Tampilkan postingan dengan label NU dan pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NU dan pesantren. Tampilkan semua postingan
Posted by rampak naong - - 0 komentar

dream.co.id
Sering kali kita sebagai warga NU berebut identitas, siapa yang disebut NU. Seringkali pula identitas ke-NU-an dipakai oleh orang yang justru memojokkan NU.  Ketika ada yang mencoba memberikan argumen soal sikap ke-NU-an seseorang/kelompok ini malah dicap sok paling NU, sok
paling aswaja, dsb. Fakta ini makin krusial saat politik memainkan identitas sebagai bagian dari cara meraih kekuasaan.

Apa yang menarik bagi saya  justru sesuatu di baliknya, kenapa perebutan identitas ini terjadi? Meski sulit mengukur genuin tidaknya identitas seaeorang, adakah parameter yang setidaknya cukup prinsipil untuk mengukurnya? Dua hal inilah yang saya akan coba jelaskan.

Pertama soal perebutan identitas ke-NU-an, dimana klaim muncul sebagai pengokohan identitas ke dalam dan secara berasamaan mendeligitimasi identitas pihak lawan. Misalnya ketika ada warga NU yang selalu bilang dalam ceramah politiknya, "saya ikut NU-nya KH. Asy'ari", ini berarti secara internal pengokohan bahwa ia asli NU atau NU asli, sementara yang tidak sama dengannya "KW-KW-an".

Fakta di atas sebenarnya menjelaskan bahwa tak ada identitas yang utuh. Ada "irisan", ada "belahan", atau ada "pecahan". Justru irisan inilah yang kadang jarang dilihat oleh orang yang selalu mengaku "NU asli" atau orang yang menganggap sama amaliahnya dengan NU tapi fikrah (siyasinya) justru akrab dengan kelompok yang jejak rekamnya menghantam NU.

Mari saya akan perjelas dengan ilustrasi berikut ini. Saya punya teman, warga NU atau setidaknya mengaku NU. Secara amaliah gak ada masalah. Sama persis dengan amaliah NU: dia tahlilan, qunut, yasinan, dan seterusnya. Tiba-tiba teman saya ini sangat "kritis" (lebih tepatnya suka marah) sama NU, termasuk sama pengurus NU, apalagi pengurus PBNU seperti kyai Said Aqil dan baru-baru ini sama Kyai Ma'ruf Amin. Macem-macem yang dikatakannya tentang NU, bahkan NU seolah tidak ada baiknya.

Jika dirunut, pikiran teman saya tidak mungkin tiba-tiba muncul. Pasti ada prosesnya. Salah satunya bisa dilihat "irisannya". Meski dia NU, ia juga aktif di organ yang selama ini berseberangan dengan NU (saya rasa pembaca tahu) dan terakhir teman saya aktif di #gantipresiden2019. Pergaulan teman saya ini dengan kelompok yang selama ini tidak ramah terhadap NU, justru telah membentuk pikiran yang anti-pati terhadap NU, meski dimana-mana ia masih bilang NU.

Dalam perkembangannya, irisan yang awalnya menjadi persimpangan jalan bertemunya identitas ke NU an dia dengan yang lain, malah makin membesar dan menguat. Idetnitas ke-NU-annya tertimbun. Sebaliknya, ia muncul sebagai orang lain, orang yang "baru" yang tiba-tiba tidak sama dengan pandangan masyarakat sekitarnya.

Ia balik menyuarakan kepentingan orang lain, organ lain, ideologi lain, juga partai lain yang sebenarnya tidak sejalan dengan NU. Bahkan untuk kasus tetentu kadang aneh, ia justru menjajakan kepentingan orang Jakarta di desanya atau di daerahnya yang masalah sosial-budayanya sangat jauh berbeda dengan Jakarta.

Terus terang saya kadang tidak tahu, alasan apakah yang secara substantif mendorongnya membenci NU? Pada hal jika dirunut mereka justru berteman dengan orang/kelompok yang selama ini memojokkannya (sekali jika ia memang warga NU). Coba saya ambil contoh gerakan #gantipresiden2019, bukankah di belakangnya ada PKS yang secara ideologis beda dengan NU dan pandangan hidup pesantren? Bukankah di belakangnya banyak ideologi yang selama ini menghantam NU meski kadang atas nama Islam?  Soal-soal ini seakan tak cukup menjadikan orang yang mengaku NU menyadari "irisannya".

Anehnya, orang yang mengaku NU asli ini hanya kritis terhadap NU. Sebut saja ketika ada jamaah umroh yang melagukan Ya Lal Wathon, sontak mereka teriak menghujat. Giliran ada gerakan #gantipresiden2019 yang membonceng ibadah haji mereka tiarap, seakan tak tahu-menahu.

Karena identitas NU seseorang tak akan utuh, maka "irisan" wajar. Aktif di organ atau ormas apapun tidak menjadi masalah dengan catatan selama organ atau ormas itu ada titik temu ideologisnya dengan NU. Tetapi jika tidak ya tak perlu mencari-cari alasan untuk menarik NU ke dalam "irisannya" atau mengenalkan organnya senafas dengan NU.

Jadi tentang pertanyaan kedua di atas soal, adakah parameter yang bisa dijadikan alat ukur untuk menilai ke-NU-an seseorang(?), ya ada. Tinggal lihat ideologinya, fikrahnya. NU telah merumuskan apa yang disebut fikrah nahdliyah. Menjadi NU dengan demikian tak hanya diukur dengan amaliah misalnya sama-sama tahlil, sama-sama yasinan dan seterusnya, tetapi secara substantif menyangkut fikrahnya juga seharus senafas dengan fikrah nahdliyah.

Pulau Garam, 12 September 2018



[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 4 komentar

foto: nu.or.id
Sebagai pulau yang dekat dengan Jawa, wajar jika Madura menjadi wilayah sasaran dakwah Wali Songo. Tentu ini by design. Dengan demikian teks-teks, terutama teks keagamaan,  yang jadi sumber pengetahuan orang Madura merupakan jaringan teks yang bertebaran di wilayah lain di Nusantara ini. Inilah pula yang membentuk pandangan keaswajahan  dan imagi kebangsaan orang Madura.

Teks ini disampaikan dengan strategi dakwah yang arif. Jalur kebudayaan ditempuh terutama untuk menghindari benturan antara pesan agama dan kebudayaan lokal. Agama dihadirkan tidak dalam hubungan vis a vis dengan budaya, malah menggunakan instrumen budaya itu sendiri yang isinya diroh-i nilai-nilai Islam. Atau mengkreasi model sendiri sesuai dengan karakteristik dan potensi daerah yang menjadi sasaran dakwah.

Salah satu contoh yang bisa disebut di sini adalah model dakwah yang dilakukan Syekh Ahmad Baidlawi atau dikenal sebagai Syekh Katandur, cicit dari Sunan Kudus, yang hidup sekitar akhir abad 15 atau awal abad 16. Beliau sambil berdakwah juga mengenalkan ilmu bertani (nandur). Makanya beliau lebih dikenal sebagai Pangeran Katandur. Maqbarahnya yang keramat dan banyak dikunjungi peziarah berada desa Bangkal (desa bangkal dulu masuk desa Parsanga, kemudian dipecah) Sumenep, sebuah desa yang berdekatan dengan desa Paberrasan, desa yang dulu dikenal wilayah penghasil beras,  dan desa Kebunan yang dulu dikenal karena pertanian kebunnya yang subur.

Strategi dakwah yang dilakukan Pangeran Katandur menurut saya sangat kreatif. Pesan keagamaan Islam diterima, orang Madura juga memiliki keterampilan mendayagunakan lingkungan alamnya, dan yang lebih penting bagaimana dakwah mampu mengharmonikan antara hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan sekaligus alam.

Asal-usul desa Parsanga ada hubungannya dengan instruksi pangeran Katandur yang menyuruh pengikutnya menanam bibit pohon kelapa di sembilan sumur di daerah itu. "Parsanga" adalah akronim "parse sasanga'" (bibit pohon kelapa berjumlah 9) yang satu persatu ditanam dekat sumur yang juga berjumlah sembilan. Lepas dari misteri angka 9 (Wali songo, bintang sembilan), apa yang dilakukan Pangeran Katandur adalah dakwah yang membangun harmoni hubungan manusia dan Tuhan sekaligus alam lingkungannya. Sumur bisa dimaknai begitu strtegisnya air. Bandingkan dengan saat ini sumber-sumber air diprivatisasi untuk kemudian dijual ke khalayak.

Jadi makna agama dihadirkan dalam ketulusannya menjaga ruang hidup, lingkungan, dan alam sebagai siasat untuk menopang keberagamaan masyarakat sendiri. Strategi ini menarik digali lebih dalam untuk dikontekstualisasikam dengan kondisi saat ini  ketika Madura menjadi sasaran korporasi dan para pemodal yang dengan semena-mena merampas ruang hidup dan mengalihfungsikan lahan.

Kearifan dakwah lainnya yang bisa disebut di sini, dakwah yang dilakukan Sunan Paddusan pada abad 17. Ulama ini sangat penting perannya  sehingga diulas cukup panjang oleh Ahmad Baso dalam Pesantren Studies 2b. Menurut Baso, Sunan Paddusan penulis cerita Jaka Karawet (Baso, 2012).

Wilayah dakwah Sunan Paddusan di samping Jawa juga Madura (Sumenep). Di Madura Sunan Paddusan berdakwah di desa paddusan (sekarang Pamolo'an, sebuah desa di lingkungan kota). Saya meyakini wilayahnya pasti melampaui desa, tapi desa Paddusan semacam base camp yang menjadi pusat dakwah sang Sunan.

Menurut cerita, apabila santri telah melakukan rukun Islam ia dimandikan dengan air yang dicampuri aneka ragam bunga. Memandikan itu disebut "edudus", kampung warga disebut paddusan, dan Guru yang mengajarkan agama itu disebut Sunan Paddusan (Abdurrahman, 1988).

Sekali lagi bisa dilihat di sini media yang digunakan sebagai simbol penguasaan seseorang terhadap rukun Islam adalah air disertai aneka ragam bunga. Bandingkan juga dengan thema "Thaharah" dalam kitab fiqh yang berhubungan dangan air. Satu hal yang ingin saya ungkap, keberagamaan membutuhkan keselarasan yang padu; Tuhan, manusia, dan alam.

Kalau mau disebut masih banyak para wali dan ulama di Madura yang dalam dakwahnya menggunakan strategi kebudayaan, senafas dengan model yang digunakan oleh para wali dan ulama di belahan lain di nusantara ini. Inilah kearifan dakwah yang pada akhirnya melahirkan kearifan dalam beragama, sebagainana nanti akan saya jelaskan.

Kearifan adalah sikap yang tahu kapan harus santun, kapan bersikap keras, tegas, dan tanpa kompromi. Terhadap kolonialisme atau kerajaan bonekanya yang menjadi musuh agama dan rakyat Nusantara, orang Madura tegas dan keras. Contohnya Tronojoyo, santri Sunan Giri dan Kyai Kajoran, tanpa kompromi dan kooperarif dengan Amangkurat dan Amangkurat II, raja Mataram yang dibantu VOC.

