela. Sementara pelepasan tanah melibatkan kekuatan struktural dan modal. Dari fakta yang terhimpun, dari semua desa yang sekarang tanahnya ludes, proses pelepasannya selalu melibatkan orang-orang kuat mulai sejak tokoh masyarakat, aparat desa (bahkan hingga lembaga di atasnya), jagoan, mafia dan makelar tanah yang bekerja secara sistematis dan terstruktur. Tentu warga menghadapi kekuatan pro investor seperti itu tak berdaya. Bisa ditebak, akhirnya tanah-tanah mereka dilepas. Meski saya tidak mengingkari bahwa ada juga  yang dijual dengan sukarela.

Siapa yang (paling) harus bertanggungjawab?

Semua. Tokoh masyarakat harus mengkampanyekan kenapa harus memelihara "tana sangkol" sambil mendorong agar tanah disyukuri dengan cara menanaminya.

Anak-anak muda perlu mengkonsolidasikan diri dan memiliki kepekaan menjaga tanah dan buminya. Syukur kalau ada gerakan petani muda. Apalagi konflik agraria ke depan saya yakini akan makin menguat. Jika anak muda diam, jangan mimpi merawat madura.

Tapi yang paling bertanggungjawab ya pemerintah, dalam konteks lokal pemerintah daerah. Kenapa? Karena pelepasan tanah melibatkan kekuatan terstruktur dengan melibatkan pemodal, kekuasan, jagoan, mafia tanah dsb. Tentu kekuatan ini tidak bisa hanya dihadapi masyarakat pemilik tanah.

Maka pemerintah harus hadir dengan membuat regulasi yang tegas dalam melindungi tanah warga tanpa melakukan pelanggaran terhadap hukum di atasnya. Bukan malah mendiamkan atau mencari alasan HAM untuk membenarkan kekuatan terstruktur di atas gentayangan menghabisi tanah rakyat.

Saya melihat pemerintah daerah tidak serius menyikapi soal ini. Atas nama investasi, pemerintah daerah seperti memihak kepada pemodal. Atas nama pertumbuhan ekonomi, pemerintah daerah tidak pernah menghitung ongkos sosial-ekonomi-budaya yang akan dihadapi rakyat ke depan.

Yang merespon isu agraria ini juga kyai sepuh. Tercatat ada pertemuan para kyai yang dihadiri bapak bupati di Kecamatan Saronggi (saya lupa tanggalnya) yang salah satu rekomendasi meminta pemda secepatnya membuat regulasi untuk menyelamatkan tanah rakyat. Tapi rekomendasi ini juga menguap.

Bukan hanya eksekutif, legislatif juga tak menaruh perhatian terhadap isu ini. Pegiat agraria yang tergabung di BATAN (Barisan Ajaga Tana Ajaga Na' Poto) yang merupakan gabungan lembaga-lembaga; Ansor, LPBHNU, LPPNU, KEN, FNKSDA, Yayasan Berkah Bumi) dua kali mengirim surat audiensi, sudah 3 bulan belum ada jawaban.

Lalu?

Sepertinya rakyat harus berjuang sendiri. Dan sekarang sudah mulai. Tanggal 13 Januari 2017 kemarin, masyarakat Batuputih Daya Kecamatan Batuputih mengadakan Rokat Desa yang menolak investor masuk untuk mengembangkan wisata Batu Toabang, tentu saja dengan menyasar tanahnya. Rokat Desa itu dihadiri ribuan warga. Rokat Desa itu sebenarnya mengirim pesan, pemerintah saatnya merespon darurat agraria.

Matorsakalangkong
Pulau Garam l 24 Januari l 2017











[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar







Selang dua tahun saja, tanah pertanian di desa Andulang Kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep berpindah ke tangan Investor. Luasnya sekitar 15 ha (ada yang mengatakan 20 ha). Tanah itu dibeli dengan harga murah berkisar 15 - 25 ribu per meter. Harga jual itu jauh di bawah NOJP (nilai objek jual pajak).

Di tanah itulah saat ini telah dibangun tambak udang milik CV Madura Marina Lestari. Perusahaan yang orang desa pun tidak tahu siapa pemiliknya dan dari mana berasal. Tahunya warga cuma satu hal, lahan yang dulu ditanami padi, kacang hijau dan kacang tanah sekarang telah dialihfungsikan menjadi tambak udang,  makanan orang kaya yang justru berada di luar desa mereka.

Perusahaan tambak yang berdiri gagah itu ternyata menyisakan masalah bagi ibu Amma (55 th) dan ibu Azizah (35 th). Dua ibu yang memiliki tanah seluas 1450 ha ini, sekarang 7malang. Tanah dua ibu ini berada di tengah-tengah tanah perusahaan yang luasnya 20 ha. Pas di tengahnya. Meski tanah semua para tetangganya dijual kepada perusahaan, tanah milik dua ibu ini dipertahankan. Meski dibujuk dan dirayu agar dijual, tapi dua ibu ini tetap tak mau.

