Posted by rampak naong - -


taken from google
Di samping kopi, kebiasaan orang Madura juga merokok. Maka jika Anda bertamu yang dipersiapkan tuan rumah lebih dahulu adalah rokok. Baru menyusul kopi. Sama dengan kopi, tuan rumah yang tidak merokok pun biasanya mempersiapkan rokok untuk tamu. Atau terkadang baru membeli rokok ketika ada tamu. Jika tidak tersedia, pasti tuan rumah dengan sedikit malu-malu, “maaf, tidak ada rokok. Maklum, saya bukan perokok”.

Soal rokok, mungkin orang Madura tidak tertandingi. Bukan saja karena pulau Madura sebagai pusat pertanian tembakau sehingga dahulu ada sebutan “emas hijau” untuk menyebut tanaman tembakau ini. Tetapi rokok telah menjadi hal biasa. Jika anda datang ke Madura, jangan  kaget jika melihat anak usia MTs merokok. Seiingat saya, saya saja belajar merokok sejak usia kelas IV MI.  Orang tua memang melarang. Tetapi lingkungan sehari-hari dimana semua orang biasa merokok, menyebabkan anak-anak tak tahan belajar merokok.

taken from google
Ada keyakinan luar biasa soal merokok. Bagi orang lain, merokok pasti dianggap boros dan mengundang penyakit. Tetapi bagi orang Madura (tentu yang merokok), ada rizki tersendiri jika merokok, dan tak akan sampai mengurangi kebutuhan lain jika sebagian uang dibelanjakan untuk rokok. Ada kenalan saya sampai berhenti merokok, hanya ingin membuktikan apakah dengan berhenti merokok, uang belanja dan kebutuhannya lebih terjamin? Jawabannya, sama saja, katanya.

Soal kesehatan lain lagi. Tetangga saya bilang, “ ah..pak anu tidak merokok malah batuk-batuk, saya merokok malah tidak”. Ada lagi yang bilang, “pak anu tidak merokok mati duluan kok”. Malah teman saya dengan bercanda bilang, “ jika merokok mengurangi umur, maka merokoklah sambil tertawa. Jadi impas. Karena tertawa bisa menambah umur”.

Begitu istimewanya rokok, di sebagian daerah di Madura bahkan mengundang orang ke pesta pernikahan dengan rokok. Biasanya undangan diketik dalam ukuran kertas kecil  yang bisa diselipkan di dalam plastik yang melapisi bungkus rokok. Jika anda mendapat undangan rokok, anda dianggap penting oleh shahibul hajah. Semakin mahal rokok yang dijadikan undangan bagi anda, semakin banyak uang dalam amplop yang harus anda persiapkan ke acara resepsi pernikahan.

Memang harus diakui, karena rokok sudah menjadi “menu wajib”, banyak orang Madura merokok tanpa mengindahkan etika publik. Jika Anda naik Bis jurusan Surabaya-Madura, pasti di dalamnnya banyak orang yang merokok.  Di Bis jurusan Sumenep-Jakarta full AC, ketika dulu saya kuliah, penumpang adu mulut gara-gara seorang bapak, tanpa merasa bersalah, merokok. Saya kesel juga. Ketika ia ditegur malah bilang, “apa hak sampeyan melarang saya merokok, toh saya beli rokok dengan uang saya sendiri?”. Lho..Tapi syukur ketika dikasih pemahaman, bapak yang merokok itu meminta maaf.

Kopi-rokok bagi orang Madura melampaui batas-batas hanya sekedar soal minuman dan hisapan. Makanya ada “kearifan lokal” yang membingkai aspek budayanya, “bhede kalambhi, bhede songkok. Bhede kopi,i ya bhede rokok”  (makna harfiahnya; ada baju (kalambhi), ada songkok.ada kopi, ya ada rokok).  Mungkin dari rokok ini kita bisa memahami kopi sebagai minuman kehormatan bagi orang Madura, atau sebaliknya?




2 Responses so far.

M. Faizi mengatakan...

kalau rokok ya wajar karena di sini banyak tembakau: tapi, yang hebat adalah ada istilah KOPI MADURA. Saya cari, di mana ada perkebunannya? :-D

M. Faizi mengatakan...

rangkaian ceritanya itu ada di sini:
http://kormeddal.blogspot.com/2010/07/cinta-dan-benci-la-kadarnya.html