Termasuk juga ketika Perang Diponogoro 1825-1830, santri dan orang Madura terlibat penuh. Bahkan sebelum perang, Pangeran Diponogoro melakukan konsolidasi dan merapikan barisan  dengan berkunjung ke banyak pesantren di Jawa, termasuk ke Madura tepatnya ke Pesantren Banyuanyar Pamekasan pada tahun 1787 (Zainul Milal, 2016).

Dalam buku Pesantren Studies 4a (2013), Baso melukiskan, perang Diponogoro yang sangat heroik itu tak lepas dari peran tentara pangeran Diponogoro dari Madura. Sayang sekali, peran tentara asal Madura dalam perang Diponogoro tenggelam. Justru yang diketahui banyak orang soal Barisan, korp tentara yang menjadi centeng Belanda, dan sengaja dibentuk belanda sebagai barter terhadap penguasa Madura yang mengininkan pemerintah kerajannya dikelola secara swapraja.

Nah, melihat ilustrasi di atas kearifan juga bermakna tegas dan keras terhadap musuh, VOC dan kemudian terhadap penjajah Belanda. Bukan seperti sekarang, kelompok keras di Madura justru menjadikan sebangsa sebagai "musuh". Sementara kelompok moderat asyik dengan kearifan dalam makna santun melulu sehingga dua-duanya kurang peduli terhadap kolonialisme dalam wajah baru yang saat ini menggurita di Madura melalui keruk habis SDA dan penguasaan lahan yang tak terkendali.

Meski begitu saya melihat, kelompok keras lebih sulit diajak peduli untuk keras terhadap neo-kolonialisme kecuali dibngkus sentimen agama. Sementara kelompok moderat lebih mungkin mengambil sikap tegas dan keras terhadap neokolonialisme jika mampu menggeser makna kearifan ke posisi sebagaimana Pangeran Trunojoyo dan Diponogoro melakukannya. Wallahu A'lam.

Matorsakalangkong







[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar

Sketsasekelumit.blogspot.com

Adanya gerakan keagamaan baru yang belakangan ini mulai masuk ke wilayah Madura perlu diamati secara serius. Hampir semua faham barangkali sudah ada. Mulai faham yang secara ilmu, amaliah dan harakahnya tidak sama dengan orang Madura yang Nahdliyin atau tidak sama sebagiannya.

Umumnya gerakan keagamaan baru ini jika ditelisik tidak menemukan akar kuat dalam praktek keagamaan masyatakat Madura yang sejak dulu sudah mampu mempertautkan antara fiqh dan ajaran sufi, sebagai bagian dari jaringan Islam Nusantara. Praktik keagamaan yang kuat serta prinsip hidup yang penuh ajaran akhlak, sebagaimana nanti akan saya jelaskan, menjadi bukti padunya pertautan ajaran fiqh yang cenderung legal formal dan ajaran tasawuf yang cenderung "longgar" dan tidak "hitam-putih".

Sejarah masuknya Islam di Madura bermula dari Sumenep, tepatnya di sebuah pulau (tidak termasuk the golden triangel island) yang bernama pulau Sepudi.  Berbeda dengan pulau gililabak, pulau ini tak memiliki pesona wisata yang bisa memuaskan kenikmatan lahiriah. Tetapi di pulau ini tersimpan sejarah yang jejaknya bisa dilihat hingga sekarang. Sebuah pulau yang bisa memuaskan dahaga spiritual, dengan melihat maqbarah para wali, situs-situs sejarah dan kearifan lokal yang kental sekali dengan peradaban pesantren. Sayang, pulau ini tidak dilirik.

Tahun 1330-an, pada awal pemerintahan Pangeran Joharsari telah datang seorang muballigh yang berdakwah di Sumenep.  Beliau adalah seorang wali, adik dari Sunan Ampel yang bernama Sayyid Ali Murtadha atau dikenal Sunan Lembayung Fadhal (lihat Lintasan Sejarah Sumenep dan Astra Tinggi, 2011).

Konon, Sayyid Ali Murtadha berlayar ke arah timur dan mendarat di Pulau Sepudi. Di pulau itu, Sayyid mendirikan pedukuhan (pesantren) sebagai pusat belajar Islam. Sepudi diambil dari bahasa jawa yaitu, "sepuh dhewe" yang berarti "tua sekali", satu nama untuk mengabadikan bahwa Islam masuk pertama kali ke pulau ini. Maqbarah Sayyid ada di Asta nyamplong, meski ketika saya ziarah ke situ tak ada tulisan yang menjelaskan. Di situ saya hanya menemukan Asta pangeran Belingi, atau Sayyid Abdurrahman, putra dari Sayyid Ali Murtadha. Juga maqbarah pengeran Adi Podai, putra Pangeran Belingi

Tahun 1500, menurut Gus Dur dalam ceramahnya di Sumenep tahun 2003, ada namanya Ratu Putri, Ibu dari Jaka Tingkir, yang hijrah ke Sumenep. Beliau adalah pengikut tarekat Qadiriyah. Dan Sumenep, menurut Gus Dur waktu itu merupakan pusat tarekat Qadiriyah (lihat pengantar Gus Dur dalam buku Syekh Mutamakkin, Perlawanan Kultural Agama Rakyat, 2017).

Ringkasnya, Islam yang berkembang di Madura tak bisa dilepaskan dari jaringan ulama Nusantara, yang telah membentangkan Islam Ahlussunnah Waljamaah dengan karakternya yang khas, terutama menenun Islam dengan mozaik kebudayaan dimana Islam hadir. Tetapi pada saat bersamaan, dialektika Islam dan Kebudayaan itu menjadi spirit pembebasan seperti yang dipertontonkan oleh Pangeran Trunojoyo pada tahun 1670-an terhadap penguasa Mataram yang menjadi boneka kompeni, hasil Tronojoyo menimba dari Sunan Giri dan Kyai Kajoran.

Jadi, ketika musuh jelas karena mengangkangi umat Islam dan bangsa ini, agama berubah menjadi radikal. Bukan seperti saat ini, kelompok radikal yang hadir di Madura justru berkehendak "mengerdilkan" kekuatan-kekuatan ajaran Islam yang dihadirkan oleh wali dan kyai dahulu yang mampu meracik ajaran tauhid, fiqh, tasawwuf plus budaya lokal yang pas takarannya. Islam hanya ditampilkan aspek fikihnya saja, itu pun dengan caranya yang rigid dan kaku. Beda misalnya jika agama dijadikan basis perlawanan terhadap neoliberalisme di Madura, misalnya merespon isu agraria yang akhr-akhir ini penguasan lahan dan SDA  oleh pemodal demikian marak di Madura (bersambung).


Matorsakalangkong

[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar




Santri saat ini, apalagi yang sudah jadi masyarakat urban, akrab dengan cafe itu sudah biasa. Masyarakat urban yang sudah kehabisan ruang nyaman untuk sekedar ngobrol akhirnya memilih (salah satunya) cafe untuk bisa sekedar mengaktifkan habitusnya sebagai makhluk sosial. Tak terkecuali santri yang urbanized sudah biasa nongkrong di cafe. Apalagi habitus santri memang suka ngobrol, diskusi, debat dari soal yang paling sepele hingga berat. Jadilah cafe ruang nyaman untuk mendesain  obrolan sesukanya, ngobrol ke sana ke mari.

Di Sumenep, saat ini hadir cafe yang juga jadi tongkrongan para santri. Jika Anda masuk ke KancaKonaKopi Anda akan menemukan banyak orang di dalamnya dengan pakaian kebesaran, sarung dan songkok. Itulah salah satu ciri  santri. Sarung, songkok, kopi capucino, latte, pernak-pernik desain interior dan segala penanda kegaulan hadir melebur di cafe itu, seolah sebagai sebuah proklamasi bahwa para santri siap berkontestasi dalam medan pertarungan kebudayaan yang makin banal ini.

Tetapi bukan sekedar itu, cafe ini juga milik para santri. Tepatnya para alumni pesantren besar di Sumenep yang mulai serius menggarap bisnis dengan model koperasi, satu eksprementasi yang menurut saya sangat menarik. Modal membangun cafe ini diperoleh dengan menjual saham kepada kepada para alumni, harga /saham 50 ribu rupiah hingga kemudian terkumpul modal rarusan juta yang digunakan untuk mendirikan cafe.

Semua pengelola termasuk karyawan cafe ini adalah para santri. Pengelolaannya juga patuh pada logika bisnis dengan SOP yang ketat. Ini berbeda dengan kultur santri yang biasanya longgar, santai, dan apa adanya. Meski saya meyakini, managemen modern yang biasanya impersonal di tangan santri Insya Allah hadir termodifikasi lebih humanis.

Saya menyebutnya cafe ini merupakan perlawanan dari pinggir terhadap sistem ekonomi yang sangat neolib saat ini. Ekonomi atau bisnis yang hanya dikuasai pribadi dilawan dengan kepemilikan komunal. Ekonomi yang  mementingkan persaingan, dilawan dengan model "berbagi". Istilah saya, eksperimentasi bisnis santri ini merupakan satu sistem ekonomi yang dilandasi semangat, "kalau sejahtera, ya sejahtera bersama" atau "kalau kaya, ayo kaya bersama-sama". Menarik bukan?

Satu lagi, cafe di tangan santri bukan sekedar tempat nongkrong yang memanjakan hasrat lahiriah. KancaKonaKopi adalah ruang belajar, tempat bertemunya masa lalu, masa kini, dan masa depan. Tempat bertemunya antara tradisi dan yang kontemporer. Ruang untuk membangun peradaban yang berangkat dari tradisi sendiri, tradisi kesantrian. Maka, tagline yang diusung cafe ini, ", Ngopi, Ngaji, Berbagi".

Kita akan menunggu eksperimentasi cafe ini. Jika berhasil, maka pasti akan memberikan efek domino bagi munculnya bisnis-bisnis lain bagi para santri lain, yang berbisnis tidak atas dasar persaingan, tapi berbagi.

Cuma ya itu, harga kopi bagi saya yang isi kantong pas-pasan masih terlalu mahal. Harapan, nanti ada kopi dan snack yang sesuai dengan kantong para santri, yang kebanyakan memang anak rakyat, rakyat yang meski terhempas di republik ini, tapi tetap tak berniat membangun khilafah.

Selamat buat IAA...Selamat buat KancaKonaKopi dan sang Maestro di belakangnya.

Salam Ta'dzim

Pulau Garam l 30 Juni 2017
[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 10 komentar


Paska aksi 212, FPI sebagai motor aksi menyita perhatian umat Islam di Indonesia. Di media massa, apalagi di media sosial FPI nenjadi trending topik. Setiap hari nyaris tak ada pemberitaan  tanpa FPI. FPI sebagai motor aksi telah memunculkan banyak spekulasi yang mengakibatkan sikap pro-kontra.

