Posted by rampak naong - - 0 komentar

teronggosong.com
Parman tampak sedang membongkar lemari kitabnya. Hampir semua kitab dibuka, lembar demi lembar dipelototinya. Setiap kitab selesai dibuka, ia menarik nafas dalam-dalam. Dari wajahnya muncul gurat kekecewaan. Sudah ratusan kitab dibukanya, yang dicarinya tak juga ketemu.

Di hadapannya tinggal satu kitab lagi, Ta'lim Muta'allim. Satu kitab yang mengajarkan etika bagi pencari ilmu, kitab wajib wabil khusus bagi kaum santri.  Dari kitab inilah ia mengenal bagaimana seharusnya  seorang santri menghormat dan memuliakan guru.

Diraihnya kitab itu. Tiba-tiba air matanya meleleh. Dengan sangat emosional, diciuminya kitab itu sambil berusaha menghadirkan wajah guru di hadapannya. Guru lahir bathin baginya yang tepat setahun lalu wafat. Suasana makin emosional. Tangis pun pecah.

Dibukalah kitab yang sudah mulai lusuh itu. Sekali buka, tepat pada halaman yang terganjal sebuah foto. Dengan suara berbisik ia berkata, "Alhamdulillah, tuntas sudah. Ini yang aku cari".  Rupanya parman selama berjam-jam membongkar lemari kitab dan lembar demi lembar membukanya, hanya untuk mencari foto gurunya. Foto kyainya.

Ia pandangi foto gurunya. Foto itu seakan bercerita. Memutar kembali ingatannya 5 tahun lalu saat ia pamit untuk kembali ke kampung halamannya. Pesan terakhir yang beliau sampaikan sangat singkat, "pulanglah, sampaikan ilmumu secara arif kepada masyarakat di desamu".

Mengingat pesan gurunya, parman kembali menangis. Dengan suara lirih ia berbisik, "maafkan kami guru". Ya, parman merasa bersalah karena bukan-bulan terakhir ini ia justru mencampakkan guru sejatinya. Ia malah terhipnotis sama ajakan kawannya untuk mengidolakan "guru" jauh. Guru yang tak pernah ia bersila untuk mengaji di hadapannya. Kecuali ia tonton di TV atau di video android milik temannya.

Setiap parman mendengar ceramah "guru jauh" seolah ia terkesiap. Takjub. Terpana. Teriakan takbir serta semangat keislaman yang menyala-nyala mampu menggelorakan semangat keberagamaannya. "Ini baru Islam", batinnya.

Karena terpukau, Parman pun berangkat ke kota untuk ikut aksi 433. Ia memaknai aksi sebagai jihad, membela agama. Di lokasi aksi, darah mudanya makin bergelegak. Jutaan peserta aksi yang berkumpul telah memindahkan cara pikir bahkan ideologi, dan menghapus hampir seluruh tradisi keilmuan yang ia peroleh di pesantren. Ia pun sering meniru ucapan sang "guru jauh" itu, Takbirrr.

Selepas ikut aksi, parman makin intens terlibat mendirikan organ dari jauh itu. Bahkan parman rela merogoh kocek sendiri membuat banner dengan foto-foto "Guru Jauh" dan kemudian dipancang depan masjid dekat rumahnya.

Saat semangat jihadnya memuncak, tak disangka ia bertemu teman pondok ketika sama-sama di pesantren dulu. Sahabatnya itu membuka kenangan parman terhadap sosok guru di pesantrennya yang dengan arif mendidik parman. Bahkan sang guru tak jarang memberi parman makan dan uang untuk biaya pendidikannya di pondok, di saat orang tua parman angkat tangan tak mampu mengirim biaya.

Parman terkesiap. Wajah gurunya selalu menghantuinya. Seolah gurunya rindu sama parman, meski hidup di tempat yang berbeda. Sejak itu parman mulai mengambil jarak dengan guru jauhnya. Sebagai gantinya, foto gurunya yang dicarinya selama berjam-jam itu diperbesar ke studio foto dan kemudian dibungkus pigura cantik. Foto itu dipasang di tembok di serambi rumahnya.

Baru selesai memasang foto gurunya, tiba-tiba terdengar suara riuh depan rumahnya. "Keluar....Keluar.....", terdengar suara tak bersahabat. Parman pun keluar rumah. Ia pandangi orang yang datang tak diundang ke rumahnya. Jumlahnya tak lebih 15 orang, hanya 0,2 % dari penduduk desanya. Tapi suara kerasnya seakan mengalahkan suara semua penduduk desa.

 "Siapa yang menurunkan baliho guru kami", tanya seseorang di antara mereka dengan garangnya. "Kami dengar kabar, kamulah yang menurunkan? Bagaimana mungkin?"

"Ya, saya", kata parman. Kemudian ia ambil foto guru yang baru digantungnya. "Saya punya guru sejati, jadi tak perlu kalian usik lagi," dengan bangga memamerkan foto gurunya. "Dan ini ambil banner yang saya turunkan, tapi tolong jangan dipancang di desa ini", kata parman sambil menyerahkan bungkus plastik kresek berisi banner.

Parman malangkah memasuki rumah. Baru saja melangkah, tiba-tiba sebuah benda melayang  mengenai tengkuknya. Parman tersungkur. Pingsan.

Matorsakalangkong
1.04.2017

[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar

ruangkumemajangkarya.wordpress.com


"Tepkotep cellot" (secara harfiah melempar tanah lempung ke tembok) adalah majaz dalam kearifan madura yang biasanya disampaikan orang tua kepada anaknya yang tiada kunjung kembali ketika disuruh membeli rokok, misalnya. Persis seperti "cellot" atau tanah lempung yang dilempar ke tembok akan lengket dan tidak kembali kepada pelemparnya.

Kearifan ini dalam konteks sekarang sepertinya masih relevan meski harus direaktualisasi. Perlu tafsir baru biar segar. Saya rasa majaz tidak hanya berlaku untuk anak sebagaimana orangtua dulu selalu menggunakannya, tapi juga bisa menggambarkan para wakil rakyat yang tidak pernah kembali kepada rakyat yang diwakilinya. Meski para wakil rakyat apakah presiden, gubernur, bupati, wali kota, kepala desa, atau anggota legislatif sejak pusat hingga daerah selalu bilang menjalankan mandat rakyat, tapi mereka tidak benar-benar kembali ke rakyat. Terlalu banyak bagi saya dan Anda untuk menyebut contoh bawa mereka sebenarnya gambaran dari "tepkotep cellot".

Demikian juga cerdik pandai, para mahasiswa, atau orang yang mengaku terdidik banyak yang tidak "kembali" ke akarnya; rakyat, desa, petani, tanah leluhurnya, dsb. Pada hal dulu ketika menimba ilmu mereka dilepas sama orang tuanya, rakyatnya, desanya, petaninya, dan tanah leluhurnya. Setelah "sukses" mereka lelap dalam kenikmatan hidup dan petualangan pemikiran yang sepenuhnya lepas dari "akar". Inilah contoh sempurna dari dari apa yang saya istilahkan "well tepkotep cellot educated".

Yang paling relevan 'tepkotep cellot' ini bisa menggambarkan situasi sekarang dimana banyak orang, pihak, dan  kelompok yang melupakan ibu pertiwi dan the founding fathers negeri ini. Sudah dibilang "hubbul wathan minal iman" (cinta tanah air sebagian dari iman) eh.. mereka gak mau kembali. Malah justru sibuk dengan mainan baru yang bikin lupa sama ibu pertiwinya, membangun ideologi transnasional, liberal maupun radikal.

Dari Madura saya hanya berdo' a semoga bangsa ini tidak menjadi bangsa "tepkotep cellot"

Matorsakalangkong

Pulau Garam l 26 Januari l 2017

[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar



Sekarang Sumenep pantas disebut daerah yang mengalami "darurat agaria". Sudah lebih 500 hektar tanah lepas ke tangan investor. Pemeritah daerah seperti santai menghadapi soal ini, malah terkesan membiarkan atau membela kepentingan investor. Tulisan singkat berikut ini menyoal SUMENEP DARURAT AGRARIA. Agar mudah, tulisan ini ditulis dengan gaya tanya jawab. Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan pelengkap bagi sahabat-sahabat yang terus menyuarakan isu agraria ini. Semoga bermanfaat (adz).

Sejak kapan Sumenep mengalami "Darurat Agraria"?

Sejak 2 tahun terakhir hingga sekarangpun Sumenep mengalami darurat agraria. Tanah tanah searah besar besaran terjual kepada investor luar dan lokal. Nyaris sepanjang pantai sejak kecamatan Bluto, Talango, Gap1ura, Dungkek, Batang-Batang, Batuputih, Dasuk sudah dikuasai investor. Dan di pesisir pantai kecamatan Ambunten dan Pasongsongan terjadi penjarahan pasir yang sudah memberikan nampak sosial , budaya dan lingkungan.

Apa yang terjadi di Sumenep sebenarnya merupakan fase lanjut dari pembangunan Jembatan Suramadu, infrastruktur yang memang dirancang sebagai karpet merah bagi kapitalisme.

Berapa jumlah tanah yang sudah dikuasai oleh investor?

Data hasil investigasi majalah Fajar Instika Annuqayah (2016)  merilis sudah sekitar 500 hektar tanah yang lepas ke tangan investor se kabupaten Sumenep. Sementara dalam perda Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) N0 12 Tahun 2013 menyebutkan bahwa tanah yang disediakan ke pihak investor untuk pembangunan tambak berjumlah 1.723 ha. Ini aneh, sepertinya lepasnya tanah sebenarnya sudah didesain dalam perda. Ada spekulasi, pembuatan perda RTRW sangat mungkin dipengaruhi investor. Melihat massifnya akuisisi tanah oleh investor, bisa saja jumlahnya saat ini yang pindah ke tangan investor lebih dari 500 hektar.

Untuk apa tanah itu diperuntukkan ?

