Posted by rampak naong - -

Sebagai seorang santri saya semakin kebingungan mengeja konsep yang silih berganti mendera dunia pendidikan. Saya semakin, bahasa pesantrennya, jahlun murakkab saja. Coba kita eja konsep Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), atau Badan Hukum Pendidikan (BHP) yang sekarang lagi rame digunjingkan. Bingung kan?
Apakah konsep di atas semuanya dimaksudkan untuk mengembangkan pendidikan berkualitas? Jika ditanyakan pada pengambil kebijakan, pasti jawabannya, 100% iya. Meski saya yakin, pengambil kebijakan pendidikan (terutama di tingkat kabupaten) sama bingungnya dengan saya.
Oke, biar tidak capek kita terima saja bahwa semua konsep di atas, dimaksudkan untuk mengembangkan kualitas pendidikan. Pertanyaan selanjutnya, kualitas dalam arti apa? Bukankah realitasnya pendidikan makin banyak digugat orang? Mulai sejak pencipta pengangguran, pencipta robot industri, tak mampu melahirkan anak didik yang humanis, miskin kreatifitas, suka tawuran, tidak memiliki kepekaan religiusitas, emosional, dan sosial, dsb.
Dalam persoalan pendidikan saya termasuk orang yang “konservatif”. Terus terang saya masih percaya pada pesantren dan madrasah. Jika saya ditanya seperti apakah pendidikan berkualitas (?), jawabannya iya madrasah. Saya mengambil kesimpulan seperti ini merupakan hasil refleksi panjang. Artinya baru sadar ketika saya sudah tua.
Ada beberapa alasan yang melatari kesimpulan saya. Pertama, pesantren dan Madrasah telah mengajari saya tentang makna hidup. Hidup dimaknai bukan melulu “kini” dan “sekarang”. Hidup juga untuk “masa depan”, suatu keyakinan eskatologis tentang makna hidup yang sebenar-benarnya, nanti di hari pembalasan. Dan dalam proses menjalani hidup, Tuhan menjadi muara kemana nilai kehambaan kita harus diorientasikan.
Kedua, ajaran pokok madrasah inilah yang menjadikan nilai-nilai altruistik subur berkembang biak. Saya diajari untuk tawadlu, ikhlas, dan selalu siap mengabdi. Saya diajari respek pada guru, tetangga, dan teman. Saya diajari untuk mandiri (saya tidak perlu menggantungkan jadi pegawai negeri (mohon maaf) hanya karena saya mau makan).
Di madrasah, saya diajari bahwa pinter tidak cukup. Saya juga diajari akhlak al karimah. Karena itu, naik kelas atau tidak bukan hanya diukur dari angka rapor. Waktu di kelas 4 MI dulu  nilai rapor saya bagus, tapi karena saya nakal, saya tidak naik kelas. Jadi bagi saya, pendidikan yang lengkap menyentuh semua ranah kognitif, apektif, dan psikomotorik atau yang bikin cerdas IQ, emosi, dan spiritual ya madrasah.
Cuma sayangnya, yang saya percayai madrasah era dulu. Ketika madrasah belum ada dalam cengkraman negara (baca: birokratisasi pendidikan). Ketika madrasah masih punya otoritas mendesain kurikulum sendiri sesuai dengan kebutuhan komunitasnya. Ketika madrasah tidak berorintasi pada ijazah dan pasar. Ketika madrasah tidak cuma menjadi tempat mengajar, tetapi juga mendidik. Ketika madrasah benar-benar menjadi “sekolah rakyar”, karena dibeayai sepenuhnya oleh komunitasnya. Ketika para guru-guru di madrasah mengajar sepenuh hati, dengan menaburi keikhlasan dan kasih sayang pada murid-muridnya.
La sekarang apa kenyataannya sudah berubah? Meski tidak berubah, tetapi pergeseran di sana-sini sudah terjadi. Pergeserannya saya rasakan sudah menyentuh hal yang mendasar. Madrasah saat ini sudah dicengkaram oleh negara dan kekuatan pasar. Selama hal ini terus berlangsung, jangan harap memimpikan madrasah bisa mengembangkan kualitasnya. Caranya bagaimana? Mari kita diskusikan.