Posted by rampak naong - -




Pagi itu, kekhawatiran datang menyeruak. Pikiran was-was, “apa iya banyak yang datang?” Itulah pertanyaan yang selalu berkecamuk menjelang Rajabiyah dan Harlah NU yang ke-90 yang diadakan PCNU Sumenep di Graha Zanzibar (7/7/13). Graha ini berkapasitas 8 ribu kursi. Jika lesehan bisa lebih 10 ribuan.

Malamnya sehabis mempersiapkan banner besar yang menjadi background di panggung utama –tempat para kiai duduk—saya ngobrol bersama teman-teman panitia. Semuanya merasa khawatir. Khawatir kalau-kalau warga NU yang datang hanya segelintir orang. Seorang teman bahkan bilang, “harlah ini semacam test case, apa NU masih kuat atau tidak di Sumenep. Jika yang datang sedikit, pertanda alarm bagi NU.

Selesai mempersiapkan tempat hingga jam 21.00, saya dan beberapa orang panitia makan di sebuah warung sederhana. Sebagian masih di Graha Zansibar mempersiapkan tenda-tenda di luar Graha, karena khawatir yang datang membeludak. Ya, kami memiliki dua kekhawatiran. Khawatir kalau yang datang sedikit dan khawatir yang datang justru menyemut. Tetapi kekhawatiran yang kuat justru yang pertama.

Setelah perut kenyang kami menuju kantor NU. Di sana saya tidur sambil menunggu pagi, hari dimana Harlah akan dimulai. Niatnya pukul 22.00 saya sudah bisa tidur. Tapi dasar doyan ngobrol, baru jam 00.30 saya baru bisa merebahkan diri. Karena kecapek-an, subuh pun hampir terlipat.

Pukul 07.30 WIB setelah sarapan pagi dan minum kopi, saya sendirian bergerak ke Graha Zansibar. Perasaan khawatir kembali berkecamuk. Di sana saya bertemu dengan beberapa panitia yang sudah hadir duluan. Sebagian warga nahdliyin juga sudah ada yang hadir. Saya tak bisa menghitung, meski jumlahnya saya taksir hanya ratusan orang. Kekhawatiran kembali menyergap. Bagaimana Graha Zansibar yang kapasitasnya 10 ribuan orang hanya dihadiri 500 orang? “Ah…ini kan masih pagi?,” gumam saya dalam hati menenangkan diri.

Waktu terus beranjak. Matahari makin bergerak naik dengan pemandangan langit yang cerah, pertanda hujan tidak akan turun, sesuatu yang menjadi kekhawatiran lainnya. Ketika jam menunjuk pukul 08.30 barisan warga NU sudah mulai terasa. Warga NU yang mayoritas orang-orang desa itu sudah mulai menyemut memasuki Graha Zanzibar. Mereka datang dengan mobil pribadi, motor, dan yang banyak naik mobil pick up dengan bak terbuka. Di dalam ruangan, Shalawat Banjaran secara live menyambut warga NU.

Semakin siang, warga NU semakin mengalir. Kami yang berada dalam ruangan sudah mulai optimis. Kekhawatiran pelan-pelan sirna. Ruangan yang berkapasitas puluhan ribu penuh sesak oleh lautan manusia. Tak ada kursi. Semua duduk lesehan.  Di sisi kiri diduduki oleh perempuan, dan di sisi kanan ditempati oleh laki-laki. Ditengah dibatasi oleh karpet berwarna biru sebagai batas tempat duduk laki-laki dan perempuan. Karpet itu juga dihampar untuk lalu lintas para kiai ke panggung utama. 

Dan..saya melihat panitia bergairah. Wajah lesu karena berhari-hari sebelumnya mempersiapkan Harlah tak nampak. Mereka tersenyum.
Warga NU yang menyemut –bahkan di dalam ruangan tidak muat—meluber hingga ke luar Graha. Di luar ruangan, panitia memang menyediakan tenda-tenda –bahasa Madura terop—yang disediakan kalau-kalau di dalam ruangan tidak menampung warga NU yang hadir. Panitia berbeda soal banyaknya warga NU yang hadir mulai sejak 10 ribu hingga 12 ribu. Bahkan pihak Zanzibar menaksir yang hadir mencapai 15 ribu

Saya juga terpukau dengan banyaknya warga NU yang hadir. Sejak masa reformasi belum pernah saya menyaksikan lautan manusia sebanyak ini.  Bagi saya tumpukan manusia yang datang dari segala penjuru Sumenep benar-benar menakjubkan. Tanpa menampik kerja keras yang dilakukan panitia, saya meyakini ada campur tangan Gusti Allah sehingga warga NU tergerak hadir dalam Harlah NU yang tidak menyediakan uang saku dan konsumsi ini.