Sayup-sayup FPI tiba juga di Madura. Kebetulan organ yang memfasilitasi di Madura sudah siap, yaitu AUMA (Aliansi Ulama Madura), sebuah ormas baru yang yang lumayan keras. Karena itu dengan mudah FPI tinggal dikloning. Setidaknya ini yang terjadi di Sumenep, meski di daerah lain seperti Bangkalan FPI jauh lebih dulu berdiri ketimbang AUMA.

Sebagai ormas baru AUMA, yang 2-3 tahun kemarin didirikan, sepertinya mau mengulang peran Bassra yang ketika pemerintah ORBA kritis kepada penguasa, terutama berkaitan dengan rencana pembangunan jembatan Suramadu, meski saya melihat perannya sangat beda. Di samping fokus isunya berbeda,  AUMA sepertinya memliki jaringan kuat dengan ormas senafas di Jakarta, makanya setali tiga uang dengan FPI, bahkan dalam kasus Sumenep tokoh AUMA terlibat menfasilitasi berdirinya FPI. Ini berbeda dengan Bassra yang fokus pada isu lokal.

Bagi saya kehadiran ormas apapun sah didirikan. Selama dibutuhkan dan bisa memperkuat cita kemerdekaan dan bisa diharapkan menjadi corong Islam rahmatal lil alamin tak jadi masalah. Cuma ketika kehadirannya mengusik NU dan warga Nahdiyin serta visi kebangsaanm maka penting ormas baru ini disikapi. Tulisan ini hanya  hendak merespon usikan terhadap NU tersebut.

Setidaknya dalam usaha merekrut massa, ada tiga isu yang sengaja diwacanakan FPI dalam pertemuan-pertemuan umum yang mengusik NU. Tiga isu ini penting direspon agar tidak menimbulkan kesalahpahaman terutama kepada warga nahdliyin.

Pertama soal isu bahwa petinggi FPI di Madura (setidaknya kasus di  Sumenep ) selalu mengatakan dalam ceramahnya, "saya ini ikut NU-nya kyai Hasyim Asy'ari, NU "se kona" (yang dulu)". Mafhum mukhalafahnya, sama NU sekarang kurang mengakui.

Bagi saya pernyataan seperti itu patut direnungkan. Pertanyaannya, bagaimana mau ikut KH. Hasyim pada hal tidak sezaman? Dari mana kita bisa meyakini bahwa NU kita sama dengan kyai Hasyim? Barangkali bisa dijawab bahwa pengikut FPI berpegangan terhadap kitab peninggalan kyai Hasyim. Tapi kalau pun mengacu kepada kitab kyai Hasyim, bukankah kita tidak bisa sepenuhnya mengatakan bahwa penafsiran atas teks kitab kyai Hasyim  sama dengan kehendak kyai Hasyim?

Dengan kasus beda, hal ini mirip dengan kelompok Islam yang mengatakan ikut Nabi dengan berpegangan kepada Alqur'an dan Hadis sambil nenolak ijma' dan qiyas. Dalam tradisi NU cara beragama seperti ini kurang bisa dipertanggungjawabkan karena tanpa sanad yang jelas.

Sama dengan berNU, kalau mengikuti NUnya kyai Hasyim dengan menolak NU sekarang berarti NUnya kurang bisa dipertanggungjawabkan karena tanpa sanad yang jelas. Pada hal sanad inilah yang menbedakan NU dengan kelompok lain.

Di samping sanad keilmuan, di NU juga dikenal sanad perjuangan. Secara kelembagaan, tentu saja sanad ini tak bisa diperoleh dengan meloncat ke masa kyai Hasyim tetapi bisa kita peroleh melalui sanad yang sudah terlembagakan melalui pesantren sekaligus NU dari masa ke masa hingga sekarang. Jadi, sanad ibarat mata rantai tak bisa digunting, tak bisa diputus.

Saya faham, sikap seperti di atas salah satunya dipicu oleh sikap dislike sebagian tokoh NU terhadap kyai Said Aqil. Kebetulan ada skenario besar yang terus-menerus mengeroyok kyai Said dengan informasi hoax sejak isu liberal, syiah, Ahoker, dsb yang sayangnya tanpa bertabayyun langsung dianggap sebagai kebenaran oleh sebagian warga NU yang nyeberang ke FPI.

Tetapi jika tidak suka ketua umum PBNU tak perlu menyerang NU. Apalagi sampai nyeberang ke organisasi lain. Apalagi lepas suka atau tidak kyai Said terpilih dalam muktamar NU, ini hasil ijma' pengurus NU se Nusantara, Jika beliau dianggap salah sekalipun, ada mekanisme organisasi yang mengatur bagaimana masalah ini bisa diselesaikan. Bukan malah gabung ke organisasi lain sambil terus memojokkan NU apalagi hanya untuk merebut hati warga NU.

Dalam konteks inilah pernyataan bahwa " saya pengikut NUnya kyai Hasyim" tidak ada dasarnya dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Bagaimana mungkin bilang pengikut  NU kyai Hasyim, sementara pada saat bersamaan justru memojokkan jamiyah yang beliau dirikan?

Isu kedua yang sering dinyatakan pendukung FPI adalah, "amar ma'ruf ikut NU, nahy munkarnya ikut FPI". Pernyataan ini seolah hendak menegaskan bahwa NU lembek, tidak tegas dan adem. Sementara FPI sebaliknya;  tegas, lantang, dan berani.

Tapi ijinkan saya menjelaskan bahwa NU dalam menjalankan dakwahnya memiliki jalan dan cara sendiri, dan tentu saja NU tak perlu mengikuti jalan dan cara ormas lain. Jalan dan cara NU ini merupakan hasil dari endapan proses panjang yang sudah ditempuh sejak walisongo. Hasilnya bisa kita rasakan hingga sekarang.

Setidaknya ada tiga ciri dakwah NU. Pertama, tadriji dimana dakwah ditempatkan dalam proses panjang, tidak buru - buru, perlahan dan bertahap. Kedua, taklitut taklif yaitu tidak memberatkan masyarakat atau tidak memaksa. Ketiga, 'adamul haraj yaitu tidak mengancam siapapun. Makanya dakwah wali songo yang menjadi sanad biologis NU selalu menempuh jalur kultural, sehingga dakwahnya berhasil, ibarat menangkap ikan, ikannya ditangkap tanpa mengeruhkan airnya.

Kedua,  amar ma'ruf nahi munkar ibarat 2 sisi mata uang yang tak bisa dipisah. Ketika NU lebih mengedepankan amar ma'ruf sebenarnya include di dalamnya juga ada nahi munkar. Jika secara gradual mengajak orang agar shalat, hakikatnya mengajak orang itu agar tidak meninggalkan shalat. Tentu sesuai langgam dakwah NU, ajakan agar shalat dilakukan dengan lembut sebagaimana prinsip di atas. Dalam konteks ini, fiqhul ahkam dimodifikasi secara cerdas menjadi fiqhuddakwah dan fiqhussiyasi.

Sekali lagi NU memiliki jalan sendiri yang sering disebut "alaa thariqati Nahdlatil  Ulama". Jika tidak sama dengan ormas lain ya wajar. Nah, kalau ada orang NU mencampur aduk strategi dakwah NU dengan ormas lain menurut  saya  tidak tepat.

Isu ketiga yang sering saya dengar  dihembuskan oleh pengikit FPI bahwa, " yang penting aswaja, meski tidak ikut NU". Pernyataan seperti di samping lemah, juga berbahaya.  Persis seperti semboyan anak muda, "spirituality yes religion no" atau "spiritualitas yes, agama no".

Kesalahan pertama menurut saya, pernyataan di atas ibarat seorang salik mau menggapai hakikat dan ma'rifat dengan melampaui syariat. Ia hanya butuh roh tanpa butuh jasad. Tentu dalam konteks Indonesia, apalagi pernyataan ini sengaja dihembuskan di lingkungan warga nahdliyin tentu sangat berbahaya.

Kesalahan kedua, beraswaja dan berNU bagi warga nahdliyyin mutlak diperlukan. Karena aswaja tanpa ada organisasi yang menopangnya akan mudah dihancurkan. Ingat aswaja di timur tengah dengan mudah bisa dipecah belah oleh kelompok lain karena tidak ada wadahnya.

NU dibangun oleh para kyai dulu dalam rangka "litauhidi shufufil ulama", menyatukan shaf para ulama dalam meneguhkan dan memperjuangkan aswaja sekaligus melawan para penjajah. Maka jika ada pengikut aswaja tidak berNU hakikatnya ia tidak mau merapat dalam barisan ulama. Dan saya meyakini mereka akan mudah menjadi santapan kelompok lain yang bahkan tidak senafas dengan aswaja, misalnya salafi-wahabi atau HTI.

Mari rapatkan lagi barisan pengikut dan pendukung aswaja. Agar kuat masuklah kembali dalam barisan, beraswaja dan berNU. Jika ada yang tidak cocok baiknya tabayyun dan bermusyawarah. Bukan malah menyeberang ke organisasi lain sambil memojokkan NU. Kalau misalnya tetap tidak mau berNU, jangan mengajak warga nahdliyin sambil menyebar berita tidak benar dan atau memprovokasi dengan alasan-alasan yang bisa menimbulkan pertentangan di masyarakat.

Mari, stop menjadi setengah nahdliyyin.

Madura, 14 ramadlan 1438 H

ADZ

[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar

teronggosong.com
Parman tampak sedang membongkar lemari kitabnya. Hampir semua kitab dibuka, lembar demi lembar dipelototinya. Setiap kitab selesai dibuka, ia menarik nafas dalam-dalam. Dari wajahnya muncul gurat kekecewaan. Sudah ratusan kitab dibukanya, yang dicarinya tak juga ketemu.

Di hadapannya tinggal satu kitab lagi, Ta'lim Muta'allim. Satu kitab yang mengajarkan etika bagi pencari ilmu, kitab wajib wabil khusus bagi kaum santri.  Dari kitab inilah ia mengenal bagaimana seharusnya  seorang santri menghormat dan memuliakan guru.

Diraihnya kitab itu. Tiba-tiba air matanya meleleh. Dengan sangat emosional, diciuminya kitab itu sambil berusaha menghadirkan wajah guru di hadapannya. Guru lahir bathin baginya yang tepat setahun lalu wafat. Suasana makin emosional. Tangis pun pecah.

Dibukalah kitab yang sudah mulai lusuh itu. Sekali buka, tepat pada halaman yang terganjal sebuah foto. Dengan suara berbisik ia berkata, "Alhamdulillah, tuntas sudah. Ini yang aku cari".  Rupanya parman selama berjam-jam membongkar lemari kitab dan lembar demi lembar membukanya, hanya untuk mencari foto gurunya. Foto kyainya.

Ia pandangi foto gurunya. Foto itu seakan bercerita. Memutar kembali ingatannya 5 tahun lalu saat ia pamit untuk kembali ke kampung halamannya. Pesan terakhir yang beliau sampaikan sangat singkat, "pulanglah, sampaikan ilmumu secara arif kepada masyarakat di desamu".

