Posted by rampak naong - -


[Resensi buku saya yang ditulis sahabat saya asal semarang , Rikho Kusworo, yang dipublish di Kompasiana. Republish di blog pribadi saya atas ijin si empunya. Semoga Bermanfaat]

koleksi ahmad shiddiq



Judul Buku : Rahasia Perempuan Madura.
Esai-Esai Remeh Seputar Kebudayaan Madura
Penulis : A. Dardiri Zubairi
Penerbit : Andhap Asor Kerjasama Dengan Al Afkar Press, Surabaya
Cetakan I : Februari 2013
Tebal : xxiii + 127 Halaman


“Saya membayangkan, seandainya bukan NU dengan prinsip prinsip Tawassuth,Itidal,Tasamuh,dan Tawazun-nya yang berkembang di Madura, misalnya yang berkembang dulu Islam puritan, orang Madura mungkin akan berlipat karakter “kerasnya”

Sebuah buku tentang kebudayaan Madura yang cukup ringan, renyah, namun kaya makna telah diterbitkan. Kumpulan esai, serba serbi kebudayaan Pulau Garam telah lahir dari rahim jeritan hati seorang beretnis Madura.

“Kelelahan” oleh konsepsi orang kebanyakan yang melabeli watak keras orang Madura adalah embrio yang akhirnya menelurkan sebuah buku yang kaya filsafat kehidupan.

“Madura tidak melulu kekerasan” adalah citra yang sengaja disandingkan dengan fakta bahwa Madura juga kaya akan segudang kearifan lokal. Begitu kita menyelami saripati local wisdom yang berserak dalam buku ini, akan pupus gambaran tentang kekerasan,clurit, atau carok.

Kutipan di atas adalah pengandaian sang penulis, A. Dardiri Zubairi mengenai stereotip etnis Madura yang dikenal keras. Sifat at-tawassuth (sikap tengah-tengah), at-tawazun (keseimbangan), al-i’tidal (menegakkan kebenaran), dan tasamuh (toleransi”) adalah ciri Ahlussunnah wal Jamaah atau kita sebut dengan Aswaja. Nilai nilai kekhasan aswaja inilah yang merupakan berkah bagi Madura yang menganggap NU sebagai “Agama”.

Terlepas dari stereotip yang diprasangkakan etnis lain terhadap etnis Madura, penulis buku ini tidak menampik bahwa ada orang Madura “penyuka” kekerasan dan selalu bikin onar. Ada wilayah abu abu seperti dunia “ blater ” atau “bajingan”(preman) yang sangat dekat dengan kekerasan. Namun demikian, naïf untuk menganggap preman sebagai representasi suku, karena dunia preman di suku dan daerah manapun selalu ada.

Dalam satu artikel di buku ini “Jangan Biarkan Stereotip Itu Beranak Pinak “ dengan sangat menyentuh Mas Ari (nama panggilan A. Dardiri Zubairi) melukiskan kisah yang bersumber dari pengalaman pribadinya ketika masih kuliah di Jakarta.

Berdasarkan pengalaman pribadi ini, Mas Ari, menguraikan bahwa stereotip Madura yang berkarakter keras disebabkan oleh dua faktor.

Faktor pertama, orang Madura sendiri memang terperangkap dalam cara pandang untuk bersikap keras dan berani, seperti yang dicitrakan. Citra keras dan berani segera meledak ketika menghadapi masalah. Dengan demikian seorang Madura yang yang low profile dan lembut, terkadang dipertanyakan ke-Madura-annya.

Faktor kedua, orang luar menyandera orang Madura untuk tetap terpenjara dalam citra keras yang sudah terbentuk. Orang Madura yang sudah telanjur dicap keras, nama etnisnya dicatut oleh orang dari suku lain, misalnya Jawa, untuk menakut-nakuti atau bahkan untuk berbuat kejahatan.

Sejarah pun telah melabeli karakter orang Madura yang suka mendadak sarat amarah. Seperti terungkap dalam buku Kuasa Ramalan-Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa 1785-1855 karya sejarawan Peter Carey (2012).