Dalam Harlah ini, suasanya sejuk. Setelah istighasah, dilanjutkan dengan taushiyah dari para kiai. Intinya,  Para kiai hanya berpesan, “mari jaga ASWAJA dan NKRI.” Harlah berlangsung sejak pukul 09.00 WIB hingga pukul 12.30. Setelah itu, warga NU kembali lagi ke rumahnya membangun imagi tentang ke-NU-an dan Ke-Indonesia-an.

Lautan warga NU yang hadir dalam Harlah ini menjadi penanda bahwa Madura dan NU tak bisa dipisahkan. NU ibarat garam yang mengasini seluruh ceruk kebudayaan orang Madura. Fakta ini juga bukti bahwa NU Madura masih kuat dan besar meski kelompok-kelompok wahabi sudah mulai berteriak di sini. 

Tentu besarnya warga Nahdliyin tak perlu menjadikan kita terlena. Mereka butuh sapaan dan kerja riil dari (pengurus) NU. Tetapi jika kekuatan yang besar bisa terkonsolidasikan dengan baik, wajah NU di Madura akan kian manis. Tidak sekedar dalam hitungan jumlah, tetapi dalam amal nyata. Semoga.





Matorsakalangkong
Pulau Garam | 11 Juli 2013


Foto: Abdurrahman

4 Responses so far.

IMAM SUHAIRI mengatakan...

wong hanya 1500 kok....., tp yang sy khawatir kenapa kok tidak ditaruk di luar gedung kan (zanzibar memang besar dan megah tp terkesan tertutup) padahal NU itu suka terbuka---salah satu panitia bilang awalnya mau ditaruk di stadion tapi takut hujan,,,lho kelucuan lagi ini" NU kok Takut Hujan!!!

rampak naong mengatakan...

maaf lama balas komennya mas imam.
permintatan di ruang tertutup itu dari penceramahnya, karena ia biasa berceramah pake LCD. ditaruh di zanzibar karena bisa menampung banyak. gitoooo...

salam

Abiedi Salam MG mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Abiedi Salam MG mengatakan...

" NU Madura itu sangat berbeda dengan NU Jawa, apalagi Syi'ah Madura". (ungkapan Zuhairi Misrawi saat seminar di Jogja).
saya Tak memungkiri, hasil tenun antara islam dan lokalitas memang tak seindah NU Madura, tetapi sepertinya ada yang tersembunyi dari NU Madura, yang kemudian dianggap biasa dan dibiarkan bagitu saja.. sebut saja Kuatnya Fanatisme Ke-NU-an Madura seringkali berujung pada sikap-sikap ekstrim dan eksklusif (Meski tidak dalam bentuk tindakan), Namun dengan seringnya terlontar bisik-bisik "jika mati jangan dikubur dan disalatkan,sesat, Kaper (kafir) dan lain sebagainya" terhadap kelompok yang berbeda dari dirinya, semisal, MU, HTI (yang saat ini mulai marak di Batang-batang) serta menguatnya anggapan bahwa hanya dirinyalah yang benar dan final bahkan lebih jauh kadang terlontar stigma mereka tidak akan masuk surga (Kasus ini terjadi saat saya duduk diselasar masjid kemudian ada salah seorang Jama'ah yang membisikkan ungkapan diatas kepda bebarapa temanya saat salah satu warga (HTI) sedang melintas dijalan sebelah masjid) padahal (mohon maaf) salat jama'ahnya tak setepat dan serutin orang yang sedang dibicarakan. selain itu saya sering mendengar ungkapan yang sama ketika penetapan satu syawal, ketika MU mentapkan lebih dulu saya sering mendengar "biasa Orang Kafir". Artinya hal ini menjadi bukti bahwa NU Madura kehilangan salah satu komponen Ke-NU-annya. parahnya hal ini tidak terjadi dikalangan masyarakat awam (yang bisa dimaklumi karena keawamannya), tetapi justru dikalangan(sebagian) tokoh Agama dan (beberapa) orang santri dari Pondok-pondok salaf di Madura (Maaf). Entah jika dengan beberapa alasan hal ini bisa dibenarkan, tetapi bagi saya ini harus mendapat perhatian lebih dan menjadi PR bersama untuk diselesaikan terlebih oleh para intelektual NU sebelum NU Madura Menjadi "Khawarij"-Madura. terlebih kondisi semacam ini justru sering dimanfaatkan oleh beberapa kelompok dengan sprit Purifikasinya yang cukup populis, dengan dalih kembali ke al-Qur'an biasanya mereka ikut terbawa (sebagimana Kasus di Jenangger).
Mohon Maaf, Mator Kaso'on.