Mengingat pesan gurunya, parman kembali menangis. Dengan suara lirih ia berbisik, "maafkan kami guru". Ya, parman merasa bersalah karena bukan-bulan terakhir ini ia justru mencampakkan guru sejatinya. Ia malah terhipnotis sama ajakan kawannya untuk mengidolakan "guru" jauh. Guru yang tak pernah ia bersila untuk mengaji di hadapannya. Kecuali ia tonton di TV atau di video android milik temannya.

Setiap parman mendengar ceramah "guru jauh" seolah ia terkesiap. Takjub. Terpana. Teriakan takbir serta semangat keislaman yang menyala-nyala mampu menggelorakan semangat keberagamaannya. "Ini baru Islam", batinnya.

Karena terpukau, Parman pun berangkat ke kota untuk ikut aksi 433. Ia memaknai aksi sebagai jihad, membela agama. Di lokasi aksi, darah mudanya makin bergelegak. Jutaan peserta aksi yang berkumpul telah memindahkan cara pikir bahkan ideologi, dan menghapus hampir seluruh tradisi keilmuan yang ia peroleh di pesantren. Ia pun sering meniru ucapan sang "guru jauh" itu, Takbirrr.

Selepas ikut aksi, parman makin intens terlibat mendirikan organ dari jauh itu. Bahkan parman rela merogoh kocek sendiri membuat banner dengan foto-foto "Guru Jauh" dan kemudian dipancang depan masjid dekat rumahnya.

Saat semangat jihadnya memuncak, tak disangka ia bertemu teman pondok ketika sama-sama di pesantren dulu. Sahabatnya itu membuka kenangan parman terhadap sosok guru di pesantrennya yang dengan arif mendidik parman. Bahkan sang guru tak jarang memberi parman makan dan uang untuk biaya pendidikannya di pondok, di saat orang tua parman angkat tangan tak mampu mengirim biaya.

Parman terkesiap. Wajah gurunya selalu menghantuinya. Seolah gurunya rindu sama parman, meski hidup di tempat yang berbeda. Sejak itu parman mulai mengambil jarak dengan guru jauhnya. Sebagai gantinya, foto gurunya yang dicarinya selama berjam-jam itu diperbesar ke studio foto dan kemudian dibungkus pigura cantik. Foto itu dipasang di tembok di serambi rumahnya.

Baru selesai memasang foto gurunya, tiba-tiba terdengar suara riuh depan rumahnya. "Keluar....Keluar.....", terdengar suara tak bersahabat. Parman pun keluar rumah. Ia pandangi orang yang datang tak diundang ke rumahnya. Jumlahnya tak lebih 15 orang, hanya 0,2 % dari penduduk desanya. Tapi suara kerasnya seakan mengalahkan suara semua penduduk desa.

 "Siapa yang menurunkan baliho guru kami", tanya seseorang di antara mereka dengan garangnya. "Kami dengar kabar, kamulah yang menurunkan? Bagaimana mungkin?"

"Ya, saya", kata parman. Kemudian ia ambil foto guru yang baru digantungnya. "Saya punya guru sejati, jadi tak perlu kalian usik lagi," dengan bangga memamerkan foto gurunya. "Dan ini ambil banner yang saya turunkan, tapi tolong jangan dipancang di desa ini", kata parman sambil menyerahkan bungkus plastik kresek berisi banner.

Parman malangkah memasuki rumah. Baru saja melangkah, tiba-tiba sebuah benda melayang  mengenai tengkuknya. Parman tersungkur. Pingsan.

Matorsakalangkong
1.04.2017

[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 4 komentar




Pagi itu, kekhawatiran datang menyeruak. Pikiran was-was, “apa iya banyak yang datang?” Itulah pertanyaan yang selalu berkecamuk menjelang Rajabiyah dan Harlah NU yang ke-90 yang diadakan PCNU Sumenep di Graha Zanzibar (7/7/13). Graha ini berkapasitas 8 ribu kursi. Jika lesehan bisa lebih 10 ribuan.

Malamnya sehabis mempersiapkan banner besar yang menjadi background di panggung utama –tempat para kiai duduk—saya ngobrol bersama teman-teman panitia. Semuanya merasa khawatir. Khawatir kalau-kalau warga NU yang datang hanya segelintir orang. Seorang teman bahkan bilang, “harlah ini semacam test case, apa NU masih kuat atau tidak di Sumenep. Jika yang datang sedikit, pertanda alarm bagi NU.

Selesai mempersiapkan tempat hingga jam 21.00, saya dan beberapa orang panitia makan di sebuah warung sederhana. Sebagian masih di Graha Zansibar mempersiapkan tenda-tenda di luar Graha, karena khawatir yang datang membeludak. Ya, kami memiliki dua kekhawatiran. Khawatir kalau yang datang sedikit dan khawatir yang datang justru menyemut. Tetapi kekhawatiran yang kuat justru yang pertama.

Setelah perut kenyang kami menuju kantor NU. Di sana saya tidur sambil menunggu pagi, hari dimana Harlah akan dimulai. Niatnya pukul 22.00 saya sudah bisa tidur. Tapi dasar doyan ngobrol, baru jam 00.30 saya baru bisa merebahkan diri. Karena kecapek-an, subuh pun hampir terlipat.

Pukul 07.30 WIB setelah sarapan pagi dan minum kopi, saya sendirian bergerak ke Graha Zansibar. Perasaan khawatir kembali berkecamuk. Di sana saya bertemu dengan beberapa panitia yang sudah hadir duluan. Sebagian warga nahdliyin juga sudah ada yang hadir. Saya tak bisa menghitung, meski jumlahnya saya taksir hanya ratusan orang. Kekhawatiran kembali menyergap. Bagaimana Graha Zansibar yang kapasitasnya 10 ribuan orang hanya dihadiri 500 orang? “Ah…ini kan masih pagi?,” gumam saya dalam hati menenangkan diri.

Waktu terus beranjak. Matahari makin bergerak naik dengan pemandangan langit yang cerah, pertanda hujan tidak akan turun, sesuatu yang menjadi kekhawatiran lainnya. Ketika jam menunjuk pukul 08.30 barisan warga NU sudah mulai terasa. Warga NU yang mayoritas orang-orang desa itu sudah mulai menyemut memasuki Graha Zanzibar. Mereka datang dengan mobil pribadi, motor, dan yang banyak naik mobil pick up dengan bak terbuka. Di dalam ruangan, Shalawat Banjaran secara live menyambut warga NU.

Semakin siang, warga NU semakin mengalir. Kami yang berada dalam ruangan sudah mulai optimis. Kekhawatiran pelan-pelan sirna. Ruangan yang berkapasitas puluhan ribu penuh sesak oleh lautan manusia. Tak ada kursi. Semua duduk lesehan.  Di sisi kiri diduduki oleh perempuan, dan di sisi kanan ditempati oleh laki-laki. Ditengah dibatasi oleh karpet berwarna biru sebagai batas tempat duduk laki-laki dan perempuan. Karpet itu juga dihampar untuk lalu lintas para kiai ke panggung utama. 

Dan..saya melihat panitia bergairah. Wajah lesu karena berhari-hari sebelumnya mempersiapkan Harlah tak nampak. Mereka tersenyum.
Warga NU yang menyemut –bahkan di dalam ruangan tidak muat—meluber hingga ke luar Graha. Di luar ruangan, panitia memang menyediakan tenda-tenda –bahasa Madura terop—yang disediakan kalau-kalau di dalam ruangan tidak menampung warga NU yang hadir. Panitia berbeda soal banyaknya warga NU yang hadir mulai sejak 10 ribu hingga 12 ribu. Bahkan pihak Zanzibar menaksir yang hadir mencapai 15 ribu

Saya juga terpukau dengan banyaknya warga NU yang hadir. Sejak masa reformasi belum pernah saya menyaksikan lautan manusia sebanyak ini.  Bagi saya tumpukan manusia yang datang dari segala penjuru Sumenep benar-benar menakjubkan. Tanpa menampik kerja keras yang dilakukan panitia, saya meyakini ada campur tangan Gusti Allah sehingga warga NU tergerak hadir dalam Harlah NU yang tidak menyediakan uang saku dan konsumsi ini.

Dalam Harlah ini, suasanya sejuk. Setelah istighasah, dilanjutkan dengan taushiyah dari para kiai. Intinya,  Para kiai hanya berpesan, “mari jaga ASWAJA dan NKRI.” Harlah berlangsung sejak pukul 09.00 WIB hingga pukul 12.30. Setelah itu, warga NU kembali lagi ke rumahnya membangun imagi tentang ke-NU-an dan Ke-Indonesia-an.

Lautan warga NU yang hadir dalam Harlah ini menjadi penanda bahwa Madura dan NU tak bisa dipisahkan. NU ibarat garam yang mengasini seluruh ceruk kebudayaan orang Madura. Fakta ini juga bukti bahwa NU Madura masih kuat dan besar meski kelompok-kelompok wahabi sudah mulai berteriak di sini. 

Tentu besarnya warga Nahdliyin tak perlu menjadikan kita terlena. Mereka butuh sapaan dan kerja riil dari (pengurus) NU. Tetapi jika kekuatan yang besar bisa terkonsolidasikan dengan baik, wajah NU di Madura akan kian manis. Tidak sekedar dalam hitungan jumlah, tetapi dalam amal nyata. Semoga.





Matorsakalangkong
Pulau Garam | 11 Juli 2013


Foto: Abdurrahman
[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 1 komentar

dok.pribadi


“Alayka –l-harakah, wa-alallahi –l-barakah [Hendaklah kamu bergerak, dan tanggungan Allah-lah untuk memberikanmu keberkahan]”
dikutip dari buku Ahmad Baso,2012

Beruntung saya membaca buku Pesantren Studies karya Ahmad Baso, seorang penulis yang tekun menggali khazanah Pesantren sebagai formasi pengetahuan yang diposisikan secara vis-à-vis terhadap rezim pengetahuan global. Saya menemukan bab khusus yang mengulas santri kelana [mustami’] Madura sebagai actor dan jaringan informasi pesantren se-NUsantara ketika melawan kolonialisme. Saya mendasarkan sepenuhnya tulisan berikut pada buku Baso tersebut [lihat Pesantren Studies 2a, Buku II: Kosmopolitanisme Peradaban santri di Masa Kolonial, Pustaka Afid Jakarta, hal. 191-222]. 

Ijinkan sebelumnya saya memberi sedikit gambaran tentang santri kelana. Santri kelana adalah sebutan kepada santri [dahulu] yang haus ilmu, mobile, dan pindah sebagai pengembara ilmu dari satu kiai/pesantren ke kiai/pesantren lain. Santri di sini bisa dalam arti ‘formal’ atau sekedar menjadi santri mustami’, santri yang “cukup” bermodal sebagai pendengar ajian atau dhabu kiai, dan akhirnya menjadi pengikut kiai. 

Dalam buku ini ada fakta yang mencengangkan. Ternyata santri kelana banyak dilakukan santri Madura. Ada bukti pada abad 19, santri Madura sangat sering memanfaatkan tehnologi kereta api, yang baru pertama kali dibuka di Jawa, untuk tujuan-tujuan –istilah Baso—kesantrian dan membangun peradaban.