Sejak tambak dibangun, akses ke sawah miliknya ditutup karena di sekeliling tambak telah dibangun pagar . Pemiliknya tidak lagi dengan mudah bisa menyambangĂ® sawahnya. Satu-satunya akses hanya melalui pintu utama yang dijaga security. Secara psikologis, tentu pemiliknya berbeda jika lewat pintu utama ini. Perasaan khawatir tak terhindarkan. Aneh memang. Mau ke sawah sendiri justru dihinggapi perasaan khawatir. Satu bukti, bahwa kehadiran investor ke desa justru membuat warga desa terasing dengan lingkungannya sendiri.

Selama 2 tahun, sawah itu tidak lagi ditanami. Bagaimana mau menanam, akses air ke sawah itu juga putus karena sekelilingnya dikepung tambak. Pengairan tak lagi berfungsi sejak tambak berdiri. Sementara di area tambak itu hanya tersisa 1450m2 tanah milik ibu-ibu ini.

Pada hal sawah ini menjadi tempat bergantung ekonomi pemiliknya. Dulu di sawah ini padi dan kacang-kacangan tumbuh subur. Dalam 1 tahun bisa ditanami hingga 3 kali masa tanam secara bergantian, antara padi dan kacang-kacangan. Pertanda bahwa lokasi tambak adalah lahan pertanian produktif, sesuatu yang berlawanan dengan isu yang dikembangkan investor yang menyebut tanah di situ tidak produktif. Sekarang sawah ibu-ibu dibiarkan terbengkalai. Tentu kehadiran tambak telah memberikan kerugian sosial-ekonomi yang tidak main-amin bagi pemiliknya.

Belum lagi kekhawatiran bahwa tanah ini selamanya tidak akan bisa ditanami, karena limbah tambak yang mengepungnya akan mencemari kualitas sawah. Sawah tidak akan lagi produktif. Sawah sekedar menjadi gundukan tanah yang mungkin suatu waktu akan menjadi "monumen" bahwa kehadiran tambak telah melenyapkan alat produksi yang paling vital bagi petani, tanah.

Meski demikian, pemiliknya tetap berkomitmen untuk tidak menjual tanah ke pihak investor. Tak akan. Setidaknya itulah yang saya dengar. Banyak alasan yang mengemuka mulai sejak alasan sosial-budaya hingga alasan supra-rasional.

Tanah itu adalah teman hidup. Tempat mencari rizki Allah. Tempat berusaha dan mencari mata pencaharian. Tentu, sawah bisa dijual dan pemiliknya bisa memperoleh banyak uang. Tapi uang akan habis. Sementara tanah tidak mudah habis. Di atas tanah itu, pemiliknya bisa mengolah dan menanaminya. Dengan demikian pemiliknya menjadi subyek. Beda jika dijual ke pihak investor, pemiliknya bisa menjadi kuli, sekedar menjadi obyek.

Bagi pemiliknya, tanahnya adalah "tana sangkol". Tana sangkol bukan sekedar tanah warisan yang dengan mudah diperjualbelikan. Tana sangkol adalah lokus, tempat bertemunya ruang masa lalu dan sekarang. Tempat pemilik sekarang dengan pemilik masa lalu mempersatukan ikatan batinnya. Tempat generasi sekarang dengan para leluhurnya mencari jejak untuk saling mengingat. Jadi tana sangkol bukan sekedar gundukan tanah yang tidak bermakna. Bahkan dalam taraf tertentu ada kepercayaan, melepas tana sangkol akan menuai cobaan hidup.

Alasan lain yang supra-rasional, tanah ini berbeda dengan tanah yang di sekelilingnya terjual ke investor. Tanah ini mengandung nilai "magis", aneh dan tak bisa dilogikakan. Setiap musim padi, tak ada burung yang memakan padi di sawah ini. Burung-burung hanya memakan padi di sawah-sawah lainnya. Boleh Anda percaya, boleh tidak. Tetapi itulah kesaksian pemiliknya.

Saat ini, dua ibu ini yang didampingi menantunya sedang berjuang mencari keadilan. Beberapa hari lalu datang ke komisi 2 DPRD Sumenep mengadukan tanahnya yang malang. Tuntutannya sederhana, buka akses ke sawahnya dan jangan cemari sawahnya dengan limbah. Mereka hanya mau bertani seperti sebelum tambak berdiri. Itu saja.

Saya mengapresiasi perjuangannya. Tentu tidak mudah baginya menuntut keadilan. Yang mereka lawan struktur besar, modal dan (mungkin) kekuasaan. Apalagi setelah datang investor, rakyat desa terbelah. Ada yang pro, ada yang kontra. Bisa jadi perjuangan pemilik tanah ini memperoleh "cibiran" justru di desanya sendiri.

Sekali lagi, ini adalah fakta. Di daerah-daerah yang tanahnya jatuh ke tangan investor, bukan berarti tidak ada masalah, meski warganya diam. Sayang, soal ini tak dicermati oleh pemerintah daerah yang tanpa ada kajian mendalam begitu mudah memberi ijin bagi perusahaan. Teruslah berjuang ibu.

Salam

Pulau Garam l 27 oktober 2016



[ Read More ]