Tanah sepanjang pantai oleh investor dibangun tambak udang. Yang sudah mendapat ijin ada 4 perusahaan, di andulang gapura, lapa daje dungkek, lombang batang-batang, dan kerta timur dasuk. Sementara pembangunan tambak lainnya terus berlangsung meski tidak memperoleh ijin seperti di talango, dan Gar Bato serta Pakandangan di Bloto.

Sebagian lagi untuk pengembangan wisata seperti daerah  Badur dan Batuputih Deje kecamatan Batuputih. Investasi pariwisata diyakini akan membanjiri kabupaten Sumenep karena potensi wisata sumenep memang luar.

Untuk bagian timur kabupaten Sumenep akan dikembangkan pariwisata segi tiga mas dengan pelabuhan Dungkek sebagai akses transportasi baharinya.  Pariwisata segi tiga mas itu meliputi badur dan lombang - giliyang - gili labak. Dan mungkin meluas hingga Pantai Sembilan, kawasan wisata yang baru ditemukan di Pulau Giligenteng, dimana perusahaan migas PT Santos beroperasi.

Ada spekulasi Sumenep merupakan wilayah yang menyimpan potensi migas luar biasa. Baru-baru ini media damai memberitakan ditemukannya ladang migas di kecamatan Pasongsongan dan Manding ketika warga menggali sumur untuk memenuhi kebutuhan airnya. Yang keluar bukan air, malah migas.

Tetapi lepas dari ada tidaknya potensi migas, penguasaan pesisir oleh investor asing atau lokal secara ekonomi politik di masa depan, menurut salah seorang kyai muda, akan sangat menguntungkan. Apalagi jika dihubungkan dengan peta geopolitik dunia dan makin menguatnya kekuatan kapitalisme ekstraktif saat ini.

Pada hal dalam sejarah kolonialisme, lanjut kyai muda, tak pernah pesisir Madura sepenuhnya ditembus oleh penjajah. Pesisir Madura kuat karena dikuasai oleh persekutuan dua suku  pemberani di laut, yaitu suku Madura dan Bugis. Dengan demikian pesisir adalah pertahanan. Rupanya investor entah asing atau lokal menggunakan strategi makan bubur untuk menjarah madura, makan dari pinggir alias kuasai pesisir.

Apa dampaknya bagi warga?

Secara ekonomi penguasaan tanah oleh investor dalam jumlah besar besaran akan mengakibatkan warga kehilangan alat produksinya. Mereka akan terasing di daerahnya. Tidak lagi menjadi subyek tetapi menjadi obyek dari proses produksi yang sepenuhnya dikendalikan investor. Dengan bahasa sederhana, warga akan menjadi kuli di daerahnya sendiri.

Jika bukan kuli, pilihannya warga menjadi pengangguran hingga akhirnya terserap ke dalam pilihan-pilihan pekerjaan yang sepenuhnya memerlukan ilmu dan keterampilan baru. Atau pilihan lain akan memilih merantau. Pendeknya, jika sepenuhnya alat produksi dimiliki oleh investor cepat atau lambat akan terjadi proses pemiskinan warga.

Sebagai dampaknya, kesenjangan ekonomi tak terhindarkan. Kesenjangan antara si kaya yang menguasai sumber-sumber ekonomi (termasuk tanah) dengan umumnya para warga akan terus melebar. Saat ini saja, 1 persen orang terkaya menguasai 49,3 persen aset nasional (kompas, januari 2017).

Secara sosial, kehadiran industri akan mengakibatkan relasi sosial sebagaimana biasa terjadi dalam masyarakat pedesaan akan mengalami perubahan. Kehidupan yang guyub, intim dan penuh gotong-royong akan tergantikan oleh kehidupan yang impersonal, individuaslitik dan transaksional. Kehadiran industri akan menghabisi nilai-nilai keguyuban masyarakat pedesaan secara total. Terasa sudah, konflik antar warga sudah mulai muncul mengiringi pro kontra kehadiran investor.

Secara budaya, hilangnya tanah yang diiringi oleh industri akan meminggirkan tradisi-tradisi yang selama ini menjadi benteng sekaligus strategi cerdas melawan kapitalisme global oleh masyarakat pedesaan di Madura. Kalau pun tradisi itu ada dalam masyarakat industri maka tradisi sekedar diawetkan dan dijinakkan untuk kepentingan industri atau kapitalisme.

Secara keagamaan juga akan memberikan  pengaruh karena industri akan memerangkap manusia ke dalam jebakan rasionalis-positivis yang sepenuhnya menghamba pada nilai-nilai dangkal yang bersifat material. Spiritualitas dengan demikian akan ditampik.

Sementara dampak yang sekarang dihadapi warga sudah mulai terasa. Di lokasi industri tambak, para warga sudah tidak leluasa pergi ke manapun mereka suka. Karena akses jalan sebagian sudah ditutup oleh tembok luas pertambakan. Misalnya di desa Andulang Kecamatan Gapura dan Lapa Daya Kecamatan Dungkek, masyarakat nelayan sudah harus memutar untuk pergi ke laut, karena akses terdekat ke laut sudah terhalang tembok area tambak. Belum lagi limbah yang bau dan kotor yang dibuang ke laut akan menyebabkan ikan mati atau pergi. Dan tentu saja hal ini mengganggu mata pencaharian para nelayan.

Bagaimana Modus Pelepasan Tanah?

Jual-beli tanah tidak seperti jual-beli ikan di pasar tradisonal. Kesepakatan di pasar tradisonal dilakukan secara suka rela. Sementara pelepasan tanah melibatkan kekuatan struktural dan modal. Dari fakta yang terhimpun, dari semua desa yang sekarang tanahnya ludes, proses pelepasannya selalu melibatkan orang-orang kuat mulai sejak tokoh masyarakat, aparat desa (bahkan hingga lembaga di atasnya), jagoan, mafia dan makelar tanah yang bekerja secara sistematis dan terstruktur. Tentu warga menghadapi kekuatan pro investor seperti itu tak berdaya. Bisa ditebak, akhirnya tanah-tanah mereka dilepas. Meski saya tidak mengingkari bahwa ada juga  yang dijual dengan sukarela.

Siapa yang (paling) harus bertanggungjawab?

Semua. Tokoh masyarakat harus mengkampanyekan kenapa harus memelihara "tana sangkol" sambil mendorong agar tanah disyukuri dengan cara menanaminya.

Anak-anak muda perlu mengkonsolidasikan diri dan memiliki kepekaan menjaga tanah dan buminya. Syukur kalau ada gerakan petani muda. Apalagi konflik agraria ke depan saya yakini akan makin menguat. Jika anak muda diam, jangan mimpi merawat madura.

Tapi yang paling bertanggungjawab ya pemerintah, dalam konteks lokal pemerintah daerah. Kenapa? Karena pelepasan tanah melibatkan kekuatan terstruktur dengan melibatkan pemodal, kekuasan, jagoan, mafia tanah dsb. Tentu kekuatan ini tidak bisa hanya dihadapi masyarakat pemilik tanah.

Maka pemerintah harus hadir dengan membuat regulasi yang tegas dalam melindungi tanah warga tanpa melakukan pelanggaran terhadap hukum di atasnya. Bukan malah mendiamkan atau mencari alasan HAM untuk membenarkan kekuatan terstruktur di atas gentayangan menghabisi tanah rakyat.

Saya melihat pemerintah daerah tidak serius menyikapi soal ini. Atas nama investasi, pemerintah daerah seperti memihak kepada pemodal. Atas nama pertumbuhan ekonomi, pemerintah daerah tidak pernah menghitung ongkos sosial-ekonomi-budaya yang akan dihadapi rakyat ke depan.

Yang merespon isu agraria ini juga kyai sepuh. Tercatat ada pertemuan para kyai yang dihadiri bapak bupati di Kecamatan Saronggi (saya lupa tanggalnya) yang salah satu rekomendasi meminta pemda secepatnya membuat regulasi untuk menyelamatkan tanah rakyat. Tapi rekomendasi ini juga menguap.

Bukan hanya eksekutif, legislatif juga tak menaruh perhatian terhadap isu ini. Pegiat agraria yang tergabung di BATAN (Barisan Ajaga Tana Ajaga Na' Poto) yang merupakan gabungan lembaga-lembaga; Ansor, LPBHNU, LPPNU, KEN, FNKSDA, Yayasan Berkah Bumi) dua kali mengirim surat audiensi, sudah 3 bulan belum ada jawaban.

Lalu?

Sepertinya rakyat harus berjuang sendiri. Dan sekarang sudah mulai. Tanggal 13 Januari 2017 kemarin, masyarakat Batuputih Daya Kecamatan Batuputih mengadakan Rokat Desa yang menolak investor masuk untuk mengembangkan wisata Batu Toabang, tentu saja dengan menyasar tanahnya. Rokat Desa itu dihadiri ribuan warga. Rokat Desa itu sebenarnya mengirim pesan, pemerintah saatnya merespon darurat agraria.

Matorsakalangkong
Pulau Garam l 24 Januari l 2017











[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar







Selang dua tahun saja, tanah pertanian di desa Andulang Kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep berpindah ke tangan Investor. Luasnya sekitar 15 ha (ada yang mengatakan 20 ha). Tanah itu dibeli dengan harga murah berkisar 15 - 25 ribu per meter. Harga jual itu jauh di bawah NOJP (nilai objek jual pajak).

Di tanah itulah saat ini telah dibangun tambak udang milik CV Madura Marina Lestari. Perusahaan yang orang desa pun tidak tahu siapa pemiliknya dan dari mana berasal. Tahunya warga cuma satu hal, lahan yang dulu ditanami padi, kacang hijau dan kacang tanah sekarang telah dialihfungsikan menjadi tambak udang,  makanan orang kaya yang justru berada di luar desa mereka.

Perusahaan tambak yang berdiri gagah itu ternyata menyisakan masalah bagi ibu Amma (55 th) dan ibu Azizah (35 th). Dua ibu yang memiliki tanah seluas 1450 ha ini, sekarang 7malang. Tanah dua ibu ini berada di tengah-tengah tanah perusahaan yang luasnya 20 ha. Pas di tengahnya. Meski tanah semua para tetangganya dijual kepada perusahaan, tanah milik dua ibu ini dipertahankan. Meski dibujuk dan dirayu agar dijual, tapi dua ibu ini tetap tak mau.