Dari pihak ayahnya,mengalir darah Madura dalam diri P.Diponegoro. Ayah P. Diponegoro, Sultan Hamengkubuwono III adalah anak dari Ratu Kedaton, seorang keturunan Panembahan Cokrodiningrat II dari Madura (1680-1707). Ratu Kedaton adalah garwa padmi (istri resmi) Sultan HB II.

Dalam Biografinya versi Menado, P Diponegoro merujuk neneknya dengan hormat. Kesetiaan Ratu Kedaton terhadap Islam,ciri masyarakat Madura yang menonjol, rupanya berkesan di hati P Diponegoro.

Namun demikian Ratu Kedaton dikenal mempunyai ”semangat Madura yang kuat, yang agaknya tidak surut surut pada masa tuanya”. Dalam empat kesempatan yang berbeda selama Januari-Juni 1812, Ratu Kedaton dikenai hukuman kurungan dua puluh empat jam di bangsal Kencono Keraton Yogya.

Hukuman itu dikarenakan Ratu Kedaton yang keras pendirian memperjuangkan putranya di tengah sikap suaminya yang lebih mengedepankan keturunan dari istri istri yang lain.

Hukuman kurungan itu untuk menjatuhkan semangat Ratu Kedaton dan memaksa ia mengungkap rahasia “persekongkolan” antara pihak Inggris dan putranya, tapi hukuman itu hanya memperkuat tekadnya saja.

Darah Madura dalam diri P Diponegoro juga diperhatikan oleh para pengamat dari Eropa. Pada pertengahan 1811, misalnya, ketika berita jatuhnya Sumenep (Madura) ke tangan pasukan penyerbu Inggris sudah sampai ke Yogya, Residen Belanda berkata bahwa berita itu “telah membuat darah Madura (dari Sultan HB III) mendidih”.

Bahwa P Diponegoro sendiri berdarah seperempat Madura lewat ayahnya, mungkin juga telah mempengaruhi kepribadiannya dan ikut menentukan tabiatnya yang suka mendadak sarat amarah.

Jeritan hati A. Dardiri Zubairi seolah nampak kental untuk menyuarakan sisi lain tentang kebudayaan Madura. Sebuah sense of balance diharapkan akan muncul dengan mengangkat fakta bahwa ada limpahan filsafat yang adiluhung yang luput dari sorotan orang kebanyakan.

13622568821422890253

Dalam salah satu artikel dalam buku ini yang berjudul Hidup Seimbang Ala Orang Madura akan nampak jelas babon limpahan filsafat yang adiluhung ini.

Ada ungkapan Madura Abantal syahadat asapo’ iman (berbantal syahadat,berselimut iman). Suatu ungkapan yang menyiratkan pentingnya menjadikan agama sebagai sandaran hidup.

Ada juga ajaran kearifan yang menganjurkan untuk selalu instropeksi dengan melihat pada diri sendiri daripada mencari cari kesalahan orang lain. Jaga pagarra dibi’ja’ parlo ajaga pagarra oreng laen (jaga pagar sendiri,jangan menjaga pagar orang lain).

Kalau dalam masyarakat Jawa dikenal ungkapan rukun agawe sentosa crah agawe bubrah, maka dalam masyarakat Madura mempunyai ungkapan kebajikan Rampa’ naong beringin Korong. Makna keduanya hampir senada, penekanan terhadap harmonisasi kehidupan,solidaritas, dan gotong royong.

Sementara itu di Madura juga dikenal istilah karkar kar colpe’( meminjam filosofi ayam, mencakarkan kakinya terlebih dahulu sebelum mematuk makanan). Sebuah semangat kerja keras yang di Jawa dikenal sopo ubet ngliwet (barang siapa yang bergiat dia akan menanak nasi-ngliwet). Seperti halnya filsafat Jawa sopo obah mamah (barang siapa yang bergiat melakukan aktifitas-bergerak-obah, akan mampu mencukupi kebutuhan,mamah=mengunyah=makan). Sungguh suatu nasihat yang indah, menyiratkan bahwa orang Madura adalah para pekerja keras yang ulet.

