Posted by rampak naong - -


Agama mengajarkan,  “surga itu berada di telapak kaki ibu”.
Guru saya bilang,  “jimat kamu adalah ibumu”.
Kesaksian guru saya yang lain, “saya punya tetangga yang selalu mengalami deraan hidup. Usut punya usut, dia ternyata menelantarkan ibunya”.
Pengalaman sahabat saya, “justru karena uang saya –yang seharusnya untuk beaya S3 ke Australia— digunakan untuk beaya pengobatan ibu ke singapura, saya malah memperoleh beasiswa S3 di dua negara sekaligus, Singapura dan Australia”.
***
Pagi itu –di desa saya—terdengar khusyu’ surah Yasiin dibaca bersama-sama. Suaranya membubung ke atas langit. Manaruhkan harap. Mengadukan kecemasan pada Pencipta. Terasa sekali gema suara itu berbeda. Karena muncul dari orang-orang besar, yang akan memberi pengaruh besar bagi kehidupan besar anak-anaknya kelak.
Itulah suara IBU-IBU. Kebanyakan ibu-ibu muda. Sudah lebih setahun, mereka melakukannya. Mereka tergabung dalam Komunitas Ibu-ibu Pendamba Anak Shaleh (KIPAS). Komunitas ini unik. Sepanjang hidup saya, baru kali ini saya menemukannya. Unik karena komunitas ini didirikan husus untuk mendo’akan anak .
Pertemuannya seminggu sekali. Mereka bersama-sama berdo’a untuk anak dengan membacakan surah alfatihah, yasiin, dan surah al-insyirah. Do’a mereka “sederhana”. Mereka bermunajat kepada Allah agar anak mereka kelak menjadi anak shaleh/shalehah.
Komunitas ibu-ibu ini berdiri tidak dalam ruang hampa. Berawal dari rasa jenuh menunggu anak pulang dari TK dan MI di pesantren NASA Gapura Sumenep, ibu-ibu berinisiatif membentuk komunitas. Daripada setiap hari ngegosip, mending digunakan sharing masalah anak. Lumayan meski seminggu sekali.
Lama-lama amatan ibu-ibu makin serius. Ibu-ibu memandang situasi saat ini sudah tidak lagi menyediakan lingkungan yang sehat bagi keperibadian anak. Banyak ibu kaget. Anak semakin manja, penuntut, boros, kasar, dan dewasa secara seksual.  
Faktornya sangat banyak. Dari luar digoda oleh sejenis permainan, tontonan, makanan yang diusung oleh industri yang hanya mikir keuntungan. Dari dalam, kondisi keluarga juga demikian rapuh. Keluarga banyak yang linglung oleh terpaan konflik, pertengkaran, perceraian, dan perselingkuhan.
Ke depan situasi yang tidak sehat bukan akan berkurang.  Sebaliknya, akan terus meninggi intensitasnya, baik secara kualitas maupun kuantitas. Maka di samping usaha secara manusiawi, diperlukan juga usaha secara spiritual. Do’a dipandang sebagai usaha spiritual yang penting digalakkan. Atas dasar ini KIPAS lahir.
Anggota komunitas ini sekitar 40 orang. Rata-rata tamat MI dan MTs. Hanya beberapa yang  lulusan PT. Anak-anak mereka sebagian besar duduk di TK, sebagian lagi di MI. Komunitas ini memang memiliki komitmen, “mumpung anak masih dalam usia dini”.
KIPAS tak punya funding dan tak berniat punya. Semua pendanaan dilakukan secara swadaya. Maka kegiatan cukup di rumah atau di mushalla dengan duduk lesehan-melingkar . Duduk seperti ini sungguh sangat nikmat. Suasana sangat akrab, dekat, dan menyentuh. Mungkin karena komunitas ini diikat oleh kesamaan pandangan. Termasuk sama-sama gamang dan hawatir terhadap masa depan anak mereka. Tetapi pada saat lain, muncul kegairahan dan optimisme menyambut masa depan anak mereka.
Ibu-ibu mencukupkan hanya berdo’a? Tidak. Dalam sebulan, kadang sekali-dua kali mereka sharing cara bijak mendidik anak. Ya..semacam parenting education. Banyak tema-tema yang disharingkan. Tetapi yang paling sering menyangkut kiat membangun pendidikan karakter anak dalam rumah tangga.
Tema-tema yang dipilih misalnya, kiat mendidik anak jujur, berprilaku bersih, menghargai orang lain, rajin menabung, mendidik tanpa kekerasan, cara melarang tanpa bilang kata “jangan”, dan lain-lain. Sharing-nya praktis dan konkrit hingga menemukan kiat bagaimana karakter itu bisa dipraktekkan di rumahnya.  
Inilah cara kreatif dan unik ibu-ibu desa merespon masa depan anak. Berjejaring dalam kesamaan harap, mimpi, do’a, dan usaha. Semua dilakukan semata untuk mimpi anak mereka menjadi shaleh/shalehah, berkarakter, dan cerdas. Sebuah usaha yang pasti tidak akan sia-sia. Karena justru diupayakan oleh “pemilik surga”. Dimana do’anya tak terhalang hijab dengan Sang Maha. Insyaallah.
Sumenep, 17 november 2010