Dibukanya transportasi kereta api ini dimanfaatkan dengan baik oleh santri Madura untuk berkelana dan mengembara melipatgandakan pengetahuan [utamanya ilmu-ilmu keagamaan] dari kiai/pesantren ke kiai/pesntren lain di satu sisi, serta mengumpulkan data dan informasi dari berbagai kalangan dan profesi [dari kiai sendiri, pedagang, pelaku seni, peziarah, hingga orang-orang Belanda] tentang kondisi di penjuru NUsantara yang saat itu dicengkeram kolonialisme.

Pengetahuan, informasi dan data itu kemudian diolah oleh santri kelana Madura dan didistribusikan kembali kepada para kiai/pesantren se-NUsantara. Peran santri kelana Madura sebagai actor informan dan jejaring informasi makin menguatkan imagi kebangsan para kiai/pesantren se-NUsantara, sebagai kumonitas yang senasib di bawah cengkeraman kolonialisme. Dari pengetahuan, data, dan informasi itulah formasi social dibangun sebagai wacana dan gerakan tandingan terhadap formasi pengetahuan dan formasi social yang dibangun pihak colonial.

Dari sini juga kemudian muncul perlawanan, pergolakan, dan “kerusuhan” yang diinisiasi para kiai dan para santri kelana sebagai upaya pembebasan NUsntara dari tangan pihak colonial. Keterlibatan santri kelana Madura dalam perang Diponogoro yang hebat itu misalnya, hanya sekedar contoh bagaimana santri kelana Madura bahkan tidak sekedar menjadi actor informan tetapi juga turun ke medan laga. 

Makin mencengangkan juga ternyata Madura selama abad 18 dan 19 menjadi kiblat pendidikan dan peradaban bangsa. Sebagai pusat pengetahuan, data, dan informasi tentu saja menjadikan Madura sebagai tujuan penting dari santri kelana daerah lain di Nusantara. Tidak itu saja, Madura menjadi tujuan para ulama Negeri Hadramaut [Yaman] untuk mengajar seperti Sayid Syekh bin Ahmad Bafaqih yang sempat mengajar Bahasa Arab di Sumenep, dimana Panembahan Natakusuma atau Panembahan Sumenep menjadi muridnya.

Juga Raffles harus datang ke Madura untuk memburu data bagi kepentingan bukunya, The History of Java. Bahkan Snouck Hurgronje, orientalis dan penasehat penjajah Belanda itu, berniat datang ke Madura meski akhirnya tidak kesampaian. Jika tidak ada “gula”, buat apa orang luar datang ke Madura?  

Dan jangan lupa, di abad 19 hadir Embah Chalil Bangkalan yang alim dan karamah ramai dikunjungi para santri atau mustami’, dan di kemudian hari melahirkan para kiai-kiai besar yang menjadi actor penting dalam menentang koloniaisme. Melalui restunya juga, NU lahir. Kelahiran NU tak bisa dilepaskan dari sosok santri kelana yang berfungsi sebagai informan [baca, kon-pakon] Embah Chalil dengan Embah Hasyim Asy’ari yaitu, KH As’ad Syamsul Arifin.

Ternyata Antropolog dan Sosiolog memandang Madura sebagai daerah terisolir –dan karena itu tak [akan] mampu mencipta peradaban besar— kecele. Justru dalam serba kegersangan dan kesulitan dijadikan peluang oleh santri kelana Madura untuk mengembara mencari pengetahuan dan menghimpun data dan informasi yang di kemudian hari menjadi formasi pengetahuan sekaligus formasi social baru vis-à-vis colonial[isme]. Satu siasat cerdas yang penting kita refleksikan, di saat santri kini akrab dengan jejaring social serta hadirnya jembatan Suramadu. Semoga.

Matorsakalangkong
Pulau Garam | 20 Pebruari 2012   
[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 4 komentar

blog.ugm.ac.id
Siang hari (19/8) sehabis shalat jumat, ada tetangga yang mencari saya. Kebetulan ketika itu saya tertidur di mushalla di rumah ibu. Tetangga bilang, di rumah saya ada tamu yang sudah lama menunggu. Saya pun bergegas pulang ke rumah sambil menebak-nebak siapakah tamu saya itu. Siang hari di bulan puasa tak seperti biasanya ada tamu.

Tiba di rumah saya melihat seorang bapak kira-kira berumur 50 tahun sedang menunggu. Seorang bapak yang tidak saya kenal sebelumnya. Pakaiannya sangat sederhana. Ia berdiri dekat sepeda ontel tua miliknya. Saya belum bisa menebak berapa kilo meter  bapak itu mengayuh sepeda ontel miliknya ke rumah saya.

Saya langsung menuju bapak di dekat sepeda ontelnya. Saya pun bersalaman.

“bapak dari mana?”

“Dekat… dari desa Andulang,”  jawabnya.  Ah ternyata dekat, desa ini terletak hanya dua desa ke arah timur desa saya . jaraknya kira-kira hanya 3-4 km.

Bapak itu kemudian menjelaskan maksud kedatangannya. Ia bercerita tentang anaknya yang baru kelas X MA di madrasah kami. Ia menjelaskan bahwa ia tidak mampu untuk melanjutkan pendidikan anaknya. Kepada anaknya sebenarnya ia sudah bilang, tak perlu melanjutkan sekolah. Tapi anaknya bersikukuh untuk terus sekolah.

“Karena itu, bisa tidak jika madrasah menanggung pembeayaan anak saya”, pintanya.

Di madrasah tempat kami mengabdi, siswa memang tidak dipungut SPP, karena sudah ditanggung APBD. Besarnya persiswa 45.000/bulan. Tidak besar memang. Tetapi sudah menjadi komitmen anggaran sebesar itu harus cukup. karena siswa di madrasah kami mayoritas anak dari kelarga tidak mampu. Bahkan dengan jumlah SPP sebesar itu, madrasah masih mampu mensubsidi seragam siswa.

Sementara bagi siswa yang betul-betul tidak mampu, buku paket disubsidi dari anggaran BKSM (bantuan keuangan untuk siswa miskin) yang kami peroleh dari APBD propinsi Jawa Timur. Ketika pelaksaan MOS saya memang bilang sama siswa kelas X, “meski Anda berasal dari keluarga tidak mampu, jangan menyerah. Ayo kita bangun mimpi dari madrasah ini. Jika Anda kesulitan misalnya membeli buku paket atau apapun yang menyangkut sarana belajar, jangan sungkan-sungkan menghubungi pihak madrasah. Anda tetap memiliki hak untuk bersekolah”, kata saya mencoba menyemangati  mereka.
Rupanya anak bapak ini ingat sama ucapan saya. Makanya ia “menyuruh”  bapaknya menemui saya untuk menagih janji.

“Baiklah bapak, madrasah siap menjamin seluruh beaya pendidikan bapak. Saya justru senang bapak sudah datang ke sini berkomunikasi langsung dengan kami untuk bisa mencari jalan keluar,” kata saya meyakinkan. Saya melihat wajahnya memancarkan kebahagiaan. Setidaknya, ia mulai saat ini tidak lagi meminta anaknya untuk berhenti sekolah karena tidak ada beaya.

“Tapi saya minta komitmen bapak”, tambah saya. “bapak perlu mendorong anak bapak paling tidak dalam tiga hal, (1) jangan pernah bolos (2)dorong untuk terus belajar (ini akan dilihat prestasi belajarnya) (3)kontrol pergaulannya. Bahkan saya nanti akan berkomunikasi dengan anak bapak untuk menyepakati komitmen ini. Bagaimana?,” Tanya saya.

“saya sepakat”, katanya mantap.

Akhirnya selama 1 jam saya terlibat diskusi menarik dengan bapak menyangkut pola kepengasuhan anak. Karena saya tahu, di desa bapak ini lingkungannya mulai kurang ramah terhadap pelajar/anak muda, karena banyak anak muda yang sudah mulai mabuk dan terjebak pada obat terlarang.

Kehadiran bapak ini mengingatkan kembali ingatan saya pada almarhum pendiri pesantren dimana madrasah kami bernaung, “Pesantren ini milik rakyat. Karena itu beaya masuk pesantren dan madrasah yang dikelola pesantren ini harus disesuaikan dengan kemampuan rakyat”, ucap beliau ketika masih hidup.  Dan

Alhamdulillah, dawuh beliau hingga detik ini masih menjadi roh dalam menjalankan proses pendidikan di pesantren yang siswanya mulai dari PAUD, TK, MI, MTs, dan MA sudah lebih 1.000 siswa.

Nah, siapa bilang orang miskin dilarang sekolah?

Matorsakalangkong
Sumenep, 20 Agustus 2011
[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar

google.com
Sejak MI (setingkat SD) hingga Aliyah (setingkat SMA) saya sekolah di madrasah swasta yang dikelola oleh sebuah pesantren di desa saya.  Karena rumah saya dekat dengan pesantren, saya tidak menetap di asrama. Saya pulang pergi yang diistilahkan dalam tradisi Madura sebagai “santri cologhan”. Meski pulang pergi,  waktu saya sehari-hari  banyak dihabiskan bersama santri yang menetap.

Perjumpaan dengan Nasionalisme  
Pada awalnya, sebagaimana anak kecil lain di belahan Indonesia, perjumpaan saya dengan nasionalisme bersifat simbolik. Keharusan mengikuti upacara bendera menjadikan saya kenal sama “sang merah putih”. Bahkan setiap upaca saya harus menghormatinya.  Seiring dengan usia saya di MI, di kelas 4,5,6 saya bertemu dengan guru yang selalu bercerita tentang pejuang-pejuang Indonesia dalam merebut kemerdekaan. Imagi saya seakan dibawa dalam situasi perang melawan kolonialisme, dimana pejuang kita hanya bersenjatakan bambu runcing . Ya bambu runcing begitu menyihir saya. Bambu runcing  ibarat kata magis yang membuat saya selalu merasakan kehebatan pejuang kita melawan penjajah.
 
Ketika di MTs saya diharuskan mengikuti  pelajaran baris-berbaris (PBB). Tak tanggung-tanggung pelatihnya seorang TNI (dulu ABRI) dari koramil di kecamatan saya. Mendengar nama ABRI saja waktu itu kulit saya merinding. Namanya pak Nijan. Sebagaimana ummnya tentara, pak nijan orangnya keras, disiplin, suka bentak-bentak kalau ada yang salah. Pernah teman saya dimarahi habis-habisan karena duianggap “suka tertawa”. Pada hal teman saya ini meski mengkem, tetap saja seperti orang tertawa, karena memang (maaf) “gino” (giginya nongol). 
 