Sifat Kedermawanan juga nampak dari ungkapan mon sogi pasoga’(pihak yang kaya harus menjadi penyangga yang lemah). Selain itu ada kearifan lokal yang unik begitu membacanya ja’ metta’ buri’ etengnga lorong ( jangan memperlihatkan(maaf) bokong di jalan raya). Artinya Masyarakat Madura begitu kuat menjaga rahasia keluarga.

Dua puluh empat artikel pendek dalam buku ini kiranya akan cukup memberikan khazanah yang cukup mencerahkan bagi pemerhati kebudayaan yang ingin mengenali kebudayaan Madura. Banyak hal unik yang akan kita temui begitu membaca buku ini.

Kita akan disuguhi kebiasaan kebiasaan unik orang Madura yang suka ngopi dan merokok. Sampai sampai bila pemilik rumah tidak minum kopi atau merokok, tetap harus menyediakan kopi atau rokok untuk tamu.

Dalam artikel pernikahan fifty-fifty Mas Ari juga mengupas tentang tradisi matrilocal marriage pada masyarakat Madura. Artinya pihak orang tua dari istri lah yang bertanggung jawab menyediakan rumah untuk menantunya. Sementara itu sang menantu bertanggung jawab mengisi perabotan rumah.

Hampir semua tulisan dalam buku ini merupakan tulisan Mas Ari yang dipublikasikan di blog pribadi http://rampak-naong.blogspot.com dan blog www.kompasiana.com/dardiri sejak tahun 2010 - 2013. Ada beberapa tulisan yang dibuat khusus untuk penulisan buku ini, yaitu “ Agama” orang Madura, NU?, Pesantren, Kemana Kau Huub De Jonge? Songkok, Sahabat Karib Sarung, Abhekalan Versus Pacaran, Dan Jangan Biarkan Stereotip Itu Beranak Pinak.

Judul “Rahasia Perempuan Madura” diambil dari salah satu artikel, yang bisa jadi dianggap akan mampu memberikan daya tarik tersendiri terhadap kekuatan buku ini.Cover yang sengaja ditampilkannya pun senada dengan judul bukunya.

Namun demikian sayang judul buku ini kurang mewakili keseluruhan isinya. Kecuali artikel “Rahasia Perempuan Madura”, tidak ada satu pun tulisan yang khusus membahas mengenai perempuan. Sehingga bagi pembaca yang terpaku pada judul bukunya, akan menemui kekecewaan karena hanya mendapatkan suguhan satu artikel yang khusus mengupas tentang perempuan Madura.

Buku ini,mungkin, akan lebih kuat citranya apabila dikemas dengan judul Madura, Antara Stereotip dan Segudang Kearifan Lokal. Sungguh isi secara keseluruhan memang mengupas cukup lengkap, dengan bahasa yang cukup ringan dan komunikatif, tentang seputar kebudayaan Madura dari kehidupan sehari hari. Kandungan saripatinya jauh dari kesan remeh seperti yang tertulis dari sub judulnya Esai-Esai Remeh Seputar Kebudayaan Madura.

Dengan membaca buku ini, pembaca akan dibawa menyelam jauh ke dasar samudera alam pemikiran orang Madura, yang kaya akan filsafat hidup yang berbudi luhur.

Untuk Sahabatku Penulis Buku ini. Selamat, Anda Telah Membuktikan Bahwa Anda Sudah Bekerja Untuk Keabadian. Buku ini adalah prasasti catatan pemikiran yang akan terukir abadi serta memberikan manfaat bagi literasi kebudayaan.

One Response so far.

Rien Badzlin mengatakan...

Jika ingin mendapatkan buku rahasia perempuan madura , saya bisa mendapatkannya dimana. Thanks