Sejak tambak dibangun, akses ke sawah miliknya ditutup karena di sekeliling tambak telah dibangun pagar . Pemiliknya tidak lagi dengan mudah bisa menyambangĂ® sawahnya. Satu-satunya akses hanya melalui pintu utama yang dijaga security. Secara psikologis, tentu pemiliknya berbeda jika lewat pintu utama ini. Perasaan khawatir tak terhindarkan. Aneh memang. Mau ke sawah sendiri justru dihinggapi perasaan khawatir. Satu bukti, bahwa kehadiran investor ke desa justru membuat warga desa terasing dengan lingkungannya sendiri.

Selama 2 tahun, sawah itu tidak lagi ditanami. Bagaimana mau menanam, akses air ke sawah itu juga putus karena sekelilingnya dikepung tambak. Pengairan tak lagi berfungsi sejak tambak berdiri. Sementara di area tambak itu hanya tersisa 1450m2 tanah milik ibu-ibu ini.

Pada hal sawah ini menjadi tempat bergantung ekonomi pemiliknya. Dulu di sawah ini padi dan kacang-kacangan tumbuh subur. Dalam 1 tahun bisa ditanami hingga 3 kali masa tanam secara bergantian, antara padi dan kacang-kacangan. Pertanda bahwa lokasi tambak adalah lahan pertanian produktif, sesuatu yang berlawanan dengan isu yang dikembangkan investor yang menyebut tanah di situ tidak produktif. Sekarang sawah ibu-ibu dibiarkan terbengkalai. Tentu kehadiran tambak telah memberikan kerugian sosial-ekonomi yang tidak main-amin bagi pemiliknya.

Belum lagi kekhawatiran bahwa tanah ini selamanya tidak akan bisa ditanami, karena limbah tambak yang mengepungnya akan mencemari kualitas sawah. Sawah tidak akan lagi produktif. Sawah sekedar menjadi gundukan tanah yang mungkin suatu waktu akan menjadi "monumen" bahwa kehadiran tambak telah melenyapkan alat produksi yang paling vital bagi petani, tanah.

Meski demikian, pemiliknya tetap berkomitmen untuk tidak menjual tanah ke pihak investor. Tak akan. Setidaknya itulah yang saya dengar. Banyak alasan yang mengemuka mulai sejak alasan sosial-budaya hingga alasan supra-rasional.

Tanah itu adalah teman hidup. Tempat mencari rizki Allah. Tempat berusaha dan mencari mata pencaharian. Tentu, sawah bisa dijual dan pemiliknya bisa memperoleh banyak uang. Tapi uang akan habis. Sementara tanah tidak mudah habis. Di atas tanah itu, pemiliknya bisa mengolah dan menanaminya. Dengan demikian pemiliknya menjadi subyek. Beda jika dijual ke pihak investor, pemiliknya bisa menjadi kuli, sekedar menjadi obyek.

Bagi pemiliknya, tanahnya adalah "tana sangkol". Tana sangkol bukan sekedar tanah warisan yang dengan mudah diperjualbelikan. Tana sangkol adalah lokus, tempat bertemunya ruang masa lalu dan sekarang. Tempat pemilik sekarang dengan pemilik masa lalu mempersatukan ikatan batinnya. Tempat generasi sekarang dengan para leluhurnya mencari jejak untuk saling mengingat. Jadi tana sangkol bukan sekedar gundukan tanah yang tidak bermakna. Bahkan dalam taraf tertentu ada kepercayaan, melepas tana sangkol akan menuai cobaan hidup.

Alasan lain yang supra-rasional, tanah ini berbeda dengan tanah yang di sekelilingnya terjual ke investor. Tanah ini mengandung nilai "magis", aneh dan tak bisa dilogikakan. Setiap musim padi, tak ada burung yang memakan padi di sawah ini. Burung-burung hanya memakan padi di sawah-sawah lainnya. Boleh Anda percaya, boleh tidak. Tetapi itulah kesaksian pemiliknya.

Saat ini, dua ibu ini yang didampingi menantunya sedang berjuang mencari keadilan. Beberapa hari lalu datang ke komisi 2 DPRD Sumenep mengadukan tanahnya yang malang. Tuntutannya sederhana, buka akses ke sawahnya dan jangan cemari sawahnya dengan limbah. Mereka hanya mau bertani seperti sebelum tambak berdiri. Itu saja.

Saya mengapresiasi perjuangannya. Tentu tidak mudah baginya menuntut keadilan. Yang mereka lawan struktur besar, modal dan (mungkin) kekuasaan. Apalagi setelah datang investor, rakyat desa terbelah. Ada yang pro, ada yang kontra. Bisa jadi perjuangan pemilik tanah ini memperoleh "cibiran" justru di desanya sendiri.

Sekali lagi, ini adalah fakta. Di daerah-daerah yang tanahnya jatuh ke tangan investor, bukan berarti tidak ada masalah, meski warganya diam. Sayang, soal ini tak dicermati oleh pemerintah daerah yang tanpa ada kajian mendalam begitu mudah memberi ijin bagi perusahaan. Teruslah berjuang ibu.

Salam

Pulau Garam l 27 oktober 2016



[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar


(Tulisan ini saya buat setahun lalu
baru saya share tahun ini)

Mendengar kabar KH Abdul Muchith Muzadi wafat (6/9/2015) melalui pesan singkat yang saya terima dari HA Pandji Taufik sekitar jam 08.00 saya langsung lemas. Satu lagi, meminjam istilah orang Madura untuk menggambarkan wafatnya ulama,   "pakona dunnya" (pakunya bumi) tiada.

Saya mendengar kabar wafatnya kyai Muchith ketika  saya hendak mengisi kegiatan sharing tentang "parenting" bersama ibu-ibu desa. Sebelum memulai sharing, kami sempatkan menghadiahi surah Al Fatihah kepada kyai Muchith, murid langsung junjungan kami Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy'ari yang juga dkenal pakar Khittah NU itu.

Wafatnya kyai Muchith yang kondisi kesehaatannya terus menurun paska muktamar NU, membuka kembali ingatan saya ketika saya berkesempatan sowan bersama ketua pcnu sumenep, kawan aktivis PMII dan IPNU di tahun 2014. Kami berenam dari Sumenep bisa sowan kepada beliau berkat bantuan Pak Wazir, ketua PW LPPNU Jatim yang memang dekat dengan kekuarga kyai Mukhith.

Saat bertemu, saya mengalami kebahagian luar biasa. Saya saat itu seperti berhadapan dengan sebuah telaga yang menyemburkan kesejukan sekaligus memompa segenap tradisi yang mengendap di alam bawah sadar saya. Saya ciumi tangan beliau agak lama. Bukan semata karena tradisi, tetapi melampaui itu. Tangan kyai muchit yang saya ciumi seperti mepertautkan sanad keilmuan yang saya terima dari guru-guru di pesantren dan menyambungkan ke-NU-an saya dengan Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy'ari secara langsung. Melalui perjumpaan dengan kyai Mukhit seo!ah saya makin dekat dengan kyai Hasyim Asy'ari. Saya bersebelahan saja. Niat saya untuk mengabdikan hidup-mati saya di NU makin mebuncah.

Ketika berbincang, saya dengan segenap jiwa mencoba mengeja dawuh beliau. Banyak hal yang disampaikan, sejak pengalamannya mondok di Jombang, perjalanan hidup beliau sebagai seorang santri yang meyakini barokah, kegembiraan beliau melihat cucunya mau mondok di pesantren, hingga nasehat be!iau kepada kami yang akan sekuat tenaga saya ingat terus.

Di usianya yang waktu saya sowan kurang-lebih 90 tahun, kyai Mukhith seolah tidak mempedulikan fisiknya. Beliau masih tekun membaca. Kitab dan buku berjejer di ruang pribadinya. Menurut putranya, bahkan beliau pernah terjatuh di toko kitab saat ingin membeli kitab. Kyai Mukhith tipikal kyai yang haus ilmu, dan itu ditunjukkan dengan kegemaran membaca hingga beliau wafat. Termasuk mengikuti perkembangan NU dari kamar istirahatnya yang juga di!engkapi dengan tabung oksigen.

Nasehat yang sungguh menyentuh dan memompa ke-NU-an saya tentang "perintahnya" agar kami mencintai kyai, NU, dan NKRI. Kami memang tidak memperoleh penjelasan panjang tentang makna mncintai itu, terutama mencintai kyai. Tetapi kyai Muchith mungkin memberi ke!uluasaan bagi kami untuk memberi tafsir. Sehingga pesannya cukup singkat agar mudah saya ingat.

Saya sadar, relasi anak muda NU dan para santri dengan kyainya mengalami perubahan. Sebagian para santri telah mepertontonkan prilaku "suul adab" kepada kyainya. Mengkritik kyai secara kasar, mengkajinya dengan pendekatan teori-teori kiri/liberal, atau macam macam perbincangan yang sungguh tak elok dipertontonkan para santri. Ada judul buku yang melihat judulnya saja membuat saya terbelalak, sebut saja buku "Perselingkuhan Kyai dan Kekuasaan" atau "Menabur Kharisma Menuai Kuasa; Kiprah Kiai dan Blater Sebagai Rezim Kembar di Madura".

Belum lagi serangan dari luar yang saya yakini "by design" dilancarkan untuk membabat kyai dari basis kulturalnya. Maka (citra) kyai saat ini sengaja dirontokkan, diburamkan, dihasut, dicaci dan akhirnya ingin dijauhkan dari basisnya. Ketika berhasil kelompok itu bebas menerkam basis kyai, mencengkramnya untuk kepentingan politik atau kapital.

