Posted by rampak naong - -

blogor.com
Salah satu ormas yang tuntas menjadi Indonesia adalah NU. Bagi NU, Indonesia sebagai rumah bersama  dalam bingkai NKRI sudah final. Tak ada niat ingin mendirikan negara Islam (di) Indonesia. Pada tahun 1984, dalam muktamarnya di Situbondo, NU menegaskan posisinya justru ketika ormas lain sempoyongan mau menerima atau tidak. Menariknya NU menjawab dengan tradisinya; khazanah pemikiran fiqih. Salah satu argumen diambil dari kaidah ushul fiqh : Ma laa yudraku kulluhu laa yutraku kulluhu (apa yang tidak dicapai semua, jangan ditinggalkan semua).

Bertolak belakang dengan NU, banyak kelompok-kelompok keagamaan saat ini yang belum tuntas menjadi Indonesia. Bagi mereka, Indonesia belum selesai. Indonesia belum final dan masih dalam proses. Pada akhirnya pancasila sebagai cammon flatform bangsa ini harus diganti. Mereka menawarkan negara agama. Ini sesuai dengan diktum yang diperjuangkannya bahwa Islam adalah al-din wa al- daulah. Islam bagi mereka adalah agama dan kekuasaan sekaligus.

Gerakan mereka sangat massif. Di samping memanfaatkan media, juga gerakannya berlangsung secara rapi membentuk jaringan yang kuat dan diam-diam. Merasuk ke segala kelompok melintasi batas-batas usia, profesi, dan gender. Bahkan menyusup ke kelompok yang jelas-jelas memiliki ideologi berbeda. Menyusup langsung ke dalam basis-basis kultural ormas semisal NU dan Muhammadiyah. Juga bergiat dalam jagat politik praktis dengan menyembunyikan agenda jangka panjangnya.

Metodologi yang digunakan oleh kelompok ini sangat sering tidak bersahabat. Bahasa kasarnya, seringkali mereka menggunakan cara-cara kekerasan. Baik kekerasan fisik  –seperti yang terjadi di Cikeusik dan Temanggung, maupun kekerasan ideologis, misalnya menyerang orang seagama yang tidak sepaham sebagai pemuja bid’ah, sesat, atau bahkan kafir.

Sungguh patut disesali, upaya bangsa kita yang tengah berupaya keluar dari krisis direcoki oleh kelompok kegamaan yang justru menghunjam jantung bangsa kita, PANCASILA. Pada hal fakta berbicara bahwa mayoritas rakyat menganggap Indonesia dengan pancasilanya sudah final. Dua ormas keagamaan terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah, juga setia mengawal bangsa ini.

Kegeraman rakyat juga diarahkan pada negara yang abai menuntaskan masalah kekerasan atas nama agama. Bahkan saat ini tengah menyebar berita yang dirilis Komnas HAM bahwa kasus kekerasan beberapa hari lalu direkayasa (baca  di sini ). Jika ini benar, tentu Indonesia –yang di mata mayoritas rakyat Indonesia sudah final— memperoleh tantangan yang sangat luar biasa.  Dugaan bahwa ada konspirasi di belakang kekerasan atas nama agama akan semakin menguat. Tak ada alasan lain, untuk membuktikan citra yang tertanam kuat di benak rakyat salah, saatnya negara bertindak terhadap kelompok yang merecoki NKRI.