Posted by rampak naong - -





Setiap kali kaki beranjak ke pulau ini, saya selalu disuguhi perubahan yang begitu cepat. Saya tak harus menunggu 1 tahun untuk menyaksikannya, cukup 1 hari saja di pulau ini  selalu ada yang baru.

Pulau ini memang bukan pulau biasa yang selalu digambarkan sebagai terisolir. Tidak. Di samping karena jaraknya yang sangat dekat dengan daratan, hanya 5 menit nyeberang, sejak 15 tahun terakhir pulau ini telah menjadikan Jakarta sebagai halaman depannya.

Secara ekonomi, warga pulau di sini telah menyaingi daerah-daerah lain di kabupaten saya. Indikatornya begitu mudah dilihat. Rumah-rumah mentereng dengan beragam arsitektur terkini berdiri tegak di pinggir jalan maupun di pedalaman menggantikan rumah-rumah sederhana. Mobil-mobil dengan beragam merk berseleweran di pulau yang untuk berkeliling saja hanya butuh 1,5 jam. Beberapa terdapat mobil mewah (untuk ukuran di kampung) seperti fortuner dan pajero sport. Bahkan sekelas Avanza diledek sebagai mobil tehnisi PLN. Motor anak muda seperti ninja dengan mudah juga bisa ditemui di pulau ini.

Tetapi ibarat hubungan tidak sebanding, Jakarta telah menjadi kiblat yang selalu menjadi rujukan warga pulau di sini,  terutama soal gaya hidup. Jakarta adalah kota satelit yang dicoba dikloning di pinggiran. Intensitas interaksi penduduk di sini dengan penduduk jakarta telah menyulap pulau ini sebagai "jakarta" pinggiran. Sejak cara berpakaian, arsitektur rumah, mobil, cara pandang, makan, termasuk juga kemacetan (di pelabuhan) adalah penanda kejakartaan yang dengan mudah ditemui di sini. Persaingan hidup terutama antara perantau barangkali juga hasil kloning persaingan hidup di Jakarta.

Bagaimana intensitas yang demikian intim  itu bisa dibuktikan? Inilah datanya. Sebuah desa saja di sini sudah "melepas" 2.000-an penduduknya ke Jakarta. Ini belum dari desa lain, karena pulau ini memiliki 8 desa. Bisa dibayangkan bagaimana limbah Jakarta begitu besarnya mengalir ke pulau ini, karena setiap hari orang yang pergi dan pulang dari Jakarta bisa ditemui dengan mudahnya. Bukankah mereka ke Jakarta tidak sekedar pulang bawa uang, tetapi lengkap dengan pandangan hidup orang Jakarta dengan segenap hedonismenya?

Rata-rata mereka bekerja di sektor informal, sebagai pemilik warung klontongan. Ada juga yang menjaga warung yang milik orang lain. Mereka cerdas. Dalam hitungan bulan, bisa 2,3,4,6  bulan hingga setahun mereka pulang untuk kemudian diganti sama saudara, tetangga, atau orang lain. Begitu seterusnya sehingga mereka bisa hilir-mudik secara bergantian, pulang dari dan pergi ke jakarta. Kalau jenuh di Jakarta, hitungan bulan mereka bisa bersantai di kampung.

Di Jakarta mereka bekerja keras. Warung-warung milik orang Madura banyak yang buka 24 jam. Karena yang jaga warung minimal 2 orang, kebanyakan suami istri, mereka bekerja paruh waktu secara bergantian, siang istri, malam suami. Guyonan orang Madura, gimana gak banyak hasilnya jika di kampung mereka kerja, 1 hari di Jakarta jadi --untuk menyebut 24 jam-- 2 hari?

Jika secara ekonomi ditandai oleh perkembangan yang cukup signifikan, secara sosial-budaya justru sebaliknya. Relasi sosial dibangun makin transaksional. Salah satu yang bisa menjadi contoh, bagaimana tradisi seperti "ghebay" (gawe) makin profan dan materialistik. Pengaruh perantauan Jakarta luar biasa sejak makin meriahnya gawe, besarnya perolehan amplop, beras, gula, dsb (di Madura disebut tompangan) yang di pulau ini perolehannya bisa sampai 700 juta hingga 1 miliyar. Hutang yang mungkin tidak terbayar hingga empat generasi.

Hal lain, di pulau ini anak-,anak  besar tanpa kasih sayang yang cukup dari orang tua. Karena merantau, anak-anak seusia TK dan SD harus tinggal dengan kakek-neneknya. Secara materi mereka terpenuhi, misalnya motor dan andorid keren, tapi barang itu tak bisa mengganti kasih sayang orang tua.

Satu lagi, perubahan masyarakat pulau ini terhadap pendidikan. Pendidikan tidak lagi dianggap penting. Sejak lulus SMP/MTs atau SMA/MA mereka sudah memilih merantau karena secara materi lebih menjanjikan. Beda dengan sekolah, mereka beranggapan di samping sekolah menghabiskan banyak biaya, setelah lulus paling juga menganggur.

Saya masih berharap, kondisi seperti saat ini lebih sebagai masa transisi, suatu proses yang biasanya dilalui oleh masyarakat yang sedang mengalami perubahan. Suatu saat, dimungkinkan di pulau ini, Pulau Poteran, mengalami perkembangan sognifikan dalam ekonomi, tapi secara sosial-budaya juga kuat.

Tentu ini butuh kepeloporan, baik yang tinggal di pulau maupun perantauan. Semangat filantropi perlu dibangun bagi perantauan untuk membangun warga pulau yang masih belum beruntung, termasuk mengembangkan lahan dan kekayaan bahari yang saat ini banyak yang terbengkai. Akar pulau ini di samping tani juga nelayan. Semoga.

Matorsakalangkong

Pulau Garam l 1 September 2017