Perjumpaan saya dengan nasionalisme semakin merasuk ketika guru-guru saya sering menyitir sebuah Hadits, “cinta tanah air adalah sebagai bagian dari Iman”.  Hadis ini memberikan landasan teologis sehingga nasionalisme saya sebagai seorang santri semakin kuat menancap dalam batin.  Apalagi dalam buku sejarah termaktub kisah-kisah heroic para ulama pesantren di era kolonialiseme yang gagah melawan penjajah. Sebut saja diantaranya KH. Hasyim Asy’ari yang mengeluarkan fatwa jihad yang menyulut arek-arek Surabaya dalam peristiwa 10 november 1945 melawan tentara sekutu.
 
Ketika di bangku Madrasah Aliyah yang mengajar pendidikan moral pancasila (PMP) seorang guru lulusan FISIP yang luas pengetahuannya. Ia sering bercerita tentang tokoh-tokoh nasional semisal Soekarno-Hatta. Beberapa tahun kemudian, ia mengundurkan diri menjadi guru. Ia beralih profesi sebagai wartawan Kompas. Namanya, Mohammad Bakir.
 
Perjumpaan dengan “yang lain” 
Dulu hidup di Sumenep, kabupaten di ujung timur pulau Madura, menjadikan saya kurang memiliki pengalaman berinteraksi dengan orang yang berbeda etnis,suku, maupun agama. Meski begitu saya masih beruntung karena saya masih bisa berkomunikasi dengan beberapa keluarga etnis tiongha –kira-kira ada 8 KK—yang hidup di kampung saya. Itulah satu-satunya pengalaman berharga saya bergaul dengan orang yang berbeda.  Sering juga  saya bermain di dekat rumah orang tiongha. Apalagi orang tiongha rata-rata buka toko untuk kebutuhan sehari-hari.
 
Meski penduduk local tidak pernah punya pengalaman konflik dengan orang tiongha, tapi stereotype terhadap warga keturunan ini tertancap kuat dalam benak penduduk local.  Misalnya, mereka dibilang “menjajah” ekonomi penduduk local, karena itu ada orang yang mengajak agar tidak beli di toko milik mereka. Tetapi secara umum, pergaulan social antara penduduk local dan keturuanan tiongha terjalin dengan baik. Di sinilah saya ikut mengalami pluralisme dipraktekkan dalam hidup saya. Meski saya melihat orang tiongha memang relative tertutup.
 
Khilaf Sesaat 
Selesai menamatkan Madrasah Aliyah di pesantren, saya belajar di IAIN Syarif Hidayatullah, Ciputat. Baru setahun di Ciputat, tepatnya tahun 1991) Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) lahir. Sebagaimana muslim lainnya, saya waktu itu juga larut dalam kegembiraan menyambut organisasi yang bisa menjadi saluran aspirasi umat Islam. Tetapi saya kaget, tokoh yang saya kagumi, Gus Dur, justru menentangnya. Ia bilang ICMI organisasi sectarian.
Ketika itu, saya sempat menulis surat pembaca di harian pelita, mengkritik sikap Gus Dur yang justru melawan arus itu. Maklum meski sejak di bangku Madrasah Aliyah, saya sudah membaca tulisan-tulisan Gus Dur di majalah prisma hasil pinjam sama kakak, ternyata  pikiran Gus Dur terlalu rumit buat saya.
 
Ditambah lagi lingkungan Ciputat yang sangat “Islam modernis” dan butanya saya terhadap konsfigurasi kekuatan politik nasional, menambah saya jahlun murakkab alias bego bertingkat-tingkat. Saya sangat terpesona terhadap lahirnya ICMI ketika  itu sebagai representasi kebangkitan Islam, agama mayoritas di negeri ini. Tanpa pernah berpikir bahwa “I” dalam huruf terahir ICMI adalah Islam Modernis.
 
Dua tahun kemudian pemahaman saya terbuka. Penolakan Gus Dur terhadap ICMI yang dilabeli sektarian pertama-tama harus dipahami sebagai konsistensi Gus Dur membela NKRI.
Kedua, representasi Islam (ketika itu memang getol memperjuangkan politik representasi) tidak ada sangkut pautnya dengan Islam tradisi(onal) tempat saya menambatkan referensi keagamaan dan kebudayaan saya. Dengan demikian, politik representasi sebenarnya berkehendak untuk menyingkirkan the others.
 
Ketiga, ICMI ketika itu lahir sebagai hasil dari perubahan konstelasi politik orba (baca: soeharto) setelah kubu militer tidak diyakini lagi mampu menjadi penopang kekuasaannya. Pembacaan saya yang agak lengkap tentang perubahan konstelasi politik nasional itu saya pelajari dari Gus Dur, orang yang  justru saya “salah pahami”. Akhirnya, melalui Gus Dur saya semakin paham apa artinya menjadi Indonesia. Saya juga semakin mengerti arti membangun persaudaraan dengan yang lain, sesama anak bangsa, tanpa perlu ada diskriminasi.
 
Di Kampung yang Tidak Lagi Tenang 
Sehabis kuliah, 1997, saya kembali ke kampung. Saat ini saya mengabdikan diri di pesantren tempat saya dulu sekolah.  Perjalanan saya sejak dulu sekolah di pesantren, hingga kuliah, dan sekarang kembali ke pesantren ibarat perjalanan keiindonesiaan saya. Saya menuntaskan diri dalam sebuah episode yang manis dan happy ending: NKRI sudah final.
 
Tidak cukup itu, saya juga berkewajiban menyampaikan keyakinan saya tentang NKRI FINAL yang sebagian besar justru saya timba dari orang-orang pesantren. Saya juga tanamkan kecintaan terhadap Indonesia kepada murid-murid saya. Tentu dengan bahasa orang-orang pesantren.
 
Tetapi akhir-akhir ini, daerah saya mulai tidak tenang. Ada beberapa organisasi radikal yang mengkampanyekan perlunya mendirikan Negara Islam. Meski mayoritas di daerah saya tidak tertarik dengan isu ini, tetapi sudah ada yang ikut. Ketika ada teman yang mengajak saya untuk berjihad mengkampanyekan Islam yang rahmatal lil alamien, Islam yang ramah budaya dan tradisi, saya pun bergabung. Meski apa yang saya lakukan bersama teman-teman sangat kecil, tapi kami niati jihad kami untuk membendung kelompok radikal yang prakteknya ternyata  lebih banyak meresahkan ketimbang menenangkan.

[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar

kompas.com
Salam mas ulil...
Saya ikut sedih mendengar mas ulil dikirimi bom.  Bagi saya, kiriman bom oleh orang mesterius itu adalah bentuk kegagalan untuk bahagia. orang yang dijangkiti perasaan paranoid yang selalu melihat sekeliling, apalagi yang berbeda, sebagai ancaman. Bisakah disebut bahagia, jika hidupnya selalu merasa terancam? Kalau bahagia, kenapa mesti ngebom?

Jika mau jujur mas ulil, sebenarnya yang menjadi korban bukan mas. Tapi pikiran orang itu sendiri. Pikiran yang kejernihannya sudah kabur. Sulit dibedakan dengan hawa nafsu. Meski itu harus dibungkus oleh keyakinan sekalipun. Tapi sudahlah. Si mesterius sudah kalah. Setidaknya kalah sama hawa nafsunya sendiri yang menuntunnya melakukan kejahatan kemanusiaan. Saya yakin, mas ulil pasti tegar. Setegar perjuangan mas ulil yang sedikit saya tahu.

Mas ulil tidak kenal saya, tapi saya kenal mas ulil. Pada tahun 1993 ketika saya masih kuliah di IAIN (sekarang UIN) Ciputat, saya pernah bertemu dengan mas ulil di sebuah kelompok kajian. Kalau tidak salah waktu itu lagi ikut dialog bersama franz magnis susesno. Ketika itu mas ulil masih belum setenar sekarang. Malah mas ulil, ketika itu (maaf) masih “culun”.

Lambat tapi pasti, mas ulil makin dikenal. Bersama kawan-kawan lain, mas ulil membentuk forum kajian 164 yang bermarkas di kantor PBNU. Sesekali mas ulil menulis di media nasional atau jurnal. Tulisan mas ulil memang kritis. Menukik. Saya masih ingat, salah satu tulisan yang pernah saya baca berjudul “Mega Politik Vs Politik Mega”. Sebuah tulisan yang mencermati kondisi politik di era orde baru, people power yang digalang megawati soekarno poetri dan struktur mega politik yang dibangun orde baru.

Saya mengakui mas ulil seorang memang pembelajar sepanjang hayat sebagaimana umumnya para santri yang haus ilmu. Mas ulil tidak pernah letih melakukan ziarah intelektual. Sejak literatur arab klasik hingga kontemporer dibaca habis. Kitab itu disandingkan dengan pemikiran Marx, Hegel, Madzhab Frankfut hingga pemikir Posmo. Tak heran jika pemikiran mas ulil eklektik. Saling serap bahkan saling-silang karena literatur mas ulil memang sangat kaya. Melampaui bacaan para santri biasa.

Mas ulil yang terhormat...
Saya yakin sebagaimana santri yang lain, mas Ulil pasti mengeidolakan Gus Dur. Gus Dur sosok idola yang telah meretas batas-batas yang selama ini menghambat pemikiran santri. Dialah yang mendorong santri berani hidup dalam “kultur hybrid”.

Pada saat pemerintah orde baru Gus Dur menjadi simbol kekuatan civil society. Gus Dur menjadi simbol perlawanan. Dan mas Ulil yang haus akan perubahan ada di belakangnya. Wajar, jika mas Ulil di Muktamar Cipasung membela Gus Dur yang ketika itu didhalimi oleh pemerintah orba. Saya yang kebetulan hadir waktu itu melihat mas Ulil membakar salah satu koran nasional yang menjadi corong penguasa dan mendiskriditkan Gus Dur. Bahkan saya ketika itu sempat ngobrol bersama mas Ulil.

Setelah orde baru tumbang diganti rezim reformasi, mas ulil menginisiasi lahirnya  Jaringan Islam Liberal (JIL). JIL menyita perhatian orang. JIL sering memunculkan gagasan kontroversial. Karena sering memunculkan gagasan kontroversial, kelompok tertentu memandang JIL sebagai “jaringan iblis”, sesat, dan halal darahnya untuk dibunuh. Belum lagi tuduhan bahwa JIL memperoleh dana dari “agen-agen kapitalis”. Kelompok ini di setiap kesempatan mengampanyekan JIL sebagai kelompok sesat yang harus dijauhi.  Meski saya berbeda dalam banyak hal dengan mas Ulil, sungguh saya ngeri mendengar kata-kata “sesat”, “kafir”, dan “murtad” yang begitu mudah diucapkan kepada sesama muslim.

Mas Ulil..sebagai seorang yang sekarang hidup di desa, memang dalam banyak hal saya memiliki pemikiran yang tidak sama dengan mas Ulil. Gagasan-gagasan JIL terlalu rumit, abstrak, dan tidak membumi. Lebih banyak membingungkan dari pada mencerahkan. Setidaknya kepada orang kampung seperti saya. Maklum, meski pendidikan saya dihabiskan di pesantren, saya tidak menguasai literatur arab klasik. Atau literatur kontemporer sebagaimana sering dirujuk mas Ulil. Dalam kebodohan saya wajar jika saya tidak sepenuhnya memahami, untuk kepentingan siapa sebenarnya pemikiran JIL dikampanyekan?