Ada lagi gerakan keagamaan yang membabat kyai dengan isu "kembali kepada Alqur'an dan Hadits". Seolah setiap orang memiliki otoritas untuk menafsirkan Alqur'an dan Hadits tanpa repot-repot mengaji kepada kyai. Tanpa ilmu yang memadai mereka menafsirkan dua sumber di atas sesukunya. Makanya, penafsiran mereka sangat kaku dan rigid.

Sekali lagi saya tidak menyimpulkan apakah pesan kyai Muchith selaras dengan penafsiran saya. Tetapi kata mencintai memiliki makna mendalam. Diksi ini dipilih oleh kyai Muchith, mungkin, karena mencintai adalah tindakan yang melampaui rasionalitas, bahkan pengetahuan. Meski saya sadar, mencintai juga butuh pengetahuan walaupun pengetahuan terkadang tumpul untuk menicintai.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiiun. Selamat Jalan Kyai Muchith. Semoga saya bisa menjalankan pesan, mencintai Kyai, NU, dan NKRI.

Pulau Garam l 7 September 2015

[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar


Kotasouvenir.com
(Tulisan ini dimuat di majalah mahasiswa Fajar Instika Guluk-Guluk Sumenep, Agustus 2016)

Setelah jembatan Suramadu dibuka, bersama beberapa teman, saya terlibat diskusi soal masa depan Madura. Dalam diskusi muncul bayangan buruk, bahwa tidak lama lagi tanah-tanah di Madura akan berpindah kepemilikan. Ternyata tak perlu menunggu lama. Bayangan itu nyata. Di depan wajah sendiri.
Inilah cerita "sukses" jembatan Suramadu. Sukses menarik Madura ke dalam gurita neoliberalisme ekonomi. Madura menjadi surga bagi sekelompok orang yang rakus luar biasa. Dan momentum itu makin kuat, bukan karena orang Madura manyambutnya, tetapi karena negara memaksakannya.

Karpet merah pun digelar untuk menyambut investor. Seiring jembatan Suramadu dibuka, negara mendirikan Badan Pengembangan Wilayah Surabaya Madura (BPWS). BPWS yang diberi wewenang mendorong percepatan pembangunan di Madura jelas lebih menyuarakan kepentingan negara (pemerintah pusat) atau investor ketimbang warga Madura sendiri.

Maka Madura pun disulap biar lebih "kinclong" di mata investor. Jalan raya diperlebar. Akses melalui jalur pantura sejak dari Bangkalan-Pasongsongan diperluas. Pelabuhan lama direnovasi sementara pelabuhan baru dibuka, termasuk di daerah Pasean, dekat Pasongsongan. Dan jangan lupa, Bandara Trunojoyo di sebelah Timur kota Sumenep, dekat asta Waliyullah Kyai Ali, saat ini juga diperluas. Dengan begitu, lengkaplah Madura diserang dari 3 penjuru; darat, laut, dan udara.

Baru-baru ini Presiden Jokowi memangkas hingga 50% tarif tol Suramadu. Dalam pernyataannya, pemangkasan ini untuk mendorong investasi lebih "kenceng" ke Madura. Karena dalam evaluasi pemerintah, tarif tol yang mahal akan membebani biaya transportasi yang memberatkan investor untuk berinvestasi di Madura. Dengan banyaknya investasi, diharapkan perekonomian Madura makin bergairah, dan bisa membuka lapangan kerja bagi warga Madura.

Sumenep sebagai salah satu kabupaten terkaya di Madura dengan kekuatan APBD lebih 2 triliun di tahun 2016 dan sumber daya alam yang melimpah menjadi incaran investor atau pemodal besar, baik lokal maupun asing. Belum lagi potensi pariwisatanya, Salopeng, Badur, Lombang, Wisata Oksigen Giliyang, Gili Labak, dan kandungan migas yang melimpah menjadikan Sumenep makin seksi untuk dilirik investor. Di daratan maupun lepas pantai, migas seakan bantal yang menjadi alas orang Madura tidur.

Setahun lalu, di Sumenep diselenggarakan seminar nasional tentang migas yang dihadiri pengusaha nasional. Penempatan seminar nasional tentang migas di Sumenep bukan soal sederhana, tapi—meminjam istilah Pak Pandji Taufik, ketua PCNUSumenep telah menjadi etalase dimana investor dengan mudah bisa melihat "barang" yang mau "dibeli".

Tak cukup itu, belakangan ini masyarakat Sumenep banyak kehilangan  “tana sangkol", sesuatu yang dahulu dianggap sebagai bukan sekadar "benda" atau "barang". Dalam kosmologi orang Madura, tana sangkol memiliki makna sakral. Hubungan orang Madura dengan tanahnya adalah sekaligus hubungan dengan para leluhurnya. Memperlakukan tana sangkol sembarangan termasuk menjualnya tanpa dibenarkan secara budaya adalah pelecehan terhadap para leluhur. Dalam derajat tertentu, pelecehan itu diyakini bisa mendatangkan "tola" (marabahaya).

Kosmologi orang Madura tentang tana sangkol oleh kapital diiremukkan. Di atas tana sangkol telah berdiri bermacam infrastruktur kapitalisme, tempat sistem itu memulai gurita ekonominya dan memutar roda kapitalnya meski harus menghisap ribuan orang, termasuk pemilik tanah pada mulanya. Dan itulah yang akan terjadi nanti. Orang Madura cukup menjadi kuli di pulaunya sendiri.

Apakah massifnya penguasaan tanah belakangan ini oleh investor asing merupakan gambaran dari perubahan kosmologi orang Madura terhadap tana sangkol? Bisa jadi, iya. Tetapi fakta di lapangan menunjukkan ada perselingkuhan penguasa dan pengusaha yang dengan otoritas dan hegemoninya "memaksa" masyarakat untuk melepas tanah. Di desa Lombang dan Lapa Daja, untuk menyebut kasus, penguasaan tanah melibatkan kalebun, mantan camat, serta para broker lokal yang setia pada investor. Dengan segala bujuk rayu, intrik, hingga "pemaksaan" ditempuh agar masyarakat melepaskan tanahnya.

Di sini saya melihat, kosmologi tentang tana sangkol hari ini tidak berjejak. Tak menemukan pijakan. Kosmologi orang Madura tersudutkan oleh perselingkuhan kapital dan kekuasaan. Jadi, perubahannya karena desakan dari luar ketimbang friksi internal.

Memang, dalam kajian Madura bertebaran tesis, seolah orang Madura tidak memiliki hubungan emosional dengan tanah. Salah satunya, budayawan/sejarawan modernis Prof. Dr. Kuntowidjoyo. Dalam bukunya Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris Madura 1850-1940, Kunto menjelaskan bahwa karakter desa di Madura yang bercorak scattered village dengan rumah yang berserakan dan jauh antara satu tetangga dengan lainnya telah membentuk karakter orang Madura menjadi lebih individual (individual centered). Inilah salah satu alasan kenapa di Madura tidak ada pemberontakan petani yang terorganisir seperti di Banten ketika masa penjajahan Belanda dahulu.

Ada lagi kajian dibanding masyarakat Jawa, orang Madura lebih gampang meninggalkan tanahnya karena itu orang Madura dulu banyak dimobilisasi sebagai tentara kerajaan atau pasukan Belanda yang dikenal sebagai Barisan. Berlanjut hingga masa berikutnya dan bahkan sekarang, fenomena perantauan Madura diyakini karena hubungan emosional terhadap tanah rendah.

Penjelasan banyak pengkaji Madura seperti di atas bagi saya sangat sumir. Tana sangkol dahulu sangat kuat. Sifatnya yang sacral, yang menjelaskan bagaimana hubungan emosional orang dengan tanahnya dan para leluhurnya, tidak digambarkan. Saya menduga banyaknya orang Madura yang dulu dijadikan pasukan kerajaan atau Belanda yang bisa dimobilisasi ke mana-mana atau fenomena perantauan berhubungan dengan ketimpangan struktur kepemilikan tanah dan murahnya harga produk pertanian. Tepatnya, permasalahan itu muncul lebih karena bersifat struktural.

Soal karakter desa di Madura yang bercorak scattered village—berbeda dengan Jawa yang bercorak nuclear village—sebagaimana tesisnya Kunto, ternyata baru memiliki kekuatan jika dibaca dalam konteks sekarang. Rumah-rumah yang berserakan di Madura yang tidak mewujud satu gugusan desa seperti di Jawa telah menyumbang sebagai pertahanan terhadap gencarnya "penjarahan" tanah belakangan ini. Seandainya corak desa berbentuk nuclear village, tentu akan lebih banyak dan lebih mudah  lahan-lahan kosong dikuasai investor asing. Jika dulu Kunto menyebut corak desa yang scattered village tidak revolusioner, justru sekarang bisa dijadikan kekuatan revolusioner.

Meski saat ini Madura seperti terjual habis (sold out), gerakan sosial yang mengupayakan "penyelamatan" harus segera dilakukan. Kosmologi, tradisi, pandangan hidup, nilai-nilai Madura tidak cukup hidup di pikiran, tapi juga bumi untuk berjejak. Ketika Madura kembali dijarah dan dijajah, saatnya orang-orang pesantren keluar menggumulkan kepesantrenannya untuk menjaga kedaulatan tanah dan isi yang dikandungnya. Ayo, selamatkan madura, sekarang juga!



[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar

Kertascoretanku.wordpress.com

Di tengah sesaknya garam yang mengasini imagi kemaduran, adakah tempat untuk secangkir kopi di Madura?

Jangan keliru. Meski Madura bukan penghasil kopi, tapi kopi telah menghitami tradisi madura. Selama berabad-abad, kopi telah menyambungkan jiwa dan raga orang Madura. Mewujud  dalam ruang yang sangat sederhana: di langgar, mushalla, atau di meja-meja di beranda dimana sanak saudara dan tamu diterima oleh hitam pekatnya secangkir kopi.

Di acara resmi seperti pernikahan sekali pun minumannya juga kopi. Tentu perisitiwa ini bisa disaksikan di desa, lokus yang setia merawat tradisi Madura. Di kota karena kehidupannya serba instan suguhan minuman sudah diganti minuman kemasan. Bukan sekedar urusan agama,  dalam urusan minuman pun orang kota ternyata tak kalah puritannya.

