Posted by rampak naong - -


Ketika mengajar Sosiologi di kelas XII Madrasah Aliyah putri tentang lembaga social, iseng saya menanyakan persepsi mereka terhadap lima lembaga yang mereka kenal. Pertanyaan yang saya ajukan, “lembaga mana yang kredibilitasnya paling rendah dalam persepsi Anda”. Saya minta mereka maju satu persatu untuk menandai lembaga yang sudah saya tulis di papan tulis. Dari 29 siswi diperoleh data sebagai tertera dalam gambar di atas. 

Saya mencoba mendalami persepsi mereka dengan mengajukan pertanyaan, kenapa banyak memilih lembaga kepolisian? Jawabannya sangat terkait dengan pengalaman mereka sehari-hari, polisi sering menerima sogokan ketika menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran lalu lintas, terutama kendaraan motor.

Meski tidak terungkap saya yakin ada jawaban lain.  Apalagi, sekitar 10 hari lalu, di daerah saya ada pencuri sepeda motor yang dibakar dan ditimpuki batu hidup-hidup hingga mati. Belum lagi pencurian sapi dan motor makin marak akhir-akhir ini. Di sebuah desa –dekat desa saya— dalam setahun ini sudah lebih 20 sapi yang tercuri. Di desa lain bahkan ada yang lebih dari 50 sapi yang tercuri dalam setahun ini. Dalam kondisi seperti ini, polisi sangat dirindukan oleh masyarakat. Mereka memimpikan jaminan keamanan dari polisi. Inilah saya rasa yang ikut mempengaruhi buruknya persepsi siswi saya terhadap lembaga kepolisian.

Pengadilan adalah lembaga kedua yang dalam persepsi pelajar rendah kredibilitasnya. Menurut mereka, pengadilan belum mampu menjadi benteng keadilan karena pengadilan mudah depengaruhi suap oleh orang yang berperkara. Keadilan begitu mudah dibeli.

Setelah pengadilan, mereka menunjuk DPR(D). wakil rakyat, menurut mereka, hanya menabur janji menjelang pemilu dan segera menguap setelah mereka terpilih. Dua lembaga yang masih dipercaya –terbukti tak ada yang menandai dua lembaga ini—adalah, rumah sakit dan sekolah. Dalam persepsi mereka dua lembaga ini masih “relatif baik” dibanding tiga lembaga di atas.

Persepsi para pelajar ini bisa jadi dipahami “begitu sederhananya”. Tetapi kebenaran justru terkadang muncul dari kesederhanaan. Persepsi mereka tidak muncul begitu saja. Kemunculannya pasti berdasar pengalaman yang mereka timba dari kehidupan yang mereka jalani sehari-hari. Bagi saya, suara mereka tetap hebat, terutama kerinduannya terhadap polisi sebagai penjamin keamanan rakyat.

Matorsakalangkong
Pulau Garam |16 Oktober 2014