Saya setidaknya memiliki pertanyaan dalam beberapa hal. Pertama, kata “liberal” dalam JIL, apakah ikut melapangkan ideologi neo-liberalisme dalam bidang ekonomi di Indonesia? Maaf, dulu (lupa tanggalnya) saya sempat kaget ketika  JIL ikut menandatangani pernyataan menyetujui pengurangan subsidi BBM yang dilakukan pemerintah SBY bersama NGO lainnya.  

Kedua, gagasan demokrasi, HAM, pluralisme, dan gender yang dipraktekkan di Indonesia haruskah sama dengan konsep sebagaimana dipahami  negara eropa dan amerika? Bagi saya, secara sosiologis, permasalahan agak pelik. Konteks sosial-budaya masyarakat Indonesia tidaklah sama dengan masyarakat eropa atau amerika. Gagasan-gagasan itu tidak bisa begitu saja asal comot kemudian diadopsi tanpa ada modifikasi. Apalagi sampai di embeli-embeli Islam. Inilah mungkin penyebab, kenapa gagasan JIL ditolak oleh banyak kalangan. Termasuk masyarakat NU, dimana mas ulil dibesarkan. Bedanya, kalau masyarakat NU tidak sampai menyesatkan atau mengkafirkan. Karena wilayah “sesat dan kafir” dipandang sebagai wilayah Allah.

Ketiga, kadang-kadang gagasan yang disuarakan JIL berlangsung dalam “seolah-olah gawat”. Saya menyontohkan persoalan pluralisme. Sebenarnya permasalahan di bawah tidak segawat yang diwacanakan. Di rumah saya, biasa “warga keturunan” yang non-muslim ikut tahlilan ketika ada tetangganya yang meninggal. Tentu dia tidak ikut baca. Cukup duduk sebagai bagian dari rasa duka dia terhadap tetangganya yang meninggal. Kata teman saya, justru semakin pluralisme diwacanakan, seolah-olah persoalan pluralisme semakin gawat. Pada hal realitasnya tidak gawat. Hanya di wilayah-wilayah tertentu mungkin memang gawat.

Itulah tiga uneg-uneg saya untuk JIL mas Ulil. Tetapi meski berbeda, saya harus menghargai mas Ulil. Saya juga tidak setuju sama orang yang begitu mudahnya melebeli orang yang berbeda sebagai “murtad”, “kafir”, atau “sesat”. Tak pantas saya melakukannya. Apalagi hanya karena tidak setuju harus melakukan ancaman atau melakukan kekerasan. Atas alasan apapun, ideologis atau politis, kekerasan tidak bisa dibenarkan.

Mas ulil yang terhormat...
Rupanya mas sekarang sudah tertarik masuk wilayah politik. Tak tanggung-tanggung mas menjadi Ketua Pusat Pengembangan Strategi dan Kebijakan pada kepengurusan PD 2010-2015. Mas masuk dalam partai penguasa yang kebijakannya semakin dipertanyakan oleh masyarakat. Mas masuk lingkaran kekuasaan yang kebijakan ekonominya sangat neo-liberal.

Tetapi saya tetap “berbaik sangak”, mas Ulil pasti melakukan banyak hal masuk dalam struktur kekuasaan. Tentunya untuk kesejahteraan rakyat. Apalagi mas Ulil memiliki akses langsung untuk mendesain kebijakan pemerintah saat ini dilihat dari jabatan mas Ulil.

Terakhir mas...Saat saya mengikuti dialog Gus Mus, mertua mas, di sebuah pondok pesantren di Sumenep, ada yang mempertanyakan keterlibatan mas ulil di JIL. Gus Mus (semoga saya tidak salah mendengar) menjawab begini, “saya tidak merisaukan keterlibatan Ulil  di JIL, yang penting Ulil tidak boleh berhenti belajar. Jika berhenti belajar, orang akan jatuh pada kesombongan”.

Meski saat ini mas Ulil sedang kena musibah, tak perlulah mas Ulil risau. Mas Ulil harus tetap tegar. Juga jangan berhenti berproses, jangan berhenti belajar. Semua pasti ada hikmahnya mas..

Demikian surat duka saya...

Salam dan matorsakalangkong
[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar

blogor.com
Salah satu ormas yang tuntas menjadi Indonesia adalah NU. Bagi NU, Indonesia sebagai rumah bersama  dalam bingkai NKRI sudah final. Tak ada niat ingin mendirikan negara Islam (di) Indonesia. Pada tahun 1984, dalam muktamarnya di Situbondo, NU menegaskan posisinya justru ketika ormas lain sempoyongan mau menerima atau tidak. Menariknya NU menjawab dengan tradisinya; khazanah pemikiran fiqih. Salah satu argumen diambil dari kaidah ushul fiqh : Ma laa yudraku kulluhu laa yutraku kulluhu (apa yang tidak dicapai semua, jangan ditinggalkan semua).

Bertolak belakang dengan NU, banyak kelompok-kelompok keagamaan saat ini yang belum tuntas menjadi Indonesia. Bagi mereka, Indonesia belum selesai. Indonesia belum final dan masih dalam proses. Pada akhirnya pancasila sebagai cammon flatform bangsa ini harus diganti. Mereka menawarkan negara agama. Ini sesuai dengan diktum yang diperjuangkannya bahwa Islam adalah al-din wa al- daulah. Islam bagi mereka adalah agama dan kekuasaan sekaligus.

Gerakan mereka sangat massif. Di samping memanfaatkan media, juga gerakannya berlangsung secara rapi membentuk jaringan yang kuat dan diam-diam. Merasuk ke segala kelompok melintasi batas-batas usia, profesi, dan gender. Bahkan menyusup ke kelompok yang jelas-jelas memiliki ideologi berbeda. Menyusup langsung ke dalam basis-basis kultural ormas semisal NU dan Muhammadiyah. Juga bergiat dalam jagat politik praktis dengan menyembunyikan agenda jangka panjangnya.

Metodologi yang digunakan oleh kelompok ini sangat sering tidak bersahabat. Bahasa kasarnya, seringkali mereka menggunakan cara-cara kekerasan. Baik kekerasan fisik  –seperti yang terjadi di Cikeusik dan Temanggung, maupun kekerasan ideologis, misalnya menyerang orang seagama yang tidak sepaham sebagai pemuja bid’ah, sesat, atau bahkan kafir.

Sungguh patut disesali, upaya bangsa kita yang tengah berupaya keluar dari krisis direcoki oleh kelompok kegamaan yang justru menghunjam jantung bangsa kita, PANCASILA. Pada hal fakta berbicara bahwa mayoritas rakyat menganggap Indonesia dengan pancasilanya sudah final. Dua ormas keagamaan terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah, juga setia mengawal bangsa ini.

Kegeraman rakyat juga diarahkan pada negara yang abai menuntaskan masalah kekerasan atas nama agama. Bahkan saat ini tengah menyebar berita yang dirilis Komnas HAM bahwa kasus kekerasan beberapa hari lalu direkayasa (baca  di sini ). Jika ini benar, tentu Indonesia –yang di mata mayoritas rakyat Indonesia sudah final— memperoleh tantangan yang sangat luar biasa.  Dugaan bahwa ada konspirasi di belakang kekerasan atas nama agama akan semakin menguat. Tak ada alasan lain, untuk membuktikan citra yang tertanam kuat di benak rakyat salah, saatnya negara bertindak terhadap kelompok yang merecoki NKRI.
[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 3 komentar


jepretan M. Mustov
Setiap kali mengikuti kegiatan resmi NU, pasti akan ada rangkaian acara pendahuluan yang urutannya sebagai berikut :  al-fatihah, qiraat, shalawat, dan lagu kebangsaan. Ini adalah khas NU. Setahu saya, hanya di acara-acara NU yang seperti ini ada.
Al-fatihah dibacakan dengan harapan pahalanya disampaikan kepada Rasulullah, para sahabat, tabi’in, tabiit tabi’in, para auliya, syuhadah, para ulama, guru-guru, orang tua, dan seluruh kaum muslimin. Ketika yang mimpin mengucapkan “alfatihah”, hadirin menyambut dengan membaca surah al-fatihah secara bersama-sama. Diyakini, pembacaan al-fatihah  ini akan sampai kepada yang dituju.
Setelah itu diteruskan dengan pembacaan ayat alqur’an. Ketika dibacakan suasana seakan senyap. Semua hadirin merapatkan batin kepada Allah, melalui suara qori’ yang membaca ayat al-Qur’an dengan sangat merdu. Bahkan ketika sampai pada kondisi batiniah dan kekhusukan yang dalam, sebagian hadirin ada yang “berteriak” menyebut nama Allah. Kondisi batin yang khusuk meledak, tak mampu membendung bah kerinduan pada yang  Ilahi. Biasanya ini terjadi di saat sang qori’ jeda mengatur nafas untuk membaca ayat selanjutnya.
Habis qira’ah, hadirin secara bersama-sama membaca shalawat. Pembacaan ini biasanya dipandu oleh qori’ yang tadi membaca ayat-ayat alqur’an. Tapi kadang oleh orang yang berbeda. Pembacaan shalawat ini adalah ekspresi kecintaan yang begitu dalam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya. Diyakini, ketika membaca shalawat (barzanji), roh Nabi Muhammad hadir (atau dihadirkan?) ke tengah majelis.
Setelah shalawat, baru menyanyikan lagu kebangsaan. Lo... apa hubungannya? Inilah cara NU yang selalu kreatif mempertautkan agama yang diyakininya dengan lokalitas. Lagu kebangsaan yang (pasti) dibacakan di setiap acara resmi NU, seakan membangun imagi (warga) NU untuk tetap mengawal politik kebangsaan. NKRI dengan pancasilanya, bagi NU adalah final. Dan dalam sejarah, politik kebangsaan yang dimainkan NU tak pernah surut. Mungkin NU satu-satunya organisasi yang paling setia mengawal Pancasila dan bangsa ini.
Yang paling krusial, pada tahun 1984. Saat itu ketika organisasi masyarakat yang lain masih “ruwet” menegosiasikan hubungan agama dan negara, NU di muktamar Situbondo yang pertama menerima Pancasila sebagai asas organisasi. Alasan mudahnya ketika itu seperti ini, “ibarat kita makan sejak dahulu, kok baru sekarang mau dipersoalkan status hukumnya, halal apa haram makanan itu”.
Tentu tidak sesederhana itu jawabannya. Perdebatannya sangat alot. Saya membayangkan, para kiai membongkar seluruh khazanah kitab kuning yang selalu menjadi rujukan, sebelum mengambil keputusan. Hasil keputusannya berahir “happy ending”, NKRI dengan Pancasilanya merupakan harga final dari perjuangan umat Islam.
Inilah dasar lagu kebangsaan “bertemu” dengan Al-fatihah, qira’ah dan shalawat di acara-acara resmi NU.
[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar


Bermula dari keprihatinan terhadap perekonomian warga NU, pada tahun 2004 MWC NU Gapura Sumenep Madura merintis pendirian Baitul Maal wa Tamwil. Saat itu warga NU, mayoritas warga NU di lapisan paling bawah, banyak yang menjadi korban praktek rentener.