Jika ada kopi siapapun  tentu malas untuk segera pergi. Secangkir kopi akan membuka ruang-ruang obrolan dan wacana datang silih-berganti. Dan penikmat kopi akan menghadirkan informasi hangat sehangat kopi. Soal-soal berat dan ringan diperbincangkan dalam bahasa pinggiran, bahasa keseharian rakyat.

Jangan kaget, jika misalnya kebijakan pejabat publik  digugat. Orang-orang yang selama ini berada di pinggiran, balik menjadi subyek. Seandainya  pejabat publik hadir, obrolan orang pinggiran akan menampar, menyayat, dan menguliti kebijakannya. Ternyata orang pinggiran pinter menggoreng isu, membolak-balik, bahkan membiarkan gosong. Semua itu, salah satunya karena kopi yang mengikat banyak orang setia bercengkerama dan berbagi gagasan.

Sebagai pulau penghasil tembakau, rokok menjadi teman setia kopi. Tetapi rokok seolah tak memiliki makna apa pun, tanpa kopi. Sebuah pantun begitu populer di Madura, "bhede songkok bhede kalambhi, bhede rokok bhede kobhi" (ada songkok ada kalambhi (baju), ada rokok ada kopi). Sering ketika dalam pertemuan muncul goyunan satir terhadap tuan rumah, "bhede songko' keng tadha' kalambhina" (sayang ada rokok cuma tak ada kopinya), maka buru-buru tuan rumah meracikkannya kopi.

Begitu menyatunya kopi dalam tradisi orang Madura, kopi bahkan merasuk menjadi etika pergaulan terutama dalam menerima tamu. Pembicaraan penting tak akan dimulai sebelum kopi disuguhkan oleh tuan rumah. "Laon gallu ja' molae parembhaganna, ngantos kobhi gallu" (sebentar, jangan mulai pembicaraan kita, nunggu kopi dulu), begitu ucap si tuan rumah. Karena bagi orang Madura sebelum meminum kopi "dunnya ta' terrang " (dunia gelap gulita), jadi dunia pikiran pun tidak terang.

Problem etik kembali muncul jika tuan rumah tak mampu menyuguhkan kopi kepada tamunya. Tuan rumah akan merasa bersalah, karena kopi telah menjadi minuman resmi bagi para tamu. Maka tuan rumah buru-buru akan bilang, "maaf bhedena gun aeng" (maaf yang ada cuma "air"). Meski teh yang disuguhkan, orang Madura tetap akan bilang "air". Hal itu sejenis pemakluman bahwa yang disuguhkan bukan kopi.

Di desa-desa yang disuguhkan bukan kopi instan. Orang Madura menyangrai sendiri biji kopi kemudian menumbuknya sendiri. Biji kopi itu tidak selalu dibeli, kadang merupakan kiriman atau oleh-oleh dari sanak famili yang tinggal di Jember, Banyuwangi, Bondowoso, dan Situbondo. Oleh-oleh itu tidak hanya kopi, tapi lengkap dengan gulanya. Di sini kopi ternyata mampu mendekatkan ikatan kekeluargaan antara orang Madura "negeri" yang tinggal di pulau Madura dan Madura "swasta" yang tinggal di luar Madura. Kopi ternyata mampu merekat daerah tapal kuda, di samping juga rekatan kultural sebagai sesama etnis Madura.

Di sinilah permohonan maaf orang Madura  untuk secangkir kopi menemukan maknanya, melampaui kopi itu sendiri. Dalam kopi ada citra penghormatan, keakraban, dan gelora untuk sekedar saling bercengkerama, mendialogkan kekonyolan hidup, termasuk menertawakan diri sendiri. Di titik ini, kopi terkadang menampilkan dua wajah kita, lebih manis atau juga lebih pahit dari hidup itu sendiri.

Matorsakalangkong
Pulau Garam l 29 Juni 2016
[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 2 komentar



Setelah tertunda-tunda, kemarin siang (8 Februari 2016) bersama dua orang teman saya berkesempatan mengunjungi Desa Lapa Dhaja (diindonesiakan Lapa Daya) Kecamatan Dungkek Sumenep, salah satu desa yang sejak tahun 2015 tanahnya sangat massif beralih kepemilikan kepada investor. Meski di situ saya memiliki teman, tapi saya seperti memasuki daerah asing. Sepertinya warga sudah mulai terpolarisasi dalam kubu pro-kontra. Meski yang terang-terangan kontra bisa dihitung dengan jari karena tak lebih dari 5 orang dari total 20-an pemilik lahan.

Lapa Dhaja berlokasi di pojok timur Pulau Madura atau tepatnya Kabupaten Sumenep. Di sebelah timur dan utara desa ini nampak lautan yang menghubungkan ke wilayah Indonesia Timur. Desa ini tidak terlalu jauh dari Pantai Lombang, salah satu destinasi wisata potensial di Sumenep yang berada di sebelah baratnya. Desa ini juga sangat dekat dengan pelabuhan Dungkek yang berada di sebelah selatannya, kira-kira 5 menit naik motor.

Desa ini diapit oleh dua desa yang memiliki sikap berbeda soal "penjarahan" lahan. Sebelah barat desa ini adalah desa Lapa Taman yang sikapnya tegas, warganya menolak tanahnya dijual. Sementara sebelah selatannya adalah desa Lapa Laok yang nasibnya sama dengan desa Lapa Daje, tanahnya sama-sama banyak yang beralih kepemilikan.

Jumlah hak pilih di desa ini sekitar 650 orang. Barangkali jika dihitung dengan anak-anak jumlah penduduk ini di desa ini tak lebih 1.500. Suatu jumlah warga yang tidak sebanding dengan kekayaan lahan yang dimiliki desa ini.

Menurut data yang kami himpun, dari 17 ha lahan kosong yang terjual sudah sekitar 15 ha atau sepadan dengan 150.000 m2. Berarti hanya tersisa dua hektar lahan kosong yang tidak terjual. Lahan ini terdapat di belakang (sebelah utara) rumah-rumah yang dihuni warga yang langsung berhadapan dengan laut di sebelah utaranya.


Harga lahan yang sudah terjual sungguh sangat murah. Mulai dari 15 ribu, 20 ribu, 22 ribu, dan terakhir naik 25 ribu/meter. Harga segitu apalah artinya buat para investor, meski mungkin bagi penduduk desa dalam hitungan sesaat seperti kaget menerima hasil penjualan tanahnya, karena seumur-umur t(idak pernah memegang uang sebesar yang ia terima.

Dalam proses transaksi jual-beli tanah nampak “kelicikan” investor. Sejak mantan camat, tokoh masyarakat, aparat desa, dan broker yang melibatkan warga desa dikerahkan untuk merayu warga agar melepas tanahnya. Bahkan dalam pertemuan yang difasilitasi oleh perusahaan juga melibatkan aparat kecamatan, polsek dan koramil.

Kami kebetulan bertemu dengan seorang yang gigih mempertahankan tanahnya. Sampai detik ini tanahnya tidak dilepas. Tanahnya menjadi penghalang bagi investor untuk menjadi kawasan terpadu. Menurutnya, dia berkali-kali didatangi orang yang dikenal dan tidak dikenal agar bersedia melepas tanahnya, tapi ia tetap pada pendiriannya. Ia lebih memikirkan anak cucunya ketimbang uang ratusan juta yang dalam sesaat bisa ludes tak tersisa.

Di lahan yang sudah terjual ini akan dibangun Tambak Udang. Perusahaan yang mengelola adalah PT ANUGRAH INTI LAUT yang bergerak di bidang general trading, export-import, dan aquaculture busineas yang berkedudukan di Surabaya. Memang ketika saya melihat langsung lokasi belum ada aktivitas apapun. Hanya di beberapa tempat tampak pohon-pohon yang sudah ditebang. Beberapa minggu lalu sebenarnya alat-alat berat sudah mulai masuk, tetapi menurut warga ditarik kembali. Warga sendiri tidak tahu apa alasan penarikan alat-alat berat itu. Cuma selintingan kabar karena ijin pembangunannya belum keluar.
:

Saat ini sebenarnya warga sudah resah. Di samping dampak sosial-budayanya bagi anak cucu di masa akan datang, dalam jangka pendek pembangunan tambak itu akan menyulitkan akses mereka ke laut, karena lahan tambak akan dipagar beton. Saat ini warga negosiasi dengan perusahaan agar dibuatkan jalan, meski nanti mereka harus memutar ke sisi barat atau timur desa yang jaraknya lumayan jauh, terutama bagi warga yang rumahnya persis di tengah-tengah desa.

Keresahan lainnya, limbah Tambak Udang diyakini oleh warga akan dibuang ke laut. Mereka hawatir limbah itu akan mengurangi hasil tangkapan mereka. Ketika ada warga yang mempertanyakan kepada perusahaan, warga cuma diyakinkan bahwa ada tehnologi yang bisa menetralisir limbah sebelum dibuang ke laut. Cuma warga tetap cemas, pihak perusahaan akan mengelabuhi mereka.

Belum lagi keresahan warga akan datangnya banjir. Menurut warga,  jika hujan dalam curah tinggi, desa itu rentan banjir. Tingginya bisa mencapai ¼ meter. Genangan air juga sulit surut, mungkin karena factor tanah. Mereka tidak bisa membayangkan jika Tambak Udang dengan pagar beton sudah terbangun, maka luapan air karena curah hujan tinggi akan semakin mengancam keamanan dan kenyamanan warga. Warga sudah negosiasi agar perusahaan nanti membuat selokan/drainase untuk mengalirkan luapan air hujan, tapi perusahaan hanya berjanji mau menyediakan alat bangunan sementara lahan tempat drainase itu dibuat harus warga yang menyediakan.

