Posted by rampak naong - -


Seorang teman yang juga tetangga saya mengajukan resep untuk menjaga kesehatan. Resep ini sudah menjadi prinsipnya. Bahkan sudah dipraktekkannya.
 
Resep ini dari guru saya,” katanya beberapa hari yang lalu kepada saya. “Jika kamu ingin sehat, banyaklah membantu orang, terutama orang sakit,” begitu teman menirukan dawuh gurunya.
 
Saya tahu sendiri, resep dari gurunya ini sudah bertahun-tahun dia lakukan. Teman saya yang sudah haji sejak masih MTs (setingkat SMP) ini, dikenal sebagai orang  yang suka membantu. Termasuk membantu orang sakit. Tak terhitung jumlahnya tetangga dan kenalannya yang memperoleh uluran tangannya.
 
Pak haji ini seorang petani, juga seorang aparat desa. Umurnya masih muda, belum sampai 40 tahun. 10 tahun lalu dia pernah menjadi supir angkutan pedesaan, pekerjaan yang sudah tidak dilakoninya lagi sekarang. Kepiawaiannya “menyupiri” ternyata sangat dibutuhkan di desa. Terutama ketika ada orang sakit, jam berapapun minta tolong untuk diantar ke rumah sakit atau pengobatan alternatif, ia dengan senang hati akan membantu.   
 
Sepupu saya sekitar jam 5 sore ingin dibawa ke tempat pengobatan alternatif. Keluarganya meminjam mobil saya untuk mengantarnya. Saya yang kebetulan mendampingi istri yang sakit akhirnya menelpon teman saya untuk mengantar saudara sepupu yang mengidap kanker paru-paru ini. “Maaf saya tidak bisa berhubung ngangkut gabah yang baru dipanen,” katanya ketika saya menelponnya.
 
Tapi menjelang maghrib, teman saya ini muncul di rumah saya ingin “mengambil” mobil.  
 
Katanya gak bisa?
 
Pekerjaan saya sudah selesai,” jawabnya singkat.
 
Dua malam kemudian setelah teman saya ini mengantarkannya, sepupu saya meninggal. Ketika bertemu saya, dia bilang, “seandainya saya tidak sempat membantunya, pasti saya merasa menyesal karena dihantui rasa bersalah”.
 
Saya mengamati kehidupan teman saya bersama keluarga –istri dan dua anaknya— ini cukup tenang, bersahaja, dan memancarkan kebahagian. Keikhlasannya dalam memandu hidupnya, termasuk ketika membantu orang lain, telah menjadi kunci kesehatan dan kebahagiannya. Petuah gurunya semasa kecil betul-betul menancap dalam keyakinannya. Berbagi dan membantu orang sudah menjadi karakternya. Itulah Haji Lutfi, nama teman saya ini. Dalam Bahasa Arab lutfi bermakna lembut hatinya. Pas sekali dengan perangainya.
 
Pengalaman teman saya ini menjadi bukti, kebahagian dan ketenangan hidup –termasuk kesehatan—tidak melulu berurusan dengan kepemilikan materi. Berbagi, membantu dan menolong serta menjadi orang yang bermanfaat kepada orang lain adalah kunci kebahagiaan dan kesehatan.
 
Matorsakalangkong
Pulau Garam | 4 April 2013