Untuk membuktikan, pengurus NU saat itu mengadakan penelitian sederhana. Data yang ditemukan mencengangkan. Di satu bank harian saja, korbannya mencapai 3.311 orang. Mereka harus mengembalikan pinjaman dengan bunga sampai 50% . Hitungannya seperti ini, jika mereka meminjam uang 100 ribu, mereka dikasih 90 ribu. Sementara yang 10 ribu digunakan untuk uang administrasi. Pelunasannya diangsur setiap hari dengan membayar 5 ribu/hari selama satu bulan. Jadi,mereka pinjam 90 ribu tapi harus bayar 160 ribu.

Upaya pendiriannya tidak mudah. Warga NU, bahkan pengurusnya, banyak yang pesimis BMT akan berhasil. Tetapi ada dua orang yang tidak kenal menyerah. Dua orang ini secara door to door mendatangi pengurus NU dan melobi madrasah-madrasah dan pesantren-pesantren sekitar agar menyimpan uangnya di BMT.

Usaha dua orang yang tahan banting ini membuahkan hasil. Jika Modal awal BMT ini pada tahun 2004 hanya 400 ribu, satu tahun berikutnya memiliki anggota 51 orang dengan nasabah 227 orang, dan asset 17,5 juta.

Setelah 6 tahun perkembangannya, BMT NU Gapura mengalami kemajuan pesat. Masyrakat percaya sama BMT NU karena dikelola secara profesioanal. Saat ini BMT NU Gapura memiliki asset 2 milyar 180 juta, 910 anggota, 1.209 penabung, dan 5.819 peminjam. Jika awalnya karyawan hanya dua 2 orang, sekarang telah memiliki 14 karyawan.

Dalam meluncurkan produknya, BMT NU Gapura sangat cerdik. Istilah yang digunakan dicari yang mudah diingat seperti SIAGA (simpanan Anggota), TABAH (tabungan mudharabah), TIARA (tabungan investasi ramelan), SIDIK FATONAH (simpanan pendidikan fathonah), TARAWI (Tabungan ukhrawi).

Untuk penyaluran dana/pembeayaan, produk yang dikenalkan adalah Bai’ Bits Tsamani al-Ajil (BBA), murabahah, mudlarabah, musyarakah, al-Qardul Hasan, dan Rahn (Gadai). Sementara untuk produk jasa BMT NU Gapura menawarkan, transfer uang ke seluruh bank indonesia dan luar negeri, pembayaran rekening PLN, telepon, dan internet, pembayaran beaya pendidikan perguruan tinggi, dan sewa mobil.

Kerja keras pengurus NU Gapura saat ini telah menuai hasil. Dalam 6 tahun perkembangannya BMT telah menjadi kebanggaan warga NU. Saat ini BMT NU Gapura sering menjadi lokasi studi banding BMT lain, bahkan dari luar daerah. Dalam sebuah kunjungannya ke MWC NU Gapura beberapa bulan lalu, Prof. Dr. Kacung Marijan mengatakan kebanggaannya. Menurutnya, tak banyak MWC NU yang memiliki BMT seperti ini di Jawa Timur. Malah BMT NU Gapura ini mungkin satu-satunya (dardiri)


[ Read More ]

Posted by rampak naong - - 0 komentar

sumber: tribun
Kecemasan timbul tenggelam menjelang acara pertemuan pemangku kepentingan migas  (29/8) yang difasilitasi PCNU Sumenep. Betapa tidak.  Pertemuan  pemangku kepentingan ini didahului oleh peristiwa “anarkhis” beberapa hari sebelumnya dimana warga sekitar lokasi membakar diesel alat uji seismik milik SPE Petroleom. Beberapa warga –sebagian tokoh masyarakat—sempat dipanggil Kapolres untuk dimintai keterangan. Syukur akhirnya bisa dipulangkan dan tak ada satu pun yang ditahan.

Setengah jam sebelum acara dimulai, wakil SPE Petroleum  datang menggunakan kendaraan mewah seperti pick up,  bermerk Nissan Terrano. Ada dua mobil yang datang, meski yang diundang hanya 1 orang. Setelah itu Kapolres dengan menggunakan mobil dinasnya, disusul Dandim, anggota DPRD, pemda, dan beberapa pengurus NU. Sementara yang mewakili masyarakat belum juga muncul, termasuk Forkim (Forum Kiai Muda) yang selama ini getol menyuarakan penolakan terhadap rencana eksplorasi migas, dan diduga terlibat dalam aksi pembakaran alat uji seismik sebelumnya.

Saya lihat beberapa orang SPE Petroleum nongkrong di depan kantor NU. Seperti berjaga-jaga. Atau mungkin saja saya yang terlalu cemas, karena hawatir konflik SPE Petroleum-masyarakat justru pindah ke kantor NU.

Tidak lama saat acara dimulai, sekitar jam 13.30 , wakil dari Forkim datang. Forkim datang sesuai dengan jumlah yang diundang, sekitar 5 orang. Rasa was-was bahwa Forkim akan datang besama warga, ternyata tidak tepat.

Kecemasan tahap pertama usai. Tapi kecemasan berikutnya muncul. Kehawatiran saya,  suasana dalam pertemuan akan berlangsung  panas, keras, dan menguras pikiran. Ternyata salah. Di tangan NU,  masalah berat bisa diselesaikan dengan guyonan dan ger-geran. Inilah tradisi NU, yang belakangan ini meski melemah, ternyata menguat kembali dalam suasana pertemuan itu.

KH. Ahmad Basyir AS, Rois Syuriah,  yang memberikan sambutan waktu itu menegaskan bahwa NU tidak dalam posisi mendukung dan menolak rencana eksplorasi migas di Sumenep. Sepenuhnya diserahkan kepada masyarakat. Tugas NU adalah mendukung apa yang menurut  masyarakat  baik. Jika masyarakat menolak, NU akan menolak. Demikianpun sebaliknya.

Acara inti dimulai. Ketua PCNU, HA. Pandji Taufik, yang menjadi pemandu. Ketua NU yang suka goyun ini bisa memandu dengan santai tanpa kehilangan substansi masalah yang sedang diurun-rembukkan. Pandji menegaskan bahwa pertemuan kali ini hanya ingin meminta informasi dan klarifikasi terkait dengan kasus pembakaran alat uji siesmik SPE-Petroleum. Menurutnya, bukan hanya pembakarannya, tetapi konteks kenapa alat uji siesmik itu dibakar, sangat penting dikuak.

Dari hasil sharing dalam pertemuan multi-stakeholder itu nampak sekali bahwa SPE-Petroleum terpojok. Secara prosedural meski SPE Petroleum benar telah mengantongi ijin dari pemerintah pusat soal uji siesmik, tetapi SPE Petroleum telah gagal melakukan sosialisasi terhadap masyarakat sekitar lokasi. Gagalnya sosialisasi menyebabkan masyarakat melakukan “perlawanan”, karena banyak hal gelap yang masih menghantui masyarakat. Misalnya, soal kehawatiran seperti Lapindo. Adakah pihak yang bisa meyakinkan masyarakat untuk memberikan jaminan dan mengambil tanggungjawab jika benar-benar terjadi? Ini bukan semata soal ilmu pengetahuan, tetapi soal psikologis.

Bahkan dalam pertemuan itu terungkap, seorang pemilik tanah bersaksi belum pernah dihubungi oleh SPE Petroleum yang tengah mengadakan uji siesmik di tanah yang menjadi haknya. Meski SPE Petroleum menyatakan sudah mengadakan sosialisasi melalui jalur birokrasi kecamatan dan pemerintah desa, ternyata yang hadir tidak cukup representatif karena hanya melibatkan aparat birokrasi dan orang-orang kepala desa yang pro.

Darul, anggota komisi B DPRD Sumenep, secara kritis mengatakan bahwa persoalan tanah bukan sekedar menyangkut kerugian secara materi tetapi yang tak kalah penting menyangkut kerugian sosial-budaya. Ada persoalan-persoalan besar yang tidak melulu bisa diselesaikan melalui cara-cara prosedural. Apalagi menyangkut “tanah sangkolan” yang tidak saja menghubungkan pemilik dengan tanahnya, tetapi juga dengan leluhur yang mewariskannya. Jadi benar, jika dalam tanah juga ada harga diri. Maka kesalahan besar bagi SPE-Petroleum “mengacak-acak” tanah rakyat dengan alasan prosedural untuk melakukan uji siesmik.
Forkim –Forum Kiai Muda yang garang menyikapi rencana ekspolarasi migas—membedahnya dari sudut jejaring kapitalisme migas, yang ujung-ujungnya pasti akan merugikan masyarakat Madura. Ini adalah bentuk usaha untuk “membangun di Madura” bukan “membangun Madura”.

Tetapi semua yang hadir juga menolak cara-cara “anarkhis” seperti dilakukan oleh forkim. Seorang tokoh masyarakat dengan tegas bilang, “ saya sangat tidak setuju dengan Forkim yang mengadakan anarkhis itu”, katanya diiringi tawa yang hadir.

Meski demikian, anarkhisme yang dilakukan Forkim dan sebagian warga itu harus dilihat dalam konteks yang lebih luas. Ada proses dan ada sebab-sebab kenapa tindakan anarkhis itu terjadi. Sosialisasi dan komunikasi SPE Petroleum yang buruk dengan masyarakat sekitar lokasi migas menjadi the main factor kenapa masyarakat melakukan perlawanan.

Pengalaman berulang-ulang di banyak tempat, ternyata tidak menjadi pelajaran bagi penguasa dan pemodal. Selalu saja pembangunan dilihat dari fungsi ekonominya. Sama sekali dilepaskan dari fungsi sosial-budayanya. Pada hal pembangunan yang melulu berbasis kepital dan abai terhadap persoalan sosial-budaya, gagal memartabatkan rakyat,  lebih-lebih di sekitar lokasi migas.

Maka di akhir pertemuan itu, NU merekomendasikan perlunya uji siesmik sementara DIHENTIKAN hingga sosialisasi dan komunikasi yang melibatkan masyarakat di lokasi migas betul-betul dilakukan. Jika ada dampak lingkungan, lebih-lebih dampak yang bersifat sosial budaya, masyarakat yang pertama kali akan  menjadi korban. Sementara SPE Petroleum atau korporasi yang memenangkan tender untuk eksplorasinya, pasti menggunakan strategi kick and rush.

Apa yang dilakukan NU di atas tentu hanya sumbangan kecil. Tapi sekecil apa pun melawan kapitalisasi migas yang seringkali tidak memartabatkan manusia dan kemanusiaan, toh tetap harus dilakukan. Dan NU sudah memulai dan akan terus dilakukan. PCNU Sumenep sudah sepakat memfasilitasi pertemuan warga di sekitar lokasi untuk mendorong mereka bersuara.
[ Read More ]