Menjadi rakyat kecil memang susah sekali di era pengangungan demokrasi liberal yang tak ketulungan seperti saat ini. Rakyat kecil “ta eanggep” (tidak dianggap “ada”). Tanahnya diserobot tanpa mereka tahu mau dibuat apa dan dampaknya bagaimana. Bukan sekedar secara ekologis tapi sekaigus bencana sosial-budayanya. Mereka saat ini harus berhadapan dengan bengisnya perselingkuhan kekuatan modal dan kuasa yang menggurita hingga ke ruang-ruang desa, bahkan hingga ruang imaginasi rakyatnya.

Tanah bagi mereka sebagai petani adalah alat produksi. Penjarahan besar-besaran atas alat produksi mereka hanya akan melahirkan masalah-masalah baru yang tak terpikirkan sebelumnya. Termasuk masa!ah ini akan terwariskan kepada anak cucunya.

Beruntunglah. Di tengah suara yang diharapkan sama oleh kekuatan modal dan kuasa, selalu ada segelinitir orang yang bersuara “sumbang” seperti beberapa warga yang saya temui di desa Lapa Dhaja. Semoga Desa Lapa Dhaja tak benar-benar terpojok, dan kepada warga yang “melawan” saya menaruh harapan. Semoga Allah melindungi mereka.

Matorsakalangkong
Pulau Garam | 8 Pebruari | 2016
[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar

Sinarharapan.co

Miris sekali mengetahui tanah-tanah di Sumenep banyak yang lepas dan terjual pada investor, entah asing atau lokal. Di desa sebelah timur desa saya sekitat 15 ha (ada yang bilang 17 bahkan 25 ha) berpindah kepemilikan. Kabarnya mau dibuat tambak udang. Saat ini tengah digarap. Penduduk desa tercengang. Mereka dipertontonkan alat-alat berat, mobil kontainer yang panjang, dan seleweran orang-orang yang tidak dikenal.

Maklum, baru kali kami melihat sawah-sawah  seluas 15 ha diaduk-aduk mesin yang tak punya rasa, pada hal dulu diitumbuhi padi yang menguning. Belakangain ini sawah-sawah itu memang tak lagi produktif, karena tak lagi ada air. Bisa juga karena kebijakan revolusi hijaunya pak Harto dulu yang memaksa petani menanam padi jenis tertentu, sambil menumpahi sawah-sawah petani dengan pupuk kimia yang tak ramah lingkungan. Tanah akhirnya jadi "kajal" (keras dan tidak subur).

Sekarang sawah akan beralih fungsi. Kabar yang saya terima dari aparat desa akan dijadikan lahan tambak udang. Investornya dari China. Wuih...jauh banget. Inilah "berkah" jembatan Suramadu yang dibangun berkat ngutang sama China. Jadi sekarang China gampang nyelonong ke Madura, setelah sebelumnya saya dengar sudah dapat jatah mengelola migas.

Tanah yang lepas bukan hanya di desa sebelah, di desa lain juga sudah lepas. Bahkan di 3 kecamatan terdekat dari kecamatan saya mengalami nasib serupa. Yang paling massif di kecamatan Dungkek dan Batang-Batang, tepatnya di desa Lapa Laok dan Lapa Daje, terutama pesisir pantai. Terus melebar ke desa Ngin-bungin, termasuk dekat makam Syekh Mahfudz -lebih dikenal Asta Gurang-Garing- keturunan Sunan Kudus pun terjual. Jangan tanya di Lombang hingga pantai Badur, sejak dulu tanah-tanah di sini diincar karena termasuk kawasan pariwisata.

Tak cukup pesisir, sekarang investor menyasar ke tanah "tegalan" hingga tanah pebukitan. Sekedar menyebut, Jangara (kecamatan Kota), Tenonan dan Lanjuk (kecamatan Manding), serta tanah-tanah di pebukitan desa Tamidung (kecamatan Batang-Batang) sudah ludes. Bahkan Gapura, kecamatan saya, sebagian tanah tegalan sudah terjual.

Kabar peruntukan tanah itu macam-macam. Ada yang mau dijadikan perkebunan kapas, peternakan, hingga mau dijadikan desa kota sebagaimana 3 desa di sebelah barat desa saya. Kabar ini bukan sekedar isapan jempol karena sudah masuk "road map"nya pemprop Jatim.

Yang paling diburu tanah-tanah di kewedanan Timur Daya meliputi kecamatan Gapura, Dungkek, Batang-Batang, dan Batu Putih. Kenapa? Karena Dungkek ke depan akan dijadikan pelabuhan nasional. Infrastrukturnya sekarang sudah mulai dibangun. Posisi pelabuhan Dungkek strategis karena akan membuka akses ke Indonesia bagian timur. Posisinya juga dekat dengan kawasan pariwisata; Badur, Lombang dan Pulau Giliyang, yang dikenal dengan oksigen. Badur, Lombang dan Pulau Giliyang- Dungkek akan dijadikan kawasan segi tiga emas pengembangan pariwisata bahari. Bahkan ke pulau Gili Labak nanti bisa diakses dari pelabuhan Dungkek. Inilah "gulanya" yang sekarang menarik "semut" dari mana-mana.

Saya meyakini di timur daya juga ada ladang migas. Di beberapa desa (tak perlu saya sebutkan) telah tertancap tanda yang dipasang Pertamina pada tahun 1970. Belum lagi di perairan pulau Giiyang dan Sepudi/Raas besar kemungkinan ada ladang migasnya. Kalau di perairan Sepudi-Raas dalam setahun ini sudah dieksploitasi oleh perusahaan Hasky yang sahamnya, kabarnya,  milik China dan keluarga mantan Presiden.

Di pulau Giliyang, ada lapangan Heli yang baru dibangun awal tahun 2015. Saya menyempatkan diri ke sana melihat langsung lapangan Heli di sela-sela monitoring kegiatan Masa Pengabdian Santri (MPS), pada bulan Juni 2015. Menurut aparat desa, lapangan Heli itu milik petinggi militer di Jakarta. Pertanyaan sederhana saya, bagaimana mungkin di sebuah Pulau kecil ada lapangan Heli, milik petinggi militer lagi,  jika di pulau itu tidak ada "apa-apanya"?

Saya menduga, isu pulau Giliyang memiliki oksigen terbaik noner 2 di dunia sekedar ingin menutupi kekayaan sumberdaya alam di bawah permukaan lautnya. Taruhlah betul oksigen pulau itu bagus sehingga infrastruktur ke pulau itu sudah dibangun karena dicanangkan sebagai pulau "wisata kesehatan", tetapi pariwisata hanya "sasaran antara".

Tetapi saya meyakini, seiring pariwisata makin berkembang, detik itu pula tanah-tanah di Sumenep akan beralih kepemilikan, dari pak "Surahwi" ke "pak" kapitalis sejati. Apalagi dalam rentang 15 tahun terakhir jumlah orang-orang desa yang merantau terus meningkat. Sekedar data mentah, jumlah penduduk desa Gapurana Talango yang merantau ke Jakarta sebanyak 1.500 jiwa. Ini diketahui ketika ada Pilkades, jumlah warga yang tidak menggunakan hak pilihnya sejumlah itu, karena ada di Jakarta. Ini baru satu desa. Bisa dibayangkan berapa jumlah perantau asal Sumenep, apalagi jumlahnya dipastikan terus meningkat.

Apa makna fakta di atas? Berarti makin banyak orang Madura yang meninggalkan sawahnya, ladangnya, dan lautnya. Wah, makin banyak sawah dan ladang tak tergarap. Jadi, para pemodal, investor, atau apapun namanya pasti senang melihat ini. Menarik didiskusikan, banyaknya orang Madura yang diaspora kebetulan, alamiah, atau by design? Wallahu A'lam.

Secara budaya, orang Madura memiliki tradisi "tana sangkolan" (tanah warisan). Tana sangkolan bukan sekedar warisan benda sebagaimana emas misalnya. Bagi orang Madura, tana sangkolan bermakna sakral. Di samping dimaknai sebagai ruang yang mempertautkan yang hidup dengan leluhurnya, tana sangkolan akan mengundang "laknat" jika dijual sembarangan tanpa ada alasan yang dibenarkan dari sudut kebudayaan Madura. Kalau pun tanah itu dijual, biasanya akan dijual pada keluarga terdekatnya. Suatu saat jika mampu, tanah itu akan dibeli lagi oleh pemiliknya.
Tapi itu dulu. Saat ini tanah sudah dilucuti sakralitasnya, sepenuhnya dianggap benda yang bisa dipertukarmilikkan. Perubahan alam pikir orang Madura sejak Suramadu dioperasikan memang luar biasa. Termasuk pandangan terhadap tanah juga berubah.

Soal ini sepertinya tak mungkin menunggu penyelesaian pemerintah daerah. Pemerintah daerah hanya menjadi penadah dari kebijakan pemerintah pusat dan provinsi plus pemodal. Maka, rakyatlah yang harus berjuang sendiri. Ideologi "ajaga tana, ajaga nak poto" (menjaga tanah, menjaga anak cucu) harus digelorakan, jika orang Madura tidak mau menjadi kuli didaerahnya sendiri. Belum lagi konflik yang biasanya megiringi persoalan ini, jika membaca kasus-kasus serupa di daerah lain, benar-benar mengerikan. Saatnya bergerak!

Matorsakaangkong
Pulau Garam l 14 Desember l 2015
       
[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 1 komentar

Pekuburan keturunan bugis di pulau giliyang
Giliyang lambat laun makin dikenal sebagai pulau oksigen. Kunjungan pelancong dari Madura atau luar Madura makin banyak belakangan ini. Pulau ini dikarunia udara segar dengan kadar oksigen terbaik nomer dua se dunia. Tapi tak banyak orang tahu,  pulau ini dahulu ditemukan, didiami,  dan “diislamkan” oleh  suku Bugis-Makassar.

Saat berkunjung ke pulau ini tanggal 27 Mei 2015 saya bertemu dengan Pak Beti, generasi ke-9 keturunan Daeng Mushalli, seorang ulama yang diyakini oleh penduduk pulau Gili sebagai penyebar Islam.  Sesuai “jujuluk” Daeng di depan namanya, pasti Daeng (kadang dipanggil kyai) Mushalli berasal dari Bugis Makasar.

