Posted by rampak naong - -

Beberapa hari lalu saya baru mendengar cerita dari teman baru saya. Tiga cerita sekaligus. Semuanya pengalaman spiritual. Pengakuannya, jarang cerita ini diungkap sama orang lain. Ia beralasan takut riya’. Beruntung saya termasuk orang yang dipercaya. Suatu pengalaman spritual yang sangat berharga bagi saya yang—semoga—bisa mendorong saya selalu berbagi dengan sesama, berbakti kepada orang tua, dan tetap dalam ridha-Nya.
Cerita pertama teman saya ini sudah sangat lama. Suatu hari teman baru saya diminta menjual gelang emas milik istrinya untuk beaya aqiqah anaknya. Ia bungkus gelang itu dengan kertas dan ia masukkan ke dalam kantong celananya. Sebelum pergi ke toko emas, ia menunaikan tugas biasanya sebagai guru di salah satu sekolah negeri di sumenep. Selesai mengajar, ia bermaksud ke toko emas. Alangkah kagetnya, emas di kantong celananya hilang. Pada hal, menurutnya, mustahil emas itu jatuh.
Dengan perasaan takut, ia pulang ke rumah. Ia ceritakan hilangnya gelang berharga itu kepada istrinya. Sang istri ternyata tidak marah. Hilangnya gelang itu dianggap sebagai takdir, dan menyerahkan semuanya kepada Sang Pemilik.
Keesokan harinya, kembali teman baru saya menunaikan tugas mengajarnya. Ketika sedang asyik mengajar, di depan pintu kelasnya berdiri seorang pengemis. Ia keluar kemudian memberinya uang sekedarnya. Ia bertanya dalam hati, bagaimana pengemis bisa masuk ke dalam sekolah yang dipagar dan di depan dijaga satpam?
Penasaran kemudian ia membuntuti pengemis itu. Si pengemis pun sadar kalau ia dibuntuti. Ketika si pengemis berhenti melangkah dan menoleh ke belakang, teman saya juga berhenti dan pura-pura tidak melihat si pengemis. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Sampai tiba di suatu tempat si pengemis mengaiskan tongkatnya ke jalan yang berlubang. Alangkah kagetnya teman saya, karena di ujung tongkat si pengemis terdapat gelang emas sama persis dengan gelang yang hilang satu hari yang lalu.
Teman saya kemudian mendekat, “pak, jika gelang itu bukan milik bapak, sungguh gelang itu sama persis dengan gelang istri saya yang hilang kemarin”, kata teman saya. Tak disangka pengemis itu memberikan gelang itu kepada teman saya.
Buru-buru teman saya mengambil dompet, “pak...di dompet saya ada uang 20 ribu, 50 ribu, dan 100 ribu. Silahkan pilih mana yang bapak suka. Atau ambil semua juga tidak apa-apa, sebagai balas jasa saya sama bapak”.
Bapak melihat dompet teman saya kemudian bilang dengan singkat, “saya ambil yang 20 ribu saja”.
“bener, pak?”, kata teman saya seakan tidak percaya.
“ya, 20 ribu saja cukup”, katanya sambil pergi.
Penasaran sama pengemis yang gaya dan tampangnya bukan pengemis, teman saya cepat menyuruh satpam untuk membuntutinya. Di tikungan jalan si satpam kehilangan jejak dan tidak tahu kemana angin membawa pergi si pengemis itu.
Saya tidak mau berdebat tentang siapa pengemis yang “bukan” pengemis itu. Tetapi saya tahu, teman saya ini ternyata selalu berbagi dengan sesama, terutama orang yang sangat membutuhkan bantuan. Ia percaya, rizki yang disisihkan dengan ikhlas untuk sesama yang membutuhkan, pasti diganti oleh Sang Pemilik rizki.

2 Responses so far.

Penerbit Singgasana mengatakan...

gemetar aku membaca cerita ini. Subhanallah. Jangan2 malaikat, tapi yang pasti, siapa yang bersedekah pasti akan dibalas 10 kali lipat sesuai janji Allah dalam Al Qur'an, dan saya punya pengalaman sendiri tentang itu!

rampak naong mengatakan...

terimakasih mas. saya meyakini apa yang jenengan katakan mas. semoga saya termausk orang yang suka berbagi dengan ikhlas.

salam. terimakasih kunjungannya