Posted by rampak naong - -

http://pendhowo.com
Tuhan menebarkan pengetahuan di mana saja dan dari siapa saja. Alam beserta seluruh isinya, menjadi sumber pembelajaran yang tidak akan ada habis-habisnya. Melimpah. Tinggal kita mau mengambil pelajaran atau tidak.
 
Termasuk si kecil yang ada dalam keluarga kita pun penuh keajaiban. Ia yang kelihatan lemah bisa menguatkan jati diri kita. Tidak saja secara fisik, misalnya,  mulai sejak menggendong, menyusui (bagi ibu), menyuapi, memandikan dst. tetapi juga menguatkan dan mencerdaskan emosi kita. Bagi saya, jika kita ingin mencerdaskan emosi, belajarlah sama si kecil.

Ada baiknya sebelum menjelaskan kecerdasan emosinal apa saja yang bisa kita timba dari si kecil, saya jelaskan pengertian kecerdasan emosional.  Dalam ensiklopedi wikipedia didefinisikan sebagai “kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya. Dalam hal ini, emosi mengacu pada perasaan terhadap informasi akan suatu hubungan. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional dua kali lebih penting daripada kecerdasan intelektual dalam memberikan konstribusi terhadap kesuksesan seseorang”.

Nah, kecerdasan emosional apa saja yang bisa kita pelajari dari si kecil?
  1. Si kecil akan menguatkan ketabahan kita. Ketabahan adalah kunci untuk mengendalikan diri dari sifat-sifat destruktif yang menjadikan emosi tidak seimbang. Dorongan emosi yang tidak seimbang, misalnya marah, akan menjadikan kita selalu bermasalah ketika membangun relasi dengan orang lain. Nah, si kecil bisa menjadi guru yang baik bagaimana ketabahan itu dijangkarkan dalam diri kita. Contoh sederhana, jika kita pulang kerja mendengar celoteh si kecil pasti badan yang tadinya pegal langsung segar. Anda langsung menggendongnya atau mengajaknya bermain. Tetapi berapa menit Anda bertahan? Pengalaman saya, 30 menit saja menggendong si kecil atau menemaninya main, sudah dirasuki perasaan bosan. Kebosanan seperti menyergap hingga ubun-ubun sehingga kita buru-buru mau mengembalikan si kecil pada ibu atau pembantu. Jika Anda merasakan kebosanan ketika bersama si kecil, sebaiknya paksakan untuk tetap bersamanya. Sambil mengingat dalam hati bahwa kita mau belajar ketabahan dari si kecil. Di sinilah saya merasa, kecerdasan emosi sudah mulai bekerja. Perpanjangan waktu 15-30 menit setidaknya membuktikan bahwa kita menang melawan kebosanan, kejengkelan, bahkan kemarahan.
  2. Si kecil akan menguatkan rasa empati kita. Empati adalah kemampuan dalam menyelami perasaan orang lain sebagai perasaan kita. Dalam konteks si kecil, memupuk rasa empati akan dengan mudah kita lakukan, jika kita melakukannya dengan sepenuh hati. Dengan ikhlas. Si kecil yang lemah tidak bisa kita perlakukan layaknya orang dewasa. Maka diperlukan kerendahan hati luar biasa untuk masuk dalam dunianya. Dengan begini, kita seakan diharuskan membunuh ego kita. Sebaliknya membiarkan segenap hasrat, rasa, pikir terserap dalam dunia si kecil. Maka cara kita bicara, memandang, memeluk, menggendong, bahkan  menyalurkan kemarahan didasarkan pada rasa empati dengan kepenuhan pemahaman akan dunia si kecil. Semakin kuat empati kita sama si kecil, semakin kuat pulalah si kecil merespon empati si kita. Bahasa kadang tak cukup. Getar batin yang disambungkan oleh rasa empati dengan si kecil merontokkan seluruh ego untuk mementingkan diri sendiri.
  3. Si kecil akan mengajari kita bagaimana terampil membangun komunikasi. Jika dilakukan dalam kesabaran, kita akan diajari bagaimana menangkap pesan yang kadang tidak disampaikan melalui bahasa verbal, tetapi melalui gesture atau simbol tertentu.  Bayangkan ketika si kecil yang masih belum bisa bicara menangis tanpa kita tahu maksudnya. Kadang butuh waktu lama untuk mengetahuinya, sampai ahirnya tahu ia butuh dikipas karena gerah. Bahkan meski disampaikan melalui bahasa verbal tetap saja kita sulit mencerna, karena faktor keterbatasan si kecil dalam menyampaikannya. Ketika ia bilang “tu..”, kita butuh banyak pembendaharaan kata untuk mencocokkan dengan ucapannya. Mulai sejak pintu, itu, jatuh, sepatu, sampai kita ketawa sendiri karena yang dimaksudkan ternyata lampu. Keterampilan komunikasi menurut saya tidak saja ditentukan oleh kemampuan menyampaikan pikiran dengan tepat dan bahasa yang tepat, tapi juga ditentukan oleh kemampuan mendengar. Kemampuan (untuk) mendengar akan memungkinkan kita bisa merespon balik makna dan pesan secara tepat pula. Dan kemampuan (untuk) mendengar hanya mungkin dilakukan oleh orang yang memiliki kesabaran dan sifat rendah hati. Dalam konteks ini, si kecil akan menyediakannya.
  4. Si kecil akan mendorong kita untuk selalu berpikir kreatif. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan secara cerdas, “itu apa yah..., kok begitu yah...kenapa seperti itu yah...” yang kadang dilontarkan sambung-menyambung, memaksa kita untuk terus memutar otak menjawabnya. Bukan sekedar jawaban, tetapi kita harus menyampaikannya dalam bahasa si kecil. Bahkan jawaban kita juga harus disesuaikan dengan pengetahuan dan pengalaman si kecil. Inilah kesulitannya. Tetapi jika kita berpikir kreatif, mencari cara terus-menerus, berpikir keras mencari jawabannya dan cara menyampaikannya, pada ahirnya kita akan menemukan jawaban yang tidak terduga.  Tentu jawaban kreatif tidak akan ditemukan oleh orang tua yang selalu membentak si kecil, “kok selalu tanya sih?”, atau mengalihkan dengan menjawab, “nanti kalau besar kamu akan tahu sendiri”. Sama seperti di atas, kesabaran adalah kunci bagi orang tua untuk selalu memutar otak mencari jawaban atas pertanyaan cerdas anaknya.
Tentu masih banyak lainnya yang bisa kita pelajari dari si kecil. Tapi saya hanya mampu menulis empat. Tetapi ada satu benang merah –berapapun kita akan men-list sebanyak mungkin kecerdasan emosianal dari si kecil—yaitu sabar dan ikhlas. Dari sinilah titik pijak tindakan mencerdaskan emosi harus dimulai. Ya..memulai dengan belajar dari si kecil.

Matorsalanagkong

Sumenep, 12 pebruari 2011