Saya beruntung bisa “tawassulan” ke pusara beliau, Di nisan makam Daeng Mushalli tertulis tahun wafat beliau dalam huruf Arab, 1214 H. Berarti sekitar tahun 1793 Masehi atau 222 tahun yang lalu. Di sebelah barat makam kyai Mushalli, terdapat makam Daeng Betawi. Sayang, di makam Daeng Betawi ini tak tertulis tahun wafatnya. Makam dua daeng ini berada di satu lokasi pemakaman suku bugis Makasar.

Di samping dua tokoh ini, ada lagi tokoh yang begitu dikenal masyarakat Giliyang, yaitu Datuk Asyari. Makamnya berada di dekat pantai, terpisah dari pemakaman Daeng Mushalli. Datuk Asyari masih saudara dekat Daeng Mushalli. Datuk Asyari dikenal sebagai orang alim, sementara Daeng Mushalli lebih dikenal karena kesaktiannya. Dua tokoh unik inilah yang paling dikenal oleh masyarakat Giliyang sebagai penyebar Islam.    

Pertemuan saya dengan pak Beti, generasi ke-9 keturunan Daeng Mushalli, sangat singkat. Saya belum mendalami dua tokoh ini:  asal-muasal kedatangannya ke Madura, menemukan Giliyang, proses Islamisasi di pulau ini, dan peran penting lainnya yang dilakukan Daeng Mushalli dan datuk Asyari. Saya juga belum memiliki kemampuan untuk menempatkan Daeng Mushalli dan Datuk Asyari dalam jaringan Islam Nusantara.

Cuma persahabatan dan relasi dua etnis ini sudah berlangsung sejak lama. Dalam konteks perang melawan penjajah Belanda ada dua tokoh beda etnis yang bersekutu, pangeran Trunojoyo Madura dan Karaeng Galesong Makassar, yang begitu ditakuti oleh Belanda dan sekutunya Amangkurat II. Kapal barang  Belanda yang melintasi selat Madura menuju Makasar atau Kalimantan sering dirampas oleh pasukan dua pahlawan ini. Di mata Belanda tentu dua pahlawan ini dianggap “perompak”. Persis seperti pejuang Palestina yang disebut “teroris” oleh Israel.  

Ada pendapat yang menarik dari Ahmad Baso, penulis buku produktif yang menekuni kajian Islam Nusantara dalam sebuah diskusi di kantor PCNU Sumenep, pertengahan 2014 bahwa, orang Bugis jika ingin belajar etika kekuasaan datang ke Sumenep sementara orang Madura jika mau belajar soal melaut tentu belajar kepada orang Bugis. Makanya dua etnis ini dikenal sebagai pelaut sejati, hingga detik ini.

Melihat posisi Pulau Giliyang yang berada di ujung timur kabupaten Sumenep -persisnya di sebelah timur Kecamatan Dungkek -sangat mungkin disinggahi oleh etnis Bugis yang melintas melalui selat Madura.  Di sebelah timur Giliyang adalah pulau Sepudi yang dalam sejarah perkembangan Islam di Madura disebut daerah pertama dimana proses Islamisasi terjadi. Selat Madura diyakini sangat sibuk dan ramai sebagai perlintasan transportasi laut yang menghubungkan utamanya Jawa dan Nusantara bagian timur.

Melihat tahun wafat Daeng Mushalli 1214 H atau 1793 M besar kemungkinan beliau hidup di zaman kepemimpinan Asiruddin atau Panembahan Sumolo dan dikenal juga Pangeran Notokusumo I (1762-1811), Raja Sumenep yang menggagas pembangunan Masjid Jamik Sumenep dengan gaya arsitektur kosmopolit: Arab, India, China, dan tentu saja Madura. Arsiteknya seorang cucu generasi pertama etnis tionghoa di Sumenep yang lari akibat huru--hara etnis di Semarang pada tahu. 1740 M. Nama Arsitek ini adalah Lauw Piango.

Suatu saat saya berharap bisa melacak dan menulisnya secara lebih serius jejak bugis (termasuk etnis lain) di Madura. Ini penting untuk melampaui kajian Madura  saat ini yang selalu dikerdilkan dan dibekap dalam fokus kemaduraan, bukan ditempatkan dalam jaringan Islam Nusantara. Daeng Mushalli bisa menjadi petunjuk bagaimana persidangan relasi antar etnis terutama Bugis terjadi di Madura. Fakta kecil ini makin menguatkan bukti bahwa tesis "imagined community"-nya Ben Anderson atas terbentuknya konstruk kebangsaan kita makin tak menemukan relevaninya

[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar

 
suasana di pasar 17 Agustus di Pamekasan. Pasar ini satu salah pasar yang lumayan rapi ditata. foto: dokumen pribadi

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bapak Bupati yang terhormat, mohon maaf jika surat ini mengganggu bapak. Kami ngebet sekali menulis surat terbuka ini karena dipicu oleh bawahan bapak, tepatnya Kabid Pendapatan Dinas Pendapatan, Keuangan dan Pengolalaan Aset Daerah (DPPKA), Imam Sukandi.  Pernyataannya tentang pasar tradisional sebagaimana dilansir Koran Madura (16/3/ 2015) bagi kami sangat tidak bijak. Kami mengelus dada. Beginikah mindset birokrat kita?  Jangan-jangan karena mindset seperti ini, impian bapak merevitalisasi pasar-pasar tradisional seperti janji bapak dulu tidak kunjung tiba?

Soal menurunnya jumlah pengunjung pasar tradisional yang beralih ke pasar modern, seperti swalayan, tak bisa dibantah. Kami sepakat soal itu. Bapak Imam malah memberikan data penting, penurunan jumlah pengunjung pasar tradisional akibat menjamurnya pasar modern sekitar 10-15%.

Tapi yang membuat kami mengelus dada, akar masalah menurunnya pengunjung pasar tradisional justru oleh bapak Imam ditimpakan pada pedagang pasar. Menurut pak Imam, “pelayan di pasar modern ramah, sehingga membuat pengunjung pasar merasa lebih nyaman berbelanja”.  Dengan kata lain, pak Imam sebenarnya ingin mengatakan bahwa pedagang pasar tidak/kurang ramah. Inilah yang kemudian ditunjuk oleh pak Imam sebagai salah satu faktor kenapa pengunjung kabur dari pasar tradisional.

Bapak Bupati yang terhormat,  mindset seperti ini sebenarnya tidak mengangetkan bagi kami. Umumnya birokrat itu cenderung menyederhanakan masalah. Kalau ada masalah, biasanya rakyat yang ditunjuk sebagai biangnya. Coba bapak perhatikan pernyataan bapak Imam di atas, simpel sekali bukan?

Biar lebih terang-benderang, mari kita uji pernyataan pak Imam di atas. Dari mana pak Imam bisa mengambil kesimpulan bahwa pelayanan pasar modern lebih ramah? Justru kami menemukan sebaliknya, kepura-puraan di pasar modern nyata sekali. Senyum, sapaan, ucapan terimakasih, dsb. yang diperagakan oleh pelayan pasar modern terasa kering. Sapaan yang kami terima bulan lalu dengan sekarang, misalnya, sama. Itu dilakukan secara berulang-ulang dan nyaris tak berubah kepada siapa saja dan kapan saja. Persis mesin bukan? Beginikah yang  disebut “ramah” oleh pak Imam?

Belum lagi kalau ada sisa kembalian yang kadang “dirampok”, meski secara halus ditukar dengan permen yang sesungguhnya tidak pembeli kehendaki. Soal ini kami pernah bersitegang dengan kasir swalayan, uang kami 700 rupiah tidak dikembalikan. Ketika dikomplain baru bilang tidak ada kembalian sambil si kasir merengut tanda marah pada kami, seolah mau bilang, “uang 700 rupiah saja dikomplain?”. Akhirnya kami tak bisa menahan diam dan bilang sama si kasir, “maaf ya mbak, mungkin 700 rupiah mbak anggap kecil. Tapi yang membuat saya heran, kenapa swalayan yang kaya seperti ini masih mau mencuri uang 700 rupiah?”  Beginikah sikap ramah pelayan pasar modern yang bawahan anda bela bapak Bupati?

Lalu pasar tradisional? Tanpa bermaksud mengatakan sempurna, pasar tradisional adalah salah satu ruang publik yang tersisa, yang ikut merawat manusia dan nilai-nilai kemanusiaannya menyejarah. Keintiman interaksi dan komunikasi, canda dan gelak tawa, dan kelihaian tawar-menawar hanyalah beberapa kelebihan yang tidak ditemui di pasar modern.     

Bapak Bupati yang terhormat, bagi kami menjadi tidak masuk akal jika bawahan bapak menyalahkan para pedagang pasar tradisional. Sudah pasarnya tidak direvitalisasi oleh pemeritah daerah–pada hal retribusi pasar cukup besar bagi pendapatan asli daerah (PAD)—malah disalahkan lagi. Meminjam kearifan lokal Madura, pedagang pasar seperti etapok ekala’ odengnga.

Karena mindset birokrasi masih seperti ini, wajar jika pertumbuhan pasar modern terus meningkat di Sumenep. Bahkan pasar modern merangsek hingga kecamatan, termasuk milik asing. Rupanya pertumbuhan pasar modern salah satunya disebabkan oleh cara pandang yang minor terhadap pasar tradisional. Pada hal, jika mau jujur retribusi yang diperoeh pasar setiap hari pasti lebih pajak ketimbang yang dikenakan pada pasar modern.

Belum kalau mau kita jujur, pasar tradisional itu adalah jantung perekonomian rakyat. Sayang, bawahan bapak tidak memiliki keberpihakan yang jelas. Meski di media bilang bahwa sudah melakukan revitalisasi pasar tradisional –misalnya pavingisasi—tapi nyatanya banyak pasar di Sumenep yang becek dan kumuh. Tak usah di pelosok pedesaan, di Pasar Anom Sumenep saja masih semrawut penataannya.

