Posted by rampak naong - -


Sejak punya blog pribadi ini di tahun 2009 ada desakan kuat di bathin saya untuk menulis seputar budaya local Madura. Di samping thema pendidikan dan parenting, saya memang meminati budaya. Sejak saat itu mulailah saya meraciknya dan menulis [-ulang] kebudayaan Madura yang telah membentuk identitas saya.

Perjumpaan kembali dengan budaya sendiri terkadang membuat saya tercengang. Maklum, selama ini meski sudah hidup di dalamnya, tetap saja saya berjarak. Globalisasi telah menyihir hingga saya terpenjara pada daya pukaunya. Pada saat yang sama, saya melupakan identitas sendiri. Terlalu. Saya telah melakukan dosa budaya.

Saya juga tercengang karena saya menemukan kearifan melimpah. Tak ada habis-habisnya kebudayaan local memberi perspektif dan jawaban atas silang sengkarut tata nilai saat ini. Ibarat berdiri di depan cermin, kebudayaan local menampilkan wajah asli saya, berikut konteks dimana saya hidup saat ini. Ternyata wajah saya tidak melulu bersih. Ada juga bercak-bercak hitam di sana.

Mulailah saya menulis hal-hal remeh tentang kebudayaan saya. Tentang kesukaan orang Madura minum kopi, merokok, naik haji, nikah dulu-baru kerja, selalu menggunakan sarung dan songkok, tentang menghormat guru, pesantren,  ayam piaraannya, perempuan, sebutir telur dan isu-isu remeh lainnya yang jika didalami memancarkan kearifan yang menyejukkan. Isu ini memang tidak atau jarang diangkat oleh penulis lain. 

Saya memilih isu remeh karena saya ingin keluar dari stereotype kekerasan yang selalu menarik perhatian para Madurolog yang selama ini tekun meneliti Madura semisal Huub De Jonge, dari Belanda itu. Diskursus tentang Madura tak jauh seputar kekerasan atau thema umum lainnya semisal garam, kerapan sapi, dan semangat jiwa rantaunya.  

Meski tak menyelesaikan, isu remeh yang saya angkat juga sebagai jawaban terhadap stereotype bahkan stigma yang dialamatkan pada etnis saya. Mungkin saja yang menganggap ini sebentuk pembelaan. Tetapi memahami simbol budaya tanpa diletakkan dalam kosmologi penganutnya ibarat memisahkan ikan dari air. Ia akan menjadi setumpuk daging tanpa nyawa.

Meracik Buku
Terlintas dulu ketika saya mulai menulis seputar isu remeh tentang budaya Madura, suatu saat bisa dibukukan. Meski saya harus menunggu tiga tahun, impian saya Alhamdulillah sekarang menjadi kenyataan. Hari ini Insya Allah selesai cetaknya.

Yang menerbitkan memang bukan penerbit besar. Ia hanya penerbit kecil di Surabaya yang baru menerbitkan beberapa buku. Tetapi terbitnya buku ini, meski hanya kumpulan tulisan dan bukan buku utuh, tetap harus saya syukuri. Inilah buku pertama kali saya sejak saya mulai belajar menulis, 25 tahun yang lalu.

Saya juga bersyukur karena dibantu oleh tiga orang yang sudah dikenal dalam dunia kepenulisan. Jamal D. Rahman [Redaktur Majalah Sastra Horison dan Jurnal Sajak, Dosen Fakultas Sastra UIN Syarif Hidayatullah Jakarta] berkenan memberi kata pengantar buku saya. Sedang endorsement saya  minta kepada Prof. Dr. Abdul A’la [Rektor IAIN Surabaya] dan M. Mushthafa [penulis buku, pegiat jurnalisme warga dan guru].  

Terbitnya buku ini makin menguatkan saya bahwa ngeblog bukan pekerjaan sia-sia. Ngeblog jika dilakukan secara konsisten akan memanen keberkahan. Meski yang paking repot bagi Blogger, seperti status Kang Pepih di FB, meyakinkan istri bahwa duduk di depan laptop adalah jenis pekerjaan juga. he..he…saya juga mengalaminya.

Jemput Bola, Merebut Pasar
Karena penerbitnya kecil, perlu strategi khusus untuk merebut pasar. Pasarnya tentu orang Madura, baik yang berada di Madura atau “Madura swasta” [sebutan untuk orang Madura yang diaspora]. Tetapi saya yakin, orang luar Madura pasti ada yang membeli juga [he..he…PD amat].

Untungnya, teman saya yang menerbitkan buku ini memiliki jaringan pertemanan yang luas. Dia mengontak teman-temannya yang kuliah di perguruan tinggi baik di Madura maupun di luar Madura [Malang, Surabaya, Yogyakarta]. Teman saya menawarkan bedah buku, kerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa atau organisasi Mahasiswa Madura. setidaknya ada tiga Kampus yang sudah menyatakan siap.

Di samping Kampus, teman saya juga mengontak beberapa pesantren dan komunitas sastra-budaya di Madura untuk membedahnya. Saat ini sudah ada beberapa yang berniat mengadakannya. Sementara Launching buku ini besok  dan lusa akan dilakukan di Madrasah tempat saya mengajar, sebagai bagian dari usaha untuk mendorong siswa-siswi dan guru agar suka membaca dan  menulis.  

Melalui buku ini pula saya diajak seorang M. Mushthafa,  yang sudah menerbitkan dua buku, terlibat dalam gerakan literasi untuk mendorong siswa dan guru khususnya di Sumenep giat membaca dan menulis. Kegiatan temu penulis buku ini akan dilakukan di beberapa sekolah di Sumenep akhir bulan Pebruari ini/awal bulan Maret dan disupport oleh pak Satria Dharma dari Ikatan Guru Indonesia [IGI].

Semoga hadirnya buku ini bisa bermanfaat dan lebih memotivasi saya untuk terus belajar menulis. Kepuasan hanya akan menjadikan saya malas dan sombong.

Nah bagi Anda, kenapa tidak menulis budaya local yang kecil-kecil, remeh-remeh, dan tidak terlihat penulis lain? Jika sudah cukup, raciklah menjadi sebuah buku. Selamat mencoba.

Matorsakalangkong
Pulau Garam | 15 Pebruari  2013

3 Responses so far.

arnu_02 mengatakan...

Mas saya dari Perpustakaan Pusat Informasi Kompas tertarik memiliki buku tersebut, tolong kirim jawabannya vie email saya arief.nurrachman@kompas.com

rampak naong mengatakan...

terimakasih mas, oke komnikasi selanjutnya via email

salam

bagus bikers mengatakan...

mas saya tertarik buat memiliki buku tersebut, buku tersebut bisa buat acuan tugas akhir saya
mas nya bisa hubungi saya lewat email bagusbikers.bb@gmail.com