Seandainya kami menjadi bapak, kami akan memanggil bapak Imam. Kami akan ajak dia diskusi tentang pernyataannya. Kalau perlu, kami akan menegur dia untuk tidak menyepelekan pasar tradisional.

Terakhir, sekali lagi kami mohon maaf kepada bapak Bupati. Tak ada maksud kami merecoki kegiatan bapak yang sudah demikian padat. Kami hanya menginginkan satu hal, nasib pasar tradisional sejatinya diperhatikan secara sungguh-sungguh.

Terimakasih atas perhatiannya, semoga surat terbuka ada manfaatnya.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Sumenep, 23 Maret 2015
Matorsakalangkong
  
  
[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 3 komentar

beritajatim.com

Pertengahan bulan Desember 2014, Pemda Sumenep menutup paksa 5 tempat hiburan malam atau biasa disebut dugem. Alasannya, 5 tempat dugem itu menyalahi izin, dari tempat makan berubah menjadi tempat hiburan malam. Dalam tulisan ini saya tidak akan menyoroti masalah ini dari sudut hukum, tapi  dari sudut pandang kebudayaan Madura.

Sebagai warga tentu saya senang sekali dengan ditutupnya tempat hiburan malam.  Penutupan itu impian banyak orang, setidaknya orang yang saya temui. Bagi saya, hiburan malam yang merupakan produk kebudayaan modern dan lokus bertemunya hedonisne dan kebebasan “tanpa ampun”, jelas tidak menemukan pijakannya dalam kebudayaan Madura. Saat saya diwawancarai media lokal sebelum penutupan itu, dengan tegas saya mengatakan, “tempat hiburan malam tidak sesuai dengan kebudayaan Madura”.

Bagi urbanis–utamanya kaum muda—yang westernized tempat hiburan malam atau dugem dianggap tempat yang “gaul”. Gaul bisa bermakna “tidak jadul” alias tidak kuno, kolot, atau kampungan. Gaul mungkin juga bermakna bahwa dugem adalah tempat anak muda bersosialisasi atau lebih tepatnya berkumpul. 

Meski dalam kebudayaan Madura dikenal istilah “apolkompol”, tetapi maknanya tentu jauh berbeda dengan dugem. “Apolkompol” dalam tradisi Madura memiliki filosofi yang luar biasa dengan kedalaman makna yang hebat.

“Apolkompol” selalu diibaratkan dengan beras yang dalam masyarakat tradisional dulu bermula dari gabah yang ditumbuk. Beras menjadi putih ketika ditumbuk, bukan karena putih sendiri tetapi karena “bergesekan” dengan yang lainnya. Inilah hakekat “apolkompol”. Jadi dalam kebudayaan Madura, bergaul, berkumpul, atau bersosialisasi dengan orang lain dimaksudkan untuk saling “memutihkan diri”; menjadi manusia yang baik dan beradab.

Sebagai wujud dari “apolkompol” ini lahirlah “kompolan” yang biasanya menunjuk pada “komunitas” yang memiliki kegiatan yang relatif permanen dan umumnya bersifat keagamaan. Maka muncul nama-nama kompolan seperti kompolan sarwa (tahlilan), diba’ (barzanji), yasinan, darusan, dsb. Kompolan ini menjadi oase bagi masyarakat Madura dalam membangun hubungan dengan Sang Pencipta di satu sisi, dan sesama di sisi lain.

Secara sosiologis, kompolan memiliki fungsi kohesivitas sosial yang secara terus menerus mengupayakan kebersamaan, imagi, angan-angan, dan mimpi membangun kehidupan yang santun dan beradab dengan saling mengasihi antar sesama dalam ridla Allah.

Jelaslah, apolkompol bukan sosialisasi yang “material-hedonistik” dengan tawaran ketentraman semu dalam dentingan bir dan godaan erotik suara perempuan penggoda. Apolkompol dalam kebudayaan Madura menjangkarkan hakikat kemanusiaan dalam relasinya dengan Pencipta dan sesama sekaligus.

Itulah kenapa falsafah Madura dengan indah melukiskan perlunya sikap kehatian-hatian dalam bergaul, “mon ba’na akanca maleng, noro’ maleng (kalau kamu berteman dengan maling, maka bisa jadi maling). Ada lagi,  “mon ba’na akanca reng ajual mennyak, ba’na melo roomma, tape mon akanca reng ajual acan, ba’na melo bauna” (jika kamu berteman dengan penjual minyak wangi, kamu kebagian harumnya. Sebaliknya jika berteman dengan penjual terasi, kamu kebagian baunya).

Apakah orang Madura menolak dunia hiburan? Tentu tidak. Dalam tradisi orang Madura, ada “tetenggun” (tontonan). “Tetenggun” biasanya dilangsungkan di lapangan dan acaranya bersifat umum dan massal. “Tetenggun” bisa dalam bentuk lodruk, samrah, gambus, film keliling, atau tontonan drama seperti Albadar Mahajaya yang pernah ngetop di Sumenep pada era 80-an.

Soal “tetenggun” tentu ada yang kontroversial. Misalnya, lodruk adalah jenis “tetenggun” yang  kurang diapresiasi di komunitas santri. Saya tidak ingin berdebat tentang itu. Yang ingin saya catat di sini, pertama,  “tetenggun” itu berlangsung di ruang publik dan karena itu bersifat terbuka. Sifatnya yang terbuka memungkinkan antar-penonton melakukan kontrol untuk tidak mengotori “tetenggun” itu dengan tindakan-tindakan yang justru mengurangi maknanya. Apalagi penonton “tetenggun” ini datang bersama keluarga dan tetangga dan di tempat “tetenggun” itu membentuk kerumunan atas dasar kekeluargaan dan ketetanggan.  Kedua, konten “tetenggun” itu biasanya sangat edukatif karena berdasar atas cerita-cerita kenabian atau Raja-raja yang menjalankan  kekuasannya dengan bijak dan adil. 

Lalu, dugem? Bagi saya, ia adalah barang impor, yang dibawa ke Madura dengan tujuan murni kapitalisasi hiburan serta mewadahi segelintir  orang yang lupa akar. Ia menawarkan kebebasan “tanpa ampun” (dibalut HAM sekalipun), hedon, dan menampilkan simbol-simbol kega(lau/ul)-an yang tidak akan ditemukan akarnya dalam tradisi dan kebudayaan Madura. Dengan tegas saya ingin mengatakan bahwa, dugem tak akan banyak menyumbang bagi peradaban kemaduraan. Atas dasar inilah saya mengapresiasi kerja pemda Sumenep yang menutup tempat dugem itu [tulisan ini dimuat di Koran Madura, 29|12|2014]







   
[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 2 komentar

adatipraktis.blogspot.com

Kancing. Apa istimewanya dengan benda ini? Entar dulu. Boleh Anda tak mengindahkan benda ini. Karena posisinya sebagai pelengkap dalam peradaban pakaian seringkali perannya tak terlihat. Jarang dipikirkan. Apalagi didiskusikan.

Meski saat ini bentuk kancing makin kreatif, toh kancing tetaplah kancing. Ia sekedar menjadi pemanis, misalnya dalam baju. Dalam peradaban mode, sesuai bentuknya yang kecil –meski ada juga yang besar—ia pun lebur dalam gemerlap pakaian. Ternyata, dalam hidup ini, memang nalar kita cenderung meminggirkan yang kecil.

Tapi coba sekali-kali lihat fungsinya. Kancing ibarat pintu rumah, berfungsi sebagai penutup dan pembuka pakaian. Bayangkan, kalau peradaban kita tak menemukan kancing. Kita akan mati kegerahan. Atau kita akan sulit memakai atau melepas baju.

Apalagi jika kancing diletakkan dalam dimensi etis atau budaya, persoalannya menjadi tidak sederhana. Dalam budaya Madura, kancing sudah masuk ke wilayah etika. Seseorang –umumnya anak muda—yang membiarkan kancing di bawah kerah terbuka, dan membiarkan dada bidangnya [apalagi kerempeng] terlihat, dianggap tak memenuhi kaidah kesopanan. Dengan segera orang tua atau guru akan bilang, “pobu kancengnga nak” [kancingkan bajumu nak].

Kenapa harus dikancingkan? Membiarkan kancing di bawah kerah terbuka dalam pandangan budaya Madura dianggap sebagai simbol kesombongan. Nah lu!. Dada ternyata problematik bukan? Tetapi kalau kita membaca budaya timur, orang sombong seringkali dilukiskan sebagai orang yang selalu menepuk dada.  Alasan ini mungkin yang menjadikan budaya Madura menganggap penting kancing agar sempurna menutup dada. 

Saya jadi ingat kisah masa lalu. Ketika saya sekolah di MTs, saya pernah keranjingan membuka kancing di bawah kerah agar dada saya kelihatan. Pada hal apa indahnya, wong saya kurus kerempeng. Maklum ketika itu trend-nya buka kancing di bawah kerah, nah saya jadi korbannya.

Melihat saya tidak memasang kancing, guru saya dengan bijak menyentil saya. “Lihat tuh Dardiri, tahu kenapa dia tidak memasang kancing? Dia berharap, ilmu yang saya ajarkan masuk melalui dadanya,” kata guru saya. Sontak teman sekelas tertawa riuh. Saya juga mesem, meski dengan rasa malu yang sangat. Sejak itu saya kapok membiarkan kancing di bawah kerah terbuka.   

Itulah kancing. Maknanya dalam budaya tertentu bukan sekedar pengait pakaian. Maknanya sudah masuk ke wilayah etika. Sebagai sebuah benda, kancing tentu belum bermakna apa-apa. Tetapi ketika Anda mendengar kalimat seorang suami kepada istrinya, “ayo, buka kancingmu”, maka kancing melampaui maknanya sebagai sebuah benda.

Pesan saya kepada anak muda, “dik, kancingkan bajumu